Pesan Rahbar

Sekilas Doa Arafah Imam Husain as dan Doa Arafah Imam Husain as

Doa Arafah (Bahasa Arab: دعاء العرفة ) adalah diantara doa-doa Syiah yang menurut riwayat dibaca oleh Imam Husain as pada hari ke-9 Dzul...

Home » , » Bendera Hitam Para Ekstremis Dalam Perayaan Krismas/ Apa Yang Dikatakan Al-Quran?

Bendera Hitam Para Ekstremis Dalam Perayaan Krismas/ Apa Yang Dikatakan Al-Quran?

Written By Unknown on Rabu, 27 Desember 2017 | Desember 27, 2017


25 Desember bertepatan dengan hari kelahiran Isa al-Masih (as), umat Kristen sedunia sedang merayakan hari kelahiran ini, sementara itu sebagian para dai meniupkan fatwa-fatwa kontroversial tentang hal ini.

Menurut laporan IQNA, Krismas (Natal) adalah sebuah perayaan dalam ajaran Kristen guna merayakan hari kelahiran Isa al-Masih (as). Banyak sekali anggota gereja Katolik Roma dan para penganut ajaran Protestan merayakan Krismas pada tanggal 25 Desember dan sebagian lainnya juga merayakannya pada malam 24 Drsember.

Mayoritas anggota gereja Ortodoks di seantero dunia juga memperingati tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Isa al-Masih (as).

Sebagian umat Kristen Ortodoks di Rusia, Ukraina, kawasan suci (kawasan bersejarah Palestina) dan tempat-tempat lainnya, dikarenakan mengikuti Kalender Julius, mereka menyelenggarakan perayaan Krismas pada tanggal 7 Januari. Gereja Apostolik Armenia berdasarkan tradisi tunggalnya, menyelenggarakan pesta acara hari kelahiran Isa al-Masih pada tanggal 6 Januari bersamaan dengan hari mandi Pembaptisan.

12 hari Krismas dimulai dengan hari kelahiran Isa Al-Masih dari tanggal 25 Desember dan terus berlanjut sampai perayaan Epifani (Hari Raya Penampakan Tuhan) pada tanggal 6 Januari. Kendati hari raya terpenting agama dalam kalender Kristen adalah hari raya Paskah sebagai hari tersalibnya dan hari kebangkitan Yesus, banyak sekali khussunya di sejumlah negara USA dan Kanada, menganggap Krismas adalah fenomena tahunan terpenting Kristen. Meski hari ini dikenal sebagai sebuah hari raya keagamaan, di awal-awal abad keduapuluh Masehi secara besar-besaran diselengarakan sebagai sebuah perayaan non agamis dan bagi kebanyakan masyarakat, hari-hari ini adalah sebuah peluang untuk berkumpulnya sanak kerabat dan family serta saling memberi hadiah. Krismas diselenggarakan dengan ritual khusus semisal menghiasi pohon cemara dan tokoh imajiner Santa Claus memiliki peran penting di sini.


Awal Konflik

Setiap tahun dengan dimulainya tahun baru masehi, di dunia Arab dan negara-negara Islam telah muncul kontroversi terkait merayakan atau tidak merayakannya umat muslim dan partisipasi mereka di acara Natal dan kontroversi ini sampai pada batas bahwa banyak sekali dari mereka dalam berpartisipasi pada acara Natal dan atau merayakan hari raya Kristen ini bersama umat Kristen tertimpa keraguan dan menanyakan dirinya apakah diperbolehkan merayakan hari kelahiran Al-Masih oleh umat muslim dan mengucapkan hari natal kepada orang lain?

Sementara itu, gate.ahram memublikasikan sebuah pembahasan mernarik dan dengan mengisyaratkan pengharaman yang tidak dapat ditolerir perayaan Natal oleh sebagian muslim dan para ulama ekstrem menuturkan, sebagian canel satelit dunia Arab bertepatan dengan hari akhir tahun 2017, mengharamkan perayaan tahun baru oleh umat muslim dan memberikan respon pada mereka dan mengharamkan dan tidak memperbolehkannya, dengan justifikasi bahwa Rasulullah (saw) dan para sahabat tidak menyelenggarakan perayaan semacam ini.

Cannel ini sampai pada batas tidak membolehkan partisipasi umat muslim Mesir dalam perayaan Krismas masyarakat Qibti (umat Kristen Mesir) dan meluncurkan kampanye pengharaman Krismas di sosial media dan dengan penjelasan bahwa Krismas adalah hari raya non Islam, dan menghimbau umat muslim agar tidak ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.

Dalam situasi semacam ini, Darul Ifta’ mesir memberikan respon dan dengan gamblang mengumumkan bahwa perayaan umat muslim bertepatan dengan hari Isa al-Masih adalah legal dan tidak haram, karena menunjukkan kegembiraan dan kebahagiaan.

Dari sisi lain, memperingati Krismas membantu perdamaian dan persahabatan antar umat serta menghilangkan kebencian dan kekerasan; sementara itu sebagian syaikh dan ulama ekstrem dunia telah mengharamkannya dan bangkit melawan para nabi perdamaian, kasih sayang, konflik dan perpecahan antar agama dan mengibarkan bendera hitamnya untuk mengharamkan perayaan tahun baru Masehi dan atau bahkan mengucapkan selamat kepada umat Kristen.


Pelopor Penentang Krismas

Diantaranya adalah Yusuf Abdullah al-Qaradawi, mufti Mesir, termasuk salah seorang yang masuk dalam daftar para penentang Krismas dan dengan menegaskan keharaman Krismas, juga menyerang persiapan penyelenggaran Krismas di sejumlah ibukota Arab dan Islam.

Yusuf Abdullah al-Qaradawi

Al-Qaradawi dengan melihat bahwa perayaan Krismas sebagai sebuah gerakan untuk persatuan antar umat dunia, tak lain adalah sebuah deduksi martabat umat Islam! Penjualan pohon Natal di pusat-pusat perbelanjaan juga dikritik dan di salah satu khotbahnya juga berkata kepada umat muslim, kenapa kalian merayakan untuk sebuah agama selain dari agamamu (Kristen); sementara mereka telah menzalimi kita dan melarang kita untuk melakukan syiar-syiar Islam dan melarang pembuatan menara (mengisyaratkan tentang pembuatan menara di masjid Swiss).


Kemusyrikan Krismas

Muhammad al-Arifi, Syaikh asal Saudi dan Wahabi juga menyebut parayaan Natal sebagai sebuah kesyirikan dan baru-baru ini telah mengumumkan hal ini dalam twittnya dan bahkan melarang mengucapkan selamat untuk umat Kristen dan memberikan hadiah kepada mereka bertepatan dengan hari Natal; namun yang menarik adalah membolehkan memberikan hadiah kepada umat Kristen di selain hari Natal.

Muhammad al-Arifi


Fatwa Dai Kontroversial

Yasir Barhami, dai salafi ekstrem Mesir juga termasuk tokoh lainnya yang mengharamkan perayaan Natal dan mengucapkan selamat kepada umat Kristen dan telah memublikasikan hal ini di situs internet resmi al-Dakwah al-Salafiah Mesir, yang dikenal sebagai tokoh salafi fatwa ekstrem.

Yasir Barhami



Bid’ah Haram

Hatim Abu Ishaq al-Huwaini, anak Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini termasuk ekstremis salafi Mesir lainnya yang masuk dalam daftar pengharam dan dalam sebuah fatwanya menyebut perayaan Natal adalah sebuah bid’ah yang diharamkan dan di laman Facebooknya mengumumkan, umat muslim memiliki dua hari raya; Idul Fitri dan Adha serta hari Jum’at, yang menjadi hari raya pekanan umat muslim dan selain dari ini adalah bid’ah dan haram.

Hatim Abu Ishaq al-Huwaini

Ia menambahkan, merayakan tahun baru Masehi tidak diperbolehkan dan wajib bagi umat muslim yang meyakini Allah dan Rasul-Nya untuk menjauhi hal ini.


Tidak Islami

Syaikh Mustafa al-Adawi termasuk dai salafi Mesir lainnya yang mengharamkan Natal dan dengan menjustifikasi bahwa ini tidaklah Islami, juga menghimbau agar tidak berpartisipasi dalam perayaan ini.

Syaikh Mustafa al-Adawi


Apa Kata Alquran?

Dalam kondisi dan situasi semacam ini, melihat pada ayat-ayat Alquran dan ajaran-ajaran otentik Islam akan dapat memberikan jawaban yang tepat terhadap para pengharam Natal dan memudarkan fatwa-fatwa khusus yang memiliki banyak penganut dan memundurkan mereka.

Koeksistensi agama juga sebuah opini otentik Islam dan beragam ayat-ayat Alquran menegaskannya dengan beragam bentuk, dengan mengafrimasi dan sangat gamblang, sementara itu di empatbelas abad silam, makna Koeksistensi Religious benar-benar suram untuk manusia. Menurut Alquran, perang agama dan perseteruan dikarenakan konflik-konflik akidah yang terlihat dalam sebagian agama lainnya tidaklah berarti. Demikian juga, dalam Alquran, dendam dan permusuhan terhadap para penganut agama lainnya amatlah dilarang dan menempuh cara-cara penistaan terhadap agama lain adalah sebuah cara non agamis.

Alquran, menyebut kelompok Kristen dan Yahudi yang menempuh jalan pengejekan dan pengkafiran terhadap selainnya, dengan merendahkan, ejekan dan menyia-nyiakan hak-hak manusia lainnya juga selalu mengobarkan api perang dan konflik. “Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya” (QS. Al-Baqarah: 113)

Demikian juga dalam menjawab para pengharam Natal, jika kita merujuk pada Alquran, maka akan kita jumpai ayat-ayat yang dengan gamblang menyeru pada koeksistensi dan interaksi dengan semua masyarakat dan diantaranya adalah surah Al-Mumtahanah ayat 8, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.


Ayat ini dengan gamblang menunjukkan bahwa interaksi dengan non muslim, berbuat baik dengan mereka dan bahkan memberikan hadiah kepada non muslim dan mengambil hadiah mereka tidak dilarang dan diperbolehkan.


Anjuran terhadap Ahli Kitab

Allah dalam Alquran bahkan kepada Ahli Kitab juga menganjurkan untuk memperhatikan urusan penting bersama-sama, “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri” (QS. Al-Ankabut: 46) “Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran: 64).


Pandangan Berbeda

Dalam Islam, pandangan terhadap para penganut Ahli Kitab dengan kaum musyirikan benar-benar berbeda. Dengan setiap dari mereka menggunakan kesusastraan tersendiri dan sama sekali tidak pernah menyamakan antara Ahli Kitab dengan kaum musyrikin.

Alquran telah berupaya semaksimal mungkin untuk publikasi moral dan nilai-nilai kemanusiaan di kalangan manusia; karenanya masalah moral telah dikhususkan dalam beragam ayat. Dengan demikian menyanjung manusia yang komitmen dengan moral kemanusiaan ini. Ahli Kitab juga tidak terkecualikan, dalam sebagian tempat mengafirmasi moral yang telah dilakukan mereka.

Ayat-ayat lainnya juga menyanjung sekelompok Ahli Kitab, yang dapat menjadi penyelamat bagi sebagian mereka. Diantaranya adalah: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al-Baqarah: 62) “Dan sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya” (QS. Ali Imran: 199)

(IQNA/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Share this post :

Posting Komentar

ABNS Video You Tube

Terkait Berita: