Daftar Isi Internasional Angkasa News Global

Advertising

Lyngsat Network Intelsat Asia Sat Satbeams

Pesan Rahbar

Sekilas Doa Arafah Imam Husain as dan Doa Arafah Imam Husain as

Doa Arafah (Bahasa Arab: دعاء العرفة ) adalah diantara doa-doa Syiah yang menurut riwayat dibaca oleh Imam Husain as pada hari ke-9 Dzul...

Tampilkan postingan dengan label ABNS NAHJUL BALAGHAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ABNS NAHJUL BALAGHAH. Tampilkan semua postingan

Nahjul Balaghah: Khotbah 29


Tentang Orang yang Berdalih di Masa Jihad

Wahai manusia, badan Anda bersama-sama, tetapi hasrat Anda cerai-berai. Percakapan Anda melunakkan batu yang keras sedang tindakan Anda menarik musuh kepada Anda. Pengakuan Anda dalam majelis Anda bahwa Anda akan melakukan ini dan itu, tetapi ketika pertempuran mendekat Anda berkata (kepada perang) untuk "berpalinglah Anda" (yakni larilah). Apabila seseorang memanggil Anda (untuk menolong), seruan itu tidak dipedulian. Dan orang yang berlaku keras pada Anda, hatinya tidak akan beroleh lipuran. Dalih-dalihnya salah seperti dalih penghutang yang tak mau membayar. Orang yang nista tak dapat mencegah kelaliman. Hak tak dapat dicapai tanpa usaha. Mana rumah selain rumah Anda ini yang harus dilindungi? Dan dengan pemimpin (imam) mana Anda pergi berperang sepeninggal saya? Tertipulah orang yang telah Anda tipu sementara.

Demi Allah, orang yang berhasil dengan Anda hanya menerima panah-panah yang tak berguna. Anda seperti panah-panah patah yang dilemparkan kepada musuh. Saya sekarang dalam kedudukan yang tidak mengukuhkan pandangan Anda dan tidak berharap akan dukungan Anda, tidak pula menantang musuh melalui Anda. Ada apa dengan Anda? Apa penyakit Anda? Apa obat Anda? Kalangan lain juga adalah manusia berbentuk seperti Anda (tetapi amat berbeda dalam karakter). Akan adakah pembicaraan tanpa pengetahuan, kelalaian tanpa kesalehan dan keserakahan akan sesuatu yang bukan hak?[i]


--------------------------------------------------------------------------------

[i] Setelah pertempuran Nahrawan, Mu'awiah mengutus Dhahhak ibn Qais al-Fihri dengan pasukan empat ribu orang ke Kufah dengan tujuan mengadakan keonaran di daerah itu, membunuh siapa saja, merajalela dalam pertumpahan darah dan penghancuran, supaya Amirul Mukminin gelisah dan tak tenteram pikirannya. Dhahhak berangkat untuk maksud itu, dan dengan menumpahkan darah orang-orang tak berdosa serta menyebarkan kehancuran di mana-mana, ia sampai ke Tsa'labiyyah. Di sini ia menyerang suatu kafilah haji dan merampok semua hak milik mereka. Kemudian di Quthquthanah ia membunuh kemenakan 'Abdullah ibn Mas'ud, sahabat Nabi, 'Amr ibn 'Uwais ibn Mas'ud, bersama para pengikutnya. Secara itu ia menimbulkan kekacauan dan pertumpahan darah di mana-mana. Ketika Amirul Mukminin mengetahui kejahatan dan bencana ini, ia memanggil orang bertempur untuk menghentikan vandalisme ini, tetapi nampaknya orang-orang mengelak untuk bertempur. Muak karena kelengahan dan tak adanya semangat mereka, ia naik ke mimbar lalu mengucapkan khotbah ini, di mana ia membangkitkan rasa malu dan mengajak mereka untuk tidak mengelak dari peperangan, melainkan bangkit untuk melindungi negara mereka sebagai orang berani, tanpa menggunakan dalih-dalih yang salah dan lemah. Akhirnya, Hujr ibn 'Adl al-Kindi bangkit dengan pasukan empat ribu orang untuk menghadapi musuh dan mendapatkannya di Tadmur. Hanya terjadi suatu pertarungan kecil antara kedua pihak, dan ketika malam tiba Dhahhak melarikan diri dengan hanya sembilan belas orangnya tewas. Di pasukan Hujr dua orang syahid.

(Al-Hassanain/Al-Mujtaba/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Nahjul Balaghah: Khotbah 28


Tentang Fananya Dunia dan Pentingnya Akhirat

Kemudian daripada itu, sesungguhnya dunia ini telah memalingkan punggungnya dan memaklumkan perpisahannya, sementara dunia yang akan datang telah muncul ke depan dan memaklumkan mendekatnya. Sekarang adalah hari persiapan sedang besok adalah hari perlombaan. Tempat yang dituju ialah surga sedang tempat tempat kembali adalah neraka. Tak adakah seseorang yang akan bertaubat atas kesalahannya sebelum kematiannya? Atau, tak adakah seseorang yang hendak berbuat kebajikan sebelum hari ujian?

Ingatlah, Anda berada di hari-hari harapan dan di baliknya berdiri kematian. Barangsiapa beramal dalam hari-hari harapannya sebelum datang kematiannya, amalnya akan bermanfaat baginya dan kematiannya tidak akan merugikannya. Tetapi, orang-orang yang tidak beramal dalam masa harapannya sebelum datang ajalnya, amalnya adalah sia-sia dan kematiannya adalah suatu kemudaratan baginya. Berhati-hatilah dan beramallah dalam masa ketertarikan sebagaimana Anda berbuat dalam masa kengerian. Berhati-hatilah, saya belum melihat seorang yang menghasratkan surga tertidur, dan tidak pula seorang yang merasa ngeri akan neraka terlelap.

Ingatlah, orang yang baginya hak tidak bermanfaat, akan menderita sengsara dari kebatilan, dan orang yang tidak dikukuhkan oleh petunjuk akan terbawa oleh kesesatan ke arah kehancuran. Berhati-hatilah, Anda telah diperintahkan untuk maju dan telah dibimbing bagaimana membekali perjalanan itu. Sungguh, hal yang paling menakutkan yang saya khawatirkan tentang Anda sekalian ialah mengikuti hawa nafsu dan memperpanjang harapan. Berbekallah untuk diri Anda dari dunia ini yang akan menyelamatkan Anda besok (pada Hari Pengadilan).

Sayid Radhi berkata: Apabila mungkin ada ucapan yang akan menyeret leher orang ke penolakan dunia ini dan memaksanya beramal bagi dunia yang akan datang, inilah khotbahnya. Khotbah ini cukup untuk memutuskan orang dari keterjaringan oleh harapan dan memicu api dakwah (untuk kebajikan) dan peringatan (terhadap kemungkaran). Kata-katanya yang paling menakjubkan dalam khotbah ini ialah, "Hari ini adalah persiapan sedang esok adalah hari perlombaan. Tempat yang dituju adalah surga sedang tempat kutukan adalah neraka," karena selain kehalusan kata-katanya, kebesaran maknanya, perumpamaan yang benar dan gambaran yang faktual, ada rahasia-rahasia yang menakjubkan dan siratan-siratan yang halus di dalamnya.

Dalam ucapannya bahwa tempat yang dituju ialah surga dan tempat kutukan adalah neraka, ia menggunakan dua patah kata yang berlainan untuk membawa dua makna. Untuk surga ia menggunakan perkataan "tempat yang dituju" (sabaqah), tetapi untuk neraka kata-kata itu tidak digunakan. Orang menuju ke suatu tempat yang disukainya dan dihasratkannya, dan ini hanya tepat bagi surga. Neraka tidak mengandung daya tarik sehingga orang tak suka menuju ke sana; kami memohon perlindungan Allah darinya. Neraka tidak pantas disebut sebagai "yang dituju". Amirul Mukminin a.s. menggunakan kata "tempat kembali" (ghaliyah) yang menyiratkan makna kediaman terakhir di mana orang sampai ke sana karena terpaksa, dalam sedih, cemas ataupun senang, mau atau tidak mau. Kata ini mampu menyampaikan kedua makna. Namun, ia harus diambil dalam pengertian mashfr atau ma'al, yakni tempat perhentian terakhir. Ayat Al-Qur'an, "Katakanlah, bersenanglah-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu (mashirakum) adalah (neraka)."(QS. 14:30). Di sini sabqatakum yakni "tempat yang Anda tuju" sebagai ganti kata mashfrukum. sama sekali tak akan tepat. Pikirkan dan renungkanlah itu, dan lihatlah betapa menakjubkan siratan batinnya dan betapa jauh kedalamannya berjalan serasih dengan keindahan. Ucapan Amirul Mukminin umumnya memang demikian. Dalam beberapa versi, kata sabaqah ditunjukkan sebagai subqah, yang digunakan untuk mengganjari pemenang dalam perlombaan. Namun, kedua makna ini saling berdekatan; suatu hadiah bukanlah bagi suatu perbuatan yang tidak diinginkan, melainkan untuk kinerja yang baik dan terpuji. •

(Al-Hassanain/Al-Mujtaba/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Nahjul Balaghah: Khotbah 27


Menyuruh Orang Berjihad

Jihad adalah salah satu pintu surga yang telah dibukakan Allah bagi sahabat-sahabat-Nya yang utama. la adalah baju takwa dan perisai pelindung dari Allah, dan perisai terpercaya-Nya. Barangsiapa meninggalkannya maka Allah membusanainya dengan busana kehinaan dan baju bencana. la ditendang dengan hina dan ejekan, dan hatinya ditirai dengan layar [kelalaian]. Hak akan diambil dari dia karena meninggalkan jihad. la akan menderita kehinaan, dan keadilan ditolak baginya.

Perhatikanlah, saya memanggil Anda untuk memerangi kaum ini, malam dan siang, secara rahasia dan terbuka, dan menyuruh Anda menyerang mereka sebelum mereka menyerang Anda, karena, demi Allah, tak ada kaum yang telah diserang di jantung rumah-rumah mereka, melainkan mereka menerima kehinaan. Tetapi Anda meninggalkannya kepada orang lain dan mengabaikannya sampai kehancuran menimpa Anda dan kota-kota Anda diduduki. Orang berkuda Bani Ghamid[i] telah sampai ke Anbar dan membunuh Hassan ibn Hassan al-Bakari. Mereka telah menyingkirkan orang berkuda Anda dari garnisun itu.

Saya telah diberitahu bahwa setiap dari mereka melecehkan perempuan Muslim dan perempuan-perempuan lain yang dalam perlindungan Islam, dan mengambil perhiasan mereka dari kaki, tangan, leher, dan telinga, dan mereka tak dapat melawannya kecuali dengan mengucapkan ayat, Inna lillahi wa inna ilaihi raji 'un. Kemudian mereka kembali dengan bermuatan kekayaan, tanpa luka atau kehilangan nyawa. Apabila seorang Muslim mati kesedihan setelah semua ini, ia tak boleh disalahkan; bahkan ada pembenaran baginya di hadapan saya.

Betapa aneh! Demi Allah, hati saya terbenam melihat persatuan kaum itu dalam kebatilan mereka, dan perpecahan Anda dari hak Anda. Celaka dan kesedihan menimpa Anda. Anda telah menjadi sasaran ke mana panah ditembakkan. Anda sedang dibunuh dan Anda tidak membunuh. Anda diserang, tetapi Anda tidak menyerang. Allah sedang didurhakai dan Anda menyetujuinya. Bilamana saya meminta Anda untuk bergerak menentang mereka di musim panas, Anda katakan bahwa udaranya panas, tangguhkan kami sampai panas mereda. Bilamana saya perintahkan Anda untuk maju dalam musim dingin, Anda katakan sangat dingin, berikan kami waktu sampai dingin menghilang dari kami. Ini semua hanyalah dalih untuk mengelakkan panas dan dingin, karena apabila Anda melarikan diri dari panas dan dingin, Anda akan melarikan diri (dalam ukuran lebih besar) dari peperangan.

Wahai Anda yang menyerupai manusia laki-laki, bukan laki-laki; akal Anda adalah akal anak-anak dan pikiran Anda adalah pikiran gadis pingitan. Saya berhasrat kiranya tidak melihat dan mengenal Anda. Demi Allah, perkenalan ini telah menimbulkan rasa malu dan mengakibatkan penyesalan. Semoga Allah memerangi Anda; Anda telah mengisi hati saya dengan nanah dan memuat dada saya dengan keberangan. Anda membuat saya meminum tegukan-tegukan penuh kesedihan satu demi satu. Anda meremukkan nasihat-nasihat saya dengan tidak menaati, dan meninggalkannya sedemikian rupa sehingga orang Quraisy itu mulai mengatakan bahwa 'Ali ibn Abi Thalib berani tetapi tidak mengetahui (siasat) perang. Allah memberkati mereka! Adakah seseorang di antara mereka lebih berani dalam peperangan dan lebih berpengalaman dalam hal ini daripada saya. Saya bangkit untuk itu sebelum saya berusia dua puluhan, dan di sini saya berada, setelah menyeberangi [usia] enam puluh; tetapi tak ada pandangan bagi orang yang tidak ditaati.•


--------------------------------------------------------------------------------

[i] Setelah Perang Shiffin, Mu'awiah menyebarkan pembunuhan dan perlumpahan darah di mana-mana, dan menjarahi kota-kota dalam wilayah Amirul Mukminin. Sehubungan dengan ini ia menugaskan Sufyan ibn 'Auf al-Ohamidi dengan pasukan berkekuatan enam ribu orang untuk menyerang Hait, Anbar dan Mada'in. Mula-mula ia tiba di Mada'in, tetapi ketika melihatnya sudah kosong ditinggalkan, ia terus ke Anbar. Di situ ada ditempatkan lima ratus tentara Amirul Mukminm sebagai penjaga, tetapi mereka tak dapat bertahan terhadap serangan tentara Mu'awiah itu. Hanya seratus orang yang bersiteguh pada posisi mereka dan berjuang sekuat kuasanya, tetapi dengan pengerahan scmua tentara musuh dan melakukan serangan besar, pasukan kecil itu tak mampu. Pemimpinnya Hassan ibn Hassan al-Bakri terbunuh bersama tiga puluh tentaranya. Ketika selesai pertempuran, musuh itu merampoki Anbar dengan merajalela dan meninggalkan kota itu dalam keadaan rusak binasa.

Ketika Amirul Mukminin menerima berita tentang serangan itu, ia naik ke mimbar dan meminta rakyat berjihad untuk menghantam musuh. Tetapi, tidak ada sambutan. la turun dari mimbar dengan perasaan muak dan cemas, lalu berangkat menghadapi musuh dengan berjalan kaki. Ketika rakyat melihat hal ini, harga diri dan rasa malu mereka tergugah, dan mereka pun turut serta. Amirul Mukminin berhenti di an-Nukhailah. Rakyat lalu mengelilinginya dan meminta kepadanya untuk kembali pulang, karena mereka saja sudah cukup untuk menghadapi musuh itu. Karena desakan mereka luar biasa, Amirul Mukminin menyetujuinya. Sa'id ibn Qais al-Hamdani maju dengan pasukan delapan ribu orang. Tetapi, Sufyan ibn 'Auf al-Ghamid telah pergi, sehingga Sa'id kembali tanpa pertarungan. Ketika Sa'id tiba di Kufah, Amirul Mukminin begitu sedih dan gelisah di hari-hari itu, sampai ia tidak ke mesjid, melainkan duduk di lorong rumahnya (yang menghubungkan jalan masuk ke mesjid) lalu menulis khotbah ini dan memberikannya kepada budaknya Sa'd untuk membacakannya kepada orang banyak. Ini versi Ibn Abil Hadid. Tetapi, al-Mubarrad (al-Kamil, I, h. 104-107) meriwayatkan dari 'Ubaidullah ibn Hafsh at-Taimi, bahwa Amirul Mukminin mengucapkan khotbah ini di suatu tempat ketinggian di Nukhailah. Ibn Maitsam lebih menyukai pendapat ini.

(Al-Hassanain/Al-Mujtaba/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Nahjul Balaghah: Khotbah 26


Arabia Sebelum Diutusnya Nabi

Allah mengutus Muhammad SAWW sebagai pemberi peringatan bagi seisi dunia dan sebagai pengemban amanat wahyu-Nya, sementara Anda, penduduk Arabia, mengikuti agama yang paling buruk dan Anda berkediamanan di antara batu-batu kasar dan ular-ular berbisa. Anda meminum air kotor dan makan makanan najis. Anda saling menumpahkan darah dan tidak mempedulikan kekerabatan. Berhala-berhala terpasang di antara Anda dan dosa melekat pada Anda.


Bagian dari Khotbah yang Sama

Saya melihat dan mendapatkan bahwa tidak ada pendukung bagi saya kecuali keluarga saya; maka saya hindarkan mereka dari terjerumus ke dalam kematian. Saya terus menutup mata saya walaupun kelilipan. Saya minum walaupun kerongkongan terteguk. Saya bersabar walaupun susah bernapas dan walaupun harus menelan jadam sebagai makanan.


Bagian dari Khotbah yang Sama

la tidak membaiat sampai ia membuatnya setuju bahwa ia akan membayarkan harganya padanya. Tangan si pembeli [baiat] ini tidak akan berhasil dan perjanjian dari si penjual mungkin menghadapi kehinaan. Sekarang Anda harus mengangkat senjata untuk berperang, dan mengatur perlengkapan untuk itu. Nyalanya telah meninggi dan sinarnya telah meningkat. Berpakaianlah dengan kesabaran karena [kesabaran] itu adalah sarana terbaik bagi kemenangan.[1] •


--------------------------------------------------------------------------------

[1] Amirul Mukminin menyampaikan khotbah ini sebelum berangkat ke Nahrawan. Khotbah ini terdiri dari tiga bagian. Pada bagian yang pertama ia menggambarkan kondisi Tanah Arab sebelum Kenabian; bagian kedua merujuk keadaan-keadaan yang memaksanya berdiam diri. Pada bagian ketiga ia menggambarkan pembicaraan dan keputusan antara Mu'awiah dan 'Amr ibn 'Ash. Terjadinya pembicaraan dan penyelesaian ini ketika Amirul Mukminin mengutus Jarir ibn 'Abdillah al-Bajali kapada Mu'awiah untuk mendapatkan baiat.

Gubernur Suriah itu menahan Jarir dengan dalih untuk memberikan jawaban. Sementara ia mulai menyelidiki sejauh mana rakyat Suriah mendukungnya dengan membangkitkan semangat balas dendam atas darah 'Utsman, ia bermusyawarah dengan saudaranya 'Utbah ibn Abi Sufyan. 'Utbah menyarankan, "Apabila dalam hal ini 'Amr ibn 'Ash dihubungi, ia akan menyelesaikan banyak kesulitan dengan kecerdikannya. Tetapi, ia tak akan mudah bersedia untuk menguatkan kekuasaan Anda apabila untuk itu ia tidak dibayari dengan apa yang diinginkannya. Apabila Anda telah bersedia untuk itu maka akan ternyata bahwa dia penasihat dan penolong yang terbaik." Mu'awiah menyukai saran ini. la myuruh panggil 'Amr ibn "'Ash lalu membicarakan hal itu, dan akhiraya diputuskan bahwa ia akan menuntut balas atas darah 'Utsman dengan menuduh Amirul Mukminin bertanggung jawab atasnya. Sebagai imbalan ia akan menjadi Guberaur Mesir, dan bahwa dalam keadaan bagaimanapun ia tak akan membiarkan kekuasaan Mu'awiah di Suriah terganggu. Sesuai dengan itu, keduanya menepati dan memenuhi perjanjian itu.

(Al-Hassanain/Al-Mujtaba/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Nahjul Balaghah: Khotbah 24 dan 25


KHOTBAH 24

Mengajak Orang Berjihad

Demi hidup saya, tidak akan ada penghormatan bagi seseorang dan tak akan ada pengendoran dari saya dalam bertarung melawan orang yang melawan hak atau meraba-raba dalam kesesatan. Wahai hamba-hamba Allah, takwalah kepada Allah dan larilah dari kemurkaan-Nya, dan carilah perlindungan pada belas kasih-Nya. Melangkahlah di jalan yang telah diletakkan-Nya bagi Anda dan tegaklah pada apa yang telah disuruh-Nya pada Anda. Dalam hal itu 'Ali akan berdiri sebagai jaminan bagi keberuntungan Anda pada akhirnya, walaupun Anda mungkin akan mendapatkannya segera (di dunia ini). •


KHOTBAH 25

Ketika Amirul Mukminin menerima berita yang susul-menyusul bahwa Mu'awiah sedang menduduki kota-kota,[i] dan para perwiranya sendiri di Yaman—yakni 'UbaiduIlah ibn 'Abbas dan Sa'id ibn Niniran—datang kepadanya setelah dikalahkan oleh Busr ibn Abi Arthat, ia sangat cemas akan kelambanan orang-orangnya sendiri dalam jihad dan penentangan mereka terhadap pandangannya. Setelah naik ke mimbar, ia berkata:

Tak ada [yang tertinggal pada saya] selain Rufah yang dapat saya tarik dan saya ulurkan (yang sepenuhnya berada di tangan saya). [Wahai Kufah] apabila begini keadaan Anda, angin puyuh terus bertiup melewati Anda maka mungkin Allah menghancurkan Anda.

Kemudian ia menggambarkan dengan bait seorang penyair,

Wahai 'Amr! Demi hidup ayahmu yang baik, saya hanya menerima segigitan kecil dari lemak [yang tersisa] di belanga ini.

Saya diberitahu bahwa Busr telah menaklukkan Yaman. Demi Allah, saya mulai berpikir tentang orang-orang ini, bahwa dalam waktu singkat mereka akan merenggut seluruh negara melalui persatuan mereka atas dasar kebatilan mereka dan perpecahan Anda (tentang hak Anda sendiri), serta perpisahan dan kedurhakaan Anda atas imam Anda dalam urusan hak; ketaatan mereka kepada pemimpin mereka dalam kebatilan, pemenuhan mereka atas amanat majikan mereka, dan pengkhianatan Anda; pekerjaan baik mereka bagi kota-kota mereka dan (perbuatan) bencana Anda. Andaipun saya menugaskan Anda menjaga sebuah mangkuk kayu, saya khawatir Anda akan melarikan diri dengan gagangnya.

Ya Allah, Tuhanku, mereka letih dengan saya dan saya letih dengan mereka. Tukar mereka bagi saya dengan yang lebih baik, dan tukarlah saya bagi mereka dengan yang lebih buruk. Ya Allah, larutkanlah hati mereka seperti garam larut dalam air. Demi Allah, saya berhasrat kiranya saya hanya mempunyai seribu orang berkuda Bani Firas ibn Ghanm (seperti kata sang penyair):

Bila kaupanggil, mereka datang padamu Berkuda seperti awan musim panas.

(Sesudah itu Amirul Mukminin turun dari mimbar)

Sayid Radhi berkata: Dalam syair ini kata armiyah adalah bentuk jamak dari yang berarti "awan", sedang hamim di sini berarti musim panas, karena gerakannya yang cepat, karena tidak mengandung air sedang awan (biasa) bergerak pelan karena bermuatan air. Awan ini biasanya muncul dalam musim dingin (di Tanah Arab). Dengan puisi ini si penyair bermaksud menyampaikan bahwa bilamana mereka dipanggil untuk dimintai pertolongan mereka datang dengan cepat, dan ini terkandung pada baris pertama, "Bila kaupanggil mereka akan datang padamu". •


--------------------------------------------------------------------------------

[i] Setelah Tahkim (arbitrasi), kedudukan Mu'awiah menjadi stabil. la mulai memikirkan usaha merebut kota-kota Amirul Mukminin dan memperluas wilayahnya. la mengirimkan tentaranya ke berbagai daerah untuk mendapatkan baiat mereka dengan paksaan. Sehubungan dengan ini, ia mengutus Busr ibn Abi Arthat ke Hijaz, dan orang ini menumpahkan darah ribuan orang tak berdosa dari Hijaz hingga Yaman, membakar hidup-hidup suku demi suku, bahkan membunuh anak-anak, sehingga dua putra 'Ubaidullah ibn 'Abbas, Gubernur Yaman, dibantai di depan ibu mereka, Juwairiah binti Khalid ibn Qarazh al-Kinaniyyah.

Ketika Amirul Mukminin mengetahui pembantaian dan pembunuhan ini, ia hendak mengutus suatu kontingen untuk menumpasnya, tetapi karena pertempuran yang terus-menerus, rakyat telah lesu dan tidak bersemangat untuk itu. Melihat keengganan mereka untuk berjuang, Amirul Mukminin mengucapkan khotbah ini di mana ia membangkitkan semangat dan harga diri mereka dan mendorong mereka untuk jihad dengan menggambarkan kepada mereka kelaliman musuh dan kekurangan mereka sendiri. Akhirnya Jariah ibn Qudamah as-Sa'di menyambut seruannya dan dengan membawa tentara sebanyak dua ribu orang ia berangkat untuk memburu Busr dan mengubernya keluar dari wilayah Amirul Mukminin.

(Al-Hassanain/Al-Mujtaba/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Nahjul Balaghah: Khotbah 23


Tentang Menjauhi Iri Hati dan Berlaku Buruk terhadap Karib Kerabat

'Amma ba 'du, sesungguhnya perintah Ilahi turun dari langit seperti tetesan hujan, membawa kepada setiap orang apa yang ditentukan baginya, baik berlimpah atau sedikit. Maka apabila seseorang di antara Anda sekalian melihat pada saudaranya banyak keturunan atau kekayaan, hal itu tak boleh menyebabkan fitnah padanya. Selama seorang Muslim tidak melakukan perbuatan yang apabila terbuka ia harus menundukkan matanya (karena malu) dan yang dengan itu orang rendah diberanikan, ia seperti penjudi yang mengharapkan bahwa tarikan pertama panahnya akan memberikan keuntungan kepadanya dan juga menutupi kerugiannya sebelumnya.

Demikian pula, seorang Muslim yang bebas dari kedurhakaan mengharapkan satu dari dua hal yang baik: panggilan Allah, dan dalam hal itu apa saja yang diberikan Allah adalah baik baginya; atau rezeki Allah. la telah mempunyai anak dan harta, sedang iman dan kehormatannya ada bersamanya. Sesungguhnya harta dan anak-anak adalah kebun dunia ini, sedang amal kebajikan adalah kebun untuk dunia yang akan datang. Kadang-kadang Allah menggabungkan semua itu pada satu orang.

Ingatlah kepada Allah terhadap apa yang telah diperingatkan-Nya kepada Anda, karena la telah menyuruh Anda untuk bertakwa kepada-Nya dan terus takut kepada-Nya sampai tak ada dalih yang diperlukan untuk itu. Beramallah tanpa pamer atau niat untuk didengar, karena apabila seseorang beramal demi seseorang selain Allah maka Allah akan mengalihkan dia kepada orang itu. Kami memohon kepada Allah (untuk mengaruniakan kepada kita) kedudukan para syahid, sahabat orang berkebajikan dan persahabatan dengan para nabi.

Wahai manusia, sesungguhnya tak seorang pun (meski ia kaya) dapat berbuat tanpa kerabatnya dan bantuan tangan dan lidahnya. Hanya merekalah dukungannya dari belakang yang dapat menjauhkan kesukaran darinya, dan merekalah yang paling baik kepadanya apabila kesengsaraan menimpanya. Kenangan yang baik yang Allah pelihara di antara manusia lebih baik daripada harta yang diwarisi orang lain dari dia.


Dari Khotbah yang Sama

Lihatlah! Apabila seseorang di antara Anda sekalian mendapatkan kerabat Anda dalam keadaan perlu atau dalam kelaparan, ia tak boleh menolak untuk menolongnya dengan apa yang tidak akan menambah apabila pertolongan ini tidak diberikan, dan tidak akan berkurang dengan menafkahkannya sedemikian itu. Barangsiapa menahan tangannya dari (menolong) kerabatnya, ia hanya menahan satu tangan, tetapi pada saat ia memerlukan, banyak tangan tertahan dari menolong dia. Orang yang berperangai manis dapat mempertahankan cinta kaumnya untuk selamanya.

Sayid Radhi mencatat: Dalam Khotbah ini ghafirah berarti banyak, berlimpah-limpah; kata ini berasal dari ungkapan Arab Jammul-ghafir atau Jama'ul ghafir yang berarti kerumunan padat. Dalam beberapa versi sebagai ganti ghaffrah muncul 'afwatan. 'Afwah berarti bagian yang baik atau pilihan dari sesuatu. Dikatakan Akaltu afwatath-tha'am, yang berarti Saya telah memakan makanan pilihan. Man yaqbidh yadahu 'an 'asyfratihi (Barangsiapa menahan tangannya dari kerabatnya) dan seterusnya, menunjukkan betapa indahnya makna kalimat ini. Amirul Mukminin memaksudkan bahwa orang yang tidak menolong kerabatnya sendiri hanya menahan tangannya; tetapi, bilamana ia memerlukan bantuan, simpati dan dukungan mereka maka ia tidak akan mendapatkan simpati dan pertolongan dari sekian banyak tangan mereka. •

(Al-Hassanain/Al-Mujtaba/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Nahjul Balaghah: Khotbah 20, 21 dan 22


KHOTBAH 20

Tentang Kematian dan Mengambil Pelajaran darinya

Andaikan Anda dapat melihat apa yang telah dilihat oleh orang-orang di kalangan Anda yang telah mati, Anda akan bingung dan susah. Pada waktu itu Anda akan mendengarkan dan menaati; tetapi apa yang telah mereka lihat masih ditabiri dari Anda. Tak lama lagi tabir akan dirobek-robek. Kepada Anda telah diperlihatkan, asal Anda melihat, dan kepada Anda telah diperdengarkan, asalkan Anda mendengarkan; dan Anda telah diberi petunjuk, asalkan Anda menerima petunjuk. Saya berkata kepada Anda dengan benar. Anda telah dipanggil dengan nyaring oleh contoh-contoh (yang mangandung pelajaran) dan diperingatkan melalui pokok yang penuh peringatan. Setelah para rasul Ilahi (malaikat), hanya manusia yang dapat menyampaikan risalah dari Allah. (Maka apa yang akan saya sampaikan adalah dari Allah). •


KHOTBAH 21

Nasihat Supaya Tetap Ringan di Dunia ini

Tujuan Anda berada di depan Anda. Di belakang Anda adalah saat (kematian Anda) yang mendorong Anda terus maju. Ringankan diri Anda dan susullah (yang di depan). Akhir Anda sedang ditunggu oleh awal Anda.

Sayid Radhi berkata: Apabila ucapan 'Ati ditimbang dengan ucapan mana pun, kecuali kata-kata Allah dan Nabi SAWW, ucapan itu akan terbukti lebih berat dan lebih unggul dalam segala segi. Misalnya, kata-kata Ali, "ringankan diri dan susullah" adalah ungkapan yang paling ringkas yang pernah terdengar dengan makna paling besar yang terkandung di dalamnya. Betapa luas artinya dan betapa jernih sumber kearifannya! Kami telah menunjukkan kebesaran dan padat maknanya frasa ini dalam buku kami Khasha'ish


KHOTBAH 22

Tentang Orang-orang yang Menuduhnya Membunuh 'Utsman

Hati-hatilah! Iblis telah mulai menghasut pasukannya dan telah mengumpulkan tentaranya agar kelaliman mencapai puncaknya dan kebatilan kembali kepada kedudukannya. Demi Allah, mereka tidak menyalahkan saya dengan sebenarnya, tidak pula mereka berlaku adil antara saya dan diri mereka sendiri. Mereka menuntut pada saya suatu hak yang mereka sendiri tinggalkan, dan darah yang mereka sendiri tumpahkan.[i] Sekiranya saya bersekutu dengan mereka dalam hal itu, maka mereka pun bersaham di dalamnya. Tetapi, apabila mereka melakukan itu tanpa saya, mereka harus menghadapi akibatnya. Hujah mereka yang terbesar (terhadap saya) adalah (sesungguhnya) terhadap mereka sendiri. Mereka menyusu dari ibu yang telah kering, dan menghidupkan bidah yang telah mati. Alangkah mengecewakan si penantang (ke pertempuran). Siapakah penantangnya dan untuk apa ia dijawabi? Saya gembira bahwa hujah Allah telah disempurnakan di hadapan mereka dan la tahu (semua) tentang mereka. Apabila mereka menolak (untuk menaati), saya akan menawarkan kepada mereka mata pedang yang cukup sebagai penyembuh kebatilan dan pendukung kebenaran. Aneh, mereka mengirimkan pesan kepada saya supaya maju kepada mereka untuk bertarung dengan lembing dan bersiap untuk bertarung dengan pedang. Semoga perempuan-perempuan berkabung atas mereka. Saya tak pernah takut untuk bertarung atau diancam dengan per-tempuran. Saya berkeyakinan penuh iman pada Tuhan saya dan saya tak ragu dalam agama saya. •


--------------------------------------------------------------------------------

[i] Ketika Amirul Mukminin dituduh terlibat dalam pembunuhan 'Utsman, ia menyampaikan khotbah ini untuk menolak tuduhan itu. la mengatakan tentang orang-orang yang menuduhnya, "Para pembalas dendam ini tak dapat mengatakan bahwa saya adalah pembunuhnya dan bahwa orang lain tidak turut serta di dalam-nya. Tak dapat pula mereka memalsukan peristiwa-peristiwa yang telah disaksikan dengan mengatakan bahwa mereka tak ada urusannya dengan itu. Maka mengapa mereka menaruh saya sebagai yang lerdepan dalam pembalasan dendam ini? (Bila demikian) dengan saya pun mereka harus memasukkan diri mereka sendiri juga. Bagaimana mereka dapat melepaskan diri dari hukuman ini? Persoalannya yang sebenarnya ialah bahwa mereka menuduh saya dengan tujuan agar saya berlaku sama dengan mereka menurut kebiasaan mereka. Tetapi, tidak seharusnya mereka mengharapkan saya menghidupkan kembali bidah para pemerintahan sebelumnya. Tentang pertarungan, tak pernah saya takut bertempur, tidak juga sekarang. Allah mengetahui niat saya dan la pun tahu bahwa orang-orang yang bangkit dengan dalih untuk membalas dendam itu sendirilah pembunuhnya."

Maka, sejarah sependapat bahwa orang-orang yang melakukan pembunuhannya ('Utsman) dengan hasutan dan bahkan mencegah penguburannya di pekuburan Muslim dengan melempari peti jenazahnya dengan batu, adalah juga orang-orang yang menuntut pembalasan dendam atas darahnya. Sehubungan dengan ini, nama-nama Thalhah ibn 'Ubaidillah, Zubair ibn 'Awwam dan 'A'isyah adalah di puncak daftarnya, karena pada kedua kesempatan itu usaha mereka terlihat dengan jelas. Ibn Abil Hadid menulis bahwa, "Orang-orang yang telah menulis tentang pembunuhan 'Utsman menyatakan bahwa pada hari pembunuhannya, Thalhah memakai tabir di wajahnya untuk menyamarkan dirinya dari mata kaumnya dan menembak-nembakkan panah ke rumah 'Utsman."

Dan sehubungan dengan ini, ia menulis tentang gagasan-gagasan Zubair,

"Para sejarawan telah menyatakan pula bahwa Zubair mengatakan, 'Bunuhlah 'Utsman. la telah mengubah agama Anda.' Kata orang, 'Putra Anda sedang berdiri di pintu dan menjaganya,' dan ia menjawab, 'Walaupun anak saya hilang, tetapi 'Utsman harus dibunuh. 'Utsman akan terbaring sebagai bangkai di Shirath besok.'" (Syarh Nahjul Balaghah, h. 35-36).

Tentang 'A'isyah, Ibn 'Abdi Rabbih menulis,

"Ketika Mughirah ibn Syu'bah datang kepada 'A'isyah, lalu ia ('A'isyah) berkata, "Hai, Abu Abdillah. Saya ingin kiranya Anda telah bersama saya pada Hari Jamal; betapa panah-panah menembus haudaj (tandu di punggung unta) saya sehingga sebagiannya mengenai tubuh saya." Mughirah mengatakan, "Saya berhasrat kiranya salah satu darinya telah membunuh Anda." 'A'isyah berkata, 'Semoga Allah menaruh kasihan kepada Anda; mengapa demikian?' la (Mughirah) menjawab, 'Supaya itu merupakan suatu tebusan atas apa yang Anda lakukan terhadap 'Utsman."' (Al- 'lqd al-Farid, jilid 4, h. 294).

(Al-Hassanain/Al-Mujtaba/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Nahjul Balaghah: Khotbah 19


Amirul Mukminin sedang menyampaikan ceramah di mimbar ketika Asy'ats ibn Qais[i] menyatakan keberatan seraya berkata, "Hai Amirul Mukminin, hal ini tidak bagi Anda melainkan terhadap Anda."[ii]

Amirul Mukminin melihat kepadanya seraya berkata:

Bagaimana Anda mengetahui apa yang bagi saya dan apa yang terhadap saya? Kutukan Allah dan yang lain-lainnya atas Anda. Anda penenun dan anak dari penenun. Anda anak seorang kafir dan Anda sendiri seorang munafik. Anda pernah ditawan oleh kaum kafir dan sekali oleh kaum Muslim, tetapi kekayaan dan asal-usul Anda tak dapat menyelamatkan Anda dari keduanya. Orang yang berusaha agar kaumnya menjadi umpan pedang, dan mengundang maut dan kehancuran bagi mereka, pantas dibenci kerabat dekat, dan kerabat yang jauh tidak akan mempercayainya.

Sayid Radhi mencatat bahwa orang ini pernah ditawan ketika dia masih kafir dan juga ketika dia sudah masuk Islam. Tentang kata-kata Amirul Mukminin bahwa orang itu menjerumuskan kaumnya sendiri untuk dipancung, itu berkaitan dengan peristiwa yang terjadi pada Asy'ats ibn Qais dalam pertarungan dengan Khalid ibn Watid di Yamamah, di mana ia menipu kaumnya dan membuat siasat licik sampai Khalid menyerang mereka. Setelah kejadian itu kaumnya menjulukinya Urfun-Nar dalam dialek mereka berarti pengkhianat. •


--------------------------------------------------------------------------------

[i] Nama aslinya Ma'di Karib, laqab-nya Abu Muhammad. Tetapi, karena rambutnya yang acak-acakan, ia lebih dikenal sebagai al-Asy'ats (si rambut acak). Setelah pengutusan Nabi, ketika ia ke Makkah bersama sukunya, Nabi mengundang dia dan sukunya untuk menerima Islam. Namun, mereka semua berpaling tanpa seorang pun masuk Islam. Setelah Hijrah, ketika Islam telah mapan dan jaya, dan wakil-wakil mulai berdatangan ke Madinah dalam jumlah besar, ia pun datang menghadap Nabi bersama Bani Kindah, dan menerima Islam. Penulis Al-lsti'ab mengatakan bahwa setelah wafatnya Nabi, orang ini berpaling lagi jadi kafir; tetapi, di masa Khalifah Abu Bakar, ketika Abu Bakar ia dibawa kembali ke Madinah sebagai tawanan, ia menerima Islam lagi, walau kini pun Islamnya hanya pura-pura. Demikianlah, Syekh Muhammad 'Abduh menulis dalam syarahnya tentang Nahjul Balaghah,

"Sebagaimana 'Abdullah ibn 'Ubay ibn Salul adalah sahabat Nabi, al-Asy'ats adalah sahabat 'Ali, dan keduanya adalah orang munafik kelas tinggi."

la kehilangan sebelah matanya dalam perang Yarmuk. Ibn Qutaibah memasukkannya ke dalam daftar orang yang bermata satu. Saudara perempuan Abu Bakar, Umm Farwah binti Abi Quhafah, janda al-Azdi dan kemudian istri Tarrum ad-Darimi, kawin ketiga kalinya dengan al-Ays'ats ini. Tiga putra lahir darinya, yakni Muhammad, Isma'il dan Ishaq. Menurut buku-buku biografi, istrinya itu pun bermata satu. Ibn Abil Hadid mengutip pernyataan berikut ini dari Abul Faraj di mana orang ini nampak terlibat dalam pembunuhan Ali a.s.,

"Pada malam pembunuhan itu Ibn Muljam datang kepada Asy'ats ibn Qais dan keduanya menyendiri ke sudut mesjid lalu duduk di situ. Ketika Hujr ibn 'Adi lewat pada sisi itu ia mendengar Asy'ats berkata kepada Ibn Muljam, "Cepatlah sekarang, atau cahaya fajar akan menggaibkan Anda." Ketika mendengar ini Hujr berkata kepada Asy'ats, "Hai Mata Satu, engkau bersiap-siap membunuh 'Ali," dan bersegera kepada 'Ali ibn Abi Thalib. Tetapi, Ibn Muljam telah mendahuluinya dan menyerang 'Ali dengan pedang. Ketika Hujr berpaling, orang berteriak, 'Ali telah dibunuh'."

Putrinyalah yang membunuh Imam Hasan a.s. dengan meracuninya. Mas'udi menulis bahwa,

"Istrinya (istri Hasan), Ja'dah binti Asy'ats, meracuninya sementara Mu'awiah bersekongkol dengannya bahwa apabila ia (Ja'dah) dapat meracuni Hasan, maka ia (Mu'awiah) akan membayarnya seratus ribu dirham dan akan mengawinkannya dengan putranya Yazid." (Muruj adz-Dzahab, jilid II, h. 450)

Putranya Muhammad ibn al-Asy'ats aktif dalam mencurangi Muslim ibn 'Aqil di Kufah dan dalam penumpahan darah Imam Husain di Karbala'. Namun, ia termasuk di antara perawi hadis dari Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, dan ibn Majah.

[ii] Setelah pertempuran Nahrawan, ketika Amirul Mukminin sedang berbicara di mesjid Kufah tentang akibat-akibat buruk "Arbitrasi" (Tahkim) di Shiffin, seorang laki-laki berdiri seraya berkata, "Wahai Amirul Mukminin, pertama Anda menentang kami mengenai Tahkim itu, tetapi kemudian Anda mengizinkannya. Kami tak dapat mengerti mana di antara kedua ini yang lebih benar dan patut." Ketika mendengar ini, Amirul Mukminin menepuk tangan seraya berkata, "Inilah ganjaran bagi orang yang melepaskan pandangan yang kukuh," yakni, inilah hasil perbuatan Anda sendiri karena Anda telah meninggalkan keteguhan dan kecermatan dan mendesakkan Tahkim." Tetapi, Asy'ats salah paham. la mengira Amirul Mukminin menyiratkan bahwa "kecemasan saya adalah karena menerima arbitrasi itu". Maka ia pun berkata, "Wahai Amirul Mukminin, ini tidak akan menguntungkan Anda, melainkan merugikan Anda sendiri." Atasnya Amirul Mukminin berkata dengan kasar,

"Apa yang Anda ketahui tentang yang akan saya katakan, dan apa yang kamu mengerti tentang apa yang menguntungkan saya atau merugikan saya? Engkau "penenun" (hayik) dan anak si "penenun" yang dibesarkan oleh orang-orang kafir dan seorang munafik. Kutuk Allah dan segala yang ada di dunia ini menimpamu."

Para pensyarah telah menulis beberapa sebab mengapa Amirul Mukminin menyebut Asy'ats si "penenun". Sebab yang pertama ialah karena ia dan ayahnya, sebagaimana kebanyakan penduduk di tempat kelahirannya, melakukan kerajinan menenun kain. Maka untuk mengacu kerendahan pekerjaannya ia disebut "penenun". Orang Yaman mempunyai mata pencarian lain pula, namun terutama profesi ini yang mereka lakukan. Dalam menggambarkan pekerjaan tnereka, Khalid ibn Shafwan telah menyebutkannya,

"Apa yang dapat saya katakan tentang suatu kaum yang di antara mereka hanya ada penenun, penyamak kulit, pemelihara dan penunggang keledai .... Tikus membanjiri mereka, dan seorang wanita memerintah mereka." (Al-Bayan wa at-Tabyin, I, h. 130)

Sebab yang kedua, "hiy'-kah" berarti berjalan dengan miring ke kiri atau ke kanan. Karena kesombongan dan tipu daya, orang ini biasa berjalan sambil menghentakkan bahunya dan memiringkan badannya, maka ia disebut "h'-yik".

Sebab yang ketiga—dan ini yang lebih nyata dan jelas—bahwa ia disebut "penenun" untuk menunjukkan ketololannya dan kerendahannya, karena setiap orang yang rendah dipribahasakan sebagai "penenun". Ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa ketololan mereka telah menjadi peribahasa, dan tak ada yang sampai mendapatkan status peribahasa tanpa ciri khas. Nah, Amirul Mukminin menggunakannya; tak perlu lagi argumen atau penalaran selanjutnya.

Sebab yang keempat adalah bahwa dengan ini dimaksud orang yang bersekongkol melawan Allah dan Nabi-Nya dan menyiapkan jaringan rekayasa, ciri khas penghianatan. Maka, dalam Was'il asy-Syi'ah, XII, h. 101, dinyatakan,

"Disebutkan di hadapan Imam Ja'far ash-Shadiq a.s. bahwa si "penenun" terkutuk, ketika ia menerangkan bahwa "penenun" bermakna orang yang mengada-ada terhadap Allah dan Nabi."

Setelah kata "penenun", Amirul Mukminin menggunakan kata munafik, dan tak perlu penjelasan lagi untuk menekankan kedekatan artinya. Maka, atas basis kemunafikan dan penyembunyian kebenaran ini ia memaklumkannya sebagai patut mendapat kutukan Allah dan semua lainnya, karena Allah SWT bersabda,

"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turun-kan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitdb, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat." (QS. 2:159)

Setelah Amirul Mukminin mengatakan bahwa "Engkau tak dapat mengelakkan keaiban sebagai tawanan ketika engkau kafir, tidak pula aib ini terbebas darimu setelah engkau menerima Islam, dan engkau tertawan." Waktu masih kafir, peristiwa tertawannya terjadi sebagai berikut. Ketika suku Bani Murad membunuh ayahnya, Qais, ia (Asy'ats) mengumpulkan para prajurit Banl Kindah dan membagi mereka dalam tiga kelompok. Satu kelompok ia pimpin sendiri, sedang yang lainnya ia serahkan kepada pimpinan Kabs ibn Hani' dan al-Qasy'am ibn Yazid al-Arqam, lalu berangkat untuk mengahadapi Bani Murad. Tetapi celakanya, ketimbang Bani Murad, ia menyerang Bani Harits ibn Ka'b. Akibatnya, Kabs ibn Hani' serta Qasy'am ibn Yazid tewas, dan Asy'ats tertawan hidup-hidup. Akhirnya ia dibebaskan dengan membayar tebusan tiga ribu unta. Dalam kata-kata Amirul Mukminin, "Kekayaan atau kelahiranmu tak dapat menyelamatkanmu dari kedua-duanya," acuan bukan kepada fidyah (uang pembebasan) yang sesungguhnya, karena sebenarnya ia telah dibebaskan dengan pembayaran uang tebusan; maksud-nya ialah bahwa kelimpahan kekayaan, kedudukan dan martabat dalam sukunya, tak dapat menyelamatkan dia dari aib, dan ia tak dapat melindungi dirinya dari tertawan.

Peristiwa tertawannya yang kedua ialah setelah wafatnya Nabi Muhammad (saw), ketika timbul pemberontakan di kawasan Hadhramaut. Untuk melawannya, Khalifah Abu Bakar menulis surat kepada gebernur di tempat itu, Ziyad ibn Labid al-Bayadi al-Anshari bahwa ia harus mendapatkan baiat dan menerima zakat dan sedekah dari rakyat. Keika Ziyad ibn Labid mendatangi suku Bani 'Amr ibn Mu'awiah untuk mengumpulkan zakat, ia sangat tertarik pada seekor unta betina milik Syaithan ibn Hujr yang amat bagus dan besar. la melompat ke atas punggungnya dan mengambilnya. Syaithan ibn Hujr tidak mau melepaskannya dan mengatakan kepadanya untuk mengambil unta lainnya sebagai gantinya, tetapi Ziyad tak mau. Syaithan menyuruh panggil saudara lelakinya al-'Abda' ibn Hujr untuk mendukungnya. Ketika tiba, ia pun berbicara, tetapi Ziyad bersikeras pada pendiriannya dan sama sekali tak mau melepaskan unta betina itu. Akhirnya kedua bersaudara itu menghadap kepada Masruq ibn Ma'di Karib untuk meminta bantuan. Masruq pun menggunakan pengaruhnya supaya Ziyad meninggalkan unta betina itu, tetapi ia menolak dengan tegas. Masruq menjadi galak dan melepaskan ikatan unta betina itu lalu menyerahkannya pada Syaithan. Ziyad menjadi berang lalu mengumpulkan orang-orangnya, bersiap untuk berperang. Di sisi lain, Bani Wali'ah pun berkumpul untuk menghadapi mereka, tetapi tak dapat me-ngalahkan Ziyad, dan terpukul dengan parahnya. Kaum wanita mereka dibawa dan harta mereka dijarah. Akhiraya orang-orang yang selamat terpaksa meminta perlindungan Asy'ats. Asy'ats menjanjikan bantuan, dengan syarat bahwa ia harus diakui sebagai pemimpin di daerah itu. Orang-orang itu setuju atas syarat ini dan penobatannya pun dilakukan dengan khimat dan resmi. Setelah wewenangnya diakui, ia menyiapkan pasukan lalu berangkat untuk memerangi Ziyad.

Sementara itu Abu Bakar telah menulis surat kepada pemimpin Yaman, Muhajir ibn Abl Umayyah, untuk pergi membantu Ziyad dengan pasukan. Muhajir datang dengan kontingennya lalu mereka berhadap-hadapan. Mereka menghunus pedang lalu mulai bertempur di az-Zurqan. Pada akhirnya Asy'ats melarikan diri dari pertempuran dengan membawa orangnya yang tersisa ke benteng an-Nujair. Pasukan Ziyad dan Muhajir mengepung benteng itu. Asy'ats berpikir, berapa lama ia dapat tinggal terkurung dalam benteng dengan perlengkapan dan orangnya yang kurang itu; ia lalu memikirkan suatu jalan untuk meluputkan diri. Pada suatu malam, secara sembunyi-sembunyi, ia keluar dari benteng itu lalu menemui Ziyad dan Muhajir dan bersekongkol dengan mereka bahwa apabila mereka memberikan perlindungan kepada sembilan anggota keluarganya maka ia akan membukakan pintu benteng itu. Mereka menerima ketentuan itu dan memintanya menuliskan nama kesembilan orang termaksud. la menulis nama kesembilan orang itu lalu menyerahkannya kepada mereka, tetapi dalam kepandiran tradisionalnya ia lupa menuliskan namanya sendiri pada daftar itu.

Setelah membereskan ini, ia mengatakan kepada orang-orangnya bahwa ia telah mendapatkan perlindungan bagi mereka dan supaya pintu benteng dibuka. Ketika pintu gerbang terbuka, pasukan Ziyad menyerbunya. Mereka mengatakan bahwa kepada mereka telah dijanjikan perlindungan, yang dijawab tentara Ziyad bahwa itu salah, dan bahwa Asy'ats hanya meminta perlindungan atas sembilan orang anggota keluarganya, yang nama-namanya ada pada mereka. Singkatnya, delapan ratus orang terbunuh dan tangan beberapa orang perempuan terpotong putus, sedang, sesuai pembicaraan, sembilan orang dibebaskan. Tetapi, kasus Asy'ats sendiri menjadi rumit. Akhirnya diputuskan bahwa ia harus dikirimkan dengan terbelenggu kepada Abu Bakar, yang akan memutuskan kasusnya.

la dikirimkan ke Madinah dalam belenggu bersama seribu orang perempuan tawanan. Dalam perjalanan, para kerabat dan lain-lainnya, lelaki dan perempuan, melimpahkan kutukan kepadanya. Perempuan-perempuan itu menamakannya penghianat dan orang yang menjerumuskan kaumnya sendiri kepada tebasan pedang. Siapa lagi penghianat yang lebih besar? Namun, ketika tiba di Madinah, Abu Bakar membebaskannya, dan pada kesempatan itu ia dikawinkan dengan Umm Farwah.

(Al-Hassanain/Al-Mujtaba/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Nahjul Balaghah: Khotbah 18


Amirul Mukminin berkata dalam melecehkan perbedaan pendapat di kalangan ulama

Bilamana suatu masalah diajukan kepada seseorang di antara mereka,[i] ia menyampaikan penilaian atasnya dari khayalannya. Bilamana masalah yang tepat seperti itu diajukan kepada orang lain, ia menyampaikan keputusan yang berlawanan. Kemudian hakim-hakim ini pergi kepada kepala yang telah mengangkat mereka, dan ia mengukuhkan semua keputusan itu, walaupun Tuhan mereka Satu (dan sama), Nabi mereka satu (dan sama, Kitab mereka (Al-Qur'an) satu (dan sama). Apakah karena Allah memerintahkan mereka untuk berbeda dan mereka menaati-Nya, ataukah la melarang mereka tetapi mereka melanggar-Nya? Atau (apakah) Allah mengirimkan agama yang tak sempurna dan meminta mereka menolong menyempurnakannya? Atau mereka mitra-Nya dalam urusan itu sehingga merupakan bagian kewajiban mereka untuk menetapkannya dan la harus menyetujuinya? Atau, apakah Allah Yang Mahasuci mengirimkan agama yang sempurna tetapi Nabi tak mampu menyampaikannya dan menyerahkannya (kepada manusia)? Nyatanya, Allah Yang Mahasuci berkata, "Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Kitab" (QS. 6:38), dan mengatakan bahwa satu bagian Al-Qur'an membenarkan bagian yang lainnya, dan bahwa tak ada pertentangan di dalamnya, sebagaimana dikatakan-Nya, "Kalau sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. " (QS. 4:82)

Sesungguhnya bagian luar Al-Qur'an menakjubkan dan bagian dalamnya mendalam (makna-maknanya). Keajaiban-keajaibannya tak akan pernah lenyap, halnya yang menakjubkan tak akan pernah habis, dan kerumitan-kerumitannya tak dapat diterangkan kecuali melaluinya (Al-Qur'an) sendiri. •


--------------------------------------------------------------------------------

[i] Ada perbedaan pendapat, di mana tak ada argumen yang jelas tentang suatu hal dalam hukum agama, apakah sesungguhnya ada perintah tentang itu atau tidak. Pandangan yang dianut Abul Hasan al-Asy'ari dan gurunya Abu Ali al-Jubba'i ialah bahwa dalam kasus semacam itu Allah tidak menetapkan suatu jalan tindakan tertentu, melainkan la memberikan tugas untuk menemukannya dan menetapkan suatu keputusan (fatwa) kepada para ahli hukum, sehingga apa saja yang mereka pandang haram akan ditentukan sebagai haram dan apa saja yang mereka anggap halal akan dihalalkan. Dan apabila seseorang mempunyai satu pandangan dan yang lainnya mempunyai pandangan lain maka akan ada keputusan sebanyak pandangan yang ada, dan masing-masing darinya akan merupakan yang final. Misalnya, apabila seorang ulama berpendapat bahwa tape gandum haram dan pandangan ahli hukum lain menganggapnya halal, maka sesungguhnya itu haram dan sekaligus halal. Ini berarti bahwa bagi seseorang yang menganggapnya haram, penggunaannya akan haram, sedang bagi yang lain penggunaannya halal. Tentang hal (teori ketepatan) ini, Muhammad ibn 'Abdil Karim asy-Syahristani menulis:

"Sekelompok teoritisi berpendapat bahwa dalam urusan-urusan di mana ijtihad diterapkan, tak ada pandangan yang tertentu tentang boleh atau tidaknya, dan yang dihalalkan serta yang diharamkan darinya, melainkan apa saja yang dipegangi mujtahid adalah perintah Allah, karena penegasan pandangan Allah tergantung pada keputusan mujtahid. Apabila tidak demikian maka tak akan ada keputusan sema sekali. Dan menurut pandangan ini, setiap mujtahid benar dalam pandangannya. (al-Milal wa an-Nihal, h. 98)

Dalam hal ini si mujtahid dianggap kebal dari kesalahan, karena suatu kesalahan dapat dianggap terjadi bilamana suatu langkah yang diambil bertentangan dengan realitas; tetapi, di mana tidak ada realitas keputusan, kesalahan tak akan ada maknanya. Selain ini, si mujtahid dapat dipandang sebagai bebas dari kesalahan apabila dipandang bahwa Allah, yang menyadari akan segala pandangan yang nampaknya mungkin akan diambil, telah menetapkan ketentuan final sebanyak itu yang sebagai akibatnya setiap pandangan yang bertalian dengan suatu ketetapan semacam itu, atau bahwa Allah telah menjamin bahwa pandangan-pandangan yang diambil oleh mutjahid tidak akan melewati apa yang telah ditetapkan-Nya, atau bahwa secara kebetulan pandangan setiap orang dari mereka, pada kesudahannya, berhubungan dengan suatu ketentuan yang telah ditetapkan.

Namun, mazhab Imamiah mempunyai teori lain, yakni bahwa Allah tidak memberikan hak kepada siapa pun untuk menetapkan hukum, tidak pula membawahkan suatu urusan kepada pandangan si mujtahid, juga tidak berpendapat bahwa, dalam hal perbedaan pendapat, la telah menetapkan banyak ketetapan yang sesungguhnya. Tentu saja, apabila si mujtahid tak dapat sampai pada suatu ketetapan yang riil maka pandangan yang diambilnya setelah penelitian dan penyelidikan, cukup baginya dan para pengikutnya untuk berbuat sesuai dengan itu. Perintah semacam itu adalah perintah yang terlihat, yang merupakan suatu substitusi bagi perintah yang sesungguhnya, karena ia berusaha sedapat-dapatnya untuk menyelami lautan dalam dan meneliti dasarnya, tetapi ketimbang muatiara ia hanya mendapatkan kerang. la tidak mengatakan bahwa para pelaksana harus menerimanya sebagai mutiara atau harus dihargai sebagai mutiara. Adalah urusan lain bila Allah yang memperhatikan usaha-usaha itu menghargainya separuh dari itu sehingga usaha itu tidak menjadi sia-sia dan semangatnya tidak padam.

Apabila teori ketetapan diambil, maka setiap keputusan (fatwa) tentang hukum dan setiap pandangan harus dianggap benar seperti telah dituliskan Maibudz dalam Faw'tih,

Dalam hal ini pandangan yang diambil oleh al-Asy'ari benar. Dari itu, pendapat-pendapat yang berlainan harus semuanya benar. Hati-hatilah, jangan berpendapat buruk tentang para faqih, dan jangan membuka lidah Anda untuk menyalahkan mereka.

Bilamana teori-teori yang saling bertentangan dan berselisih dianggap bernar, adalah aneh mengapa perbuatan beberapa orang individu yang mencolok di-terangkan sebagai kekeliruan keputusan, karena kekeliruan keputusan oleh si mujtahid sama sekali tak dapat dibayangkan. Apabila teori ketepatan itu benar maka tindakan Mu'awiah dan 'A'isyah harus dianggap benar; tetapi, apabila perbuatan mereka dapat dipandang salah maka kita harus sepakat bahwa ijtihad pun dapat salah, dan bahwa teori ketepatan adalah salah. Maka masih harus diputuskan dalam konteksnya sendiri apakah ciri kewanitaan tidak mengganggu keputusan 'A'isyah, atau apakah itu adalah temuan (yang salah) dari Mu'awiah atau sesuatu yang lain. Bagaimanapun, teori ketepatan ini dikemukakan untuk menutupi kesalahan-kesalahan dan memberikan padanya jubah ketetapan Allah, supaya tidak akan ada halangan untuk mencapai tujuan-tujuan dan tidak pula seseorang akan mampu berbicara menentang setiap kebatilan.

Dalam khotbah ini Amirul Mukminin mengacu kepada orang-orang yang menyeleweng dari jalan Allah, yang dengan menutup mata dari cahaya, meraba-raba dalam kegelapan khayalan, membuat agama menjadi korban pandangan dan pen-dapat mereka, memaklumkan pendapat-pendapat baru mereka, mengeluarkan keputusan-keputusan dengan khayalan mereka sendiri, dan menimbulkan akibat-akibat yang menyesatkan. Atas dasar teori ketepatan, mereka memandang semua keputusan yang menyeleweng dan saling bertentangan ini sebagai dari Allah, seakan-akan masing-masing dari ketentuan mereka mewakili wahyu Ilahi sehingga ketetapan mereka tak mungkin salah dan mustahil mereka tersandung.

Maka Amirul Mukminin menyalahkan pandangan ini dengan mengatakan bahwa:

(1) Bilamana Allah Esa, Kitab (Al-Qur'an) satu, dan Nabi satu dan sama, maka agama (yang diikuti) harus satu pula. Dan bila agama satu, betapa mungkin ada ketetapan yang saling selisih tentang suatu urusan, karena hanya mungkin ada perbedaan dalam suatu keputusan bila si penetap keputusan itu telah
melupakannya, atau lalai, atau tidak sadar, atau ia dengan sengaja berhasrat terlibat dalam kemelut itu, padahal Allah dan Nabi-Nya suci dari semua itu.
Oleh karena itu maka perbedaan-perbedaan itu tak dapat diatributkan pada Allah dan Rasul-Nya, melainkan hasil pemikiran dan pendapat-pendapat orang
yang cenderung untuk membengkokkan gari-garis agama dengan perbuatan-perbuatan khayali mereka.

(2)Apakah Allah melarang penyelewengan-penyelewengan ini atau memerintahkannya. Apabila la telah memerintahkannya, di mana perintah itu? Tentang
hal larangannya, Al-Qur'an mengatakan:

"... Katakanlah, 'ApakahAllah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakannya saja terhadap Allah?'" (QS. 10:59)

Yakni, segala sesuatu yang tak sesuai dengan perintah Ilahi adalah buat-buatan, yang dilarang dan diharamkan. Bagi para pengada-ada, di akhirat, tak akan ada keberuntungan atau keberhasilan, tidak pula kemakmuran dan kebaikan. Firman Allah,

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengadakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. 16:116)

(3) Sekiranya Allah telah meninggalkan agama sebelum sempurna, setengah jalan, karena la menginginkan supaya manusia membantu-Nya dalam menyempuraakan tatanan agama dan turut beserta-Nya dalam tugas penepatan hukum, maka kepercayaan ini jelas syirik. Apabila la mengirimkan agama-Nya dalam bentuk sempurna, tentulah Nabi telah gagal menyampaikannya sehingga ruangan itu ditinggalkan kepada orang lain untuk menerapkan khayalan dan pendapat. Ini, semoga dijaukan Allah, akan berarti kelemahan Nabi dan kekeliruan pilihan Allah.

(4) Allah telah mengatakan dalam Al-Qur'an bahwa la tidak meninggalkan apa pun dalam Kitab itu dan telah menjelaskan semua dan setiap urusan. Sekarang, apabila suatu ketetapan diukir berlentangan dengan Al-Qur'an maka itu di luar tatanan keagamaan, dan dasarnya tidak bertumpu pada pengetahuan dan persepsi, atau Al-Qur'an dan sunah. tetapi merupakan pendapat dan penilaian pribadi seseorang, yang tak dapat disamakan dengan agama dan keimanan.

(5)Al-Qur'an adalah basis dan sumber agama, dan sumber hukum syariat. Apabila hukum syariat berbeda-beda maka akan ada perbedaan pada sumbernya; dan apabila ada perbedaannya maka la tak dapat dianggap sebagai sabda Ilahi.
Bilamana iiu sabda Ilahi, hukum syariat tak mungkin berbeda-beda; tak mungkin menerima semua keputusan yang berbeda-beda dan saling bertentangan, yang benar dan khayali. dan menganggapnya sebagai ketelapan Al-Qur'an.

(Al-Hassanain/Al-Mujtaba/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Nahjul Balaghah: Khotbah 17


Tentang orang-orang yang metninta dispensasi keadilan di kalangan penduduk, tetapi tak pantas untuk itu

Di antara semua manusia, yang paling nista di hadapan Allah ada dua orang.[1] Yang satu ialah yang mengabdi pada hawa nafsunya. la menyimpang dari jalan Allah dan senang berbicara tentang bidah dan mengundang ke jalan salah. Karena itu ia merupakan gangguan bagi orang-orang yang terpikat padanya, ia sendiri tersesat dari petunjuk orang-orang yang mendahuluinya, menyesatkan orang-orang yang mengikutinya dalam hidupnya atau setelah matinya, membawa beratnya dosa-dosa orang lain dan terjaring dalam amal buruknya sendiri.

Yang lainnya adalah orang yang memungut kejahilan. la bergerak di kalangan orang jahil, tidak merasakan tebalnya bencana, dan buta akan maslahat kedamaian. Orang-orang yang menyerupai manusia menamakannya orang berilmu, tetapi tidaklah ia berilmu. la keluar di pagi dini untuk mengumpulkan hal-hal yang tidak adanya lebih baik ketimbang kelimpahannya, sampai saat ia telah memuaskan hausnya dari air tercemar dan mendapatkan hal-hal yang tak bermakna.

la duduk di antara manusia sebagai hakim yang bertanggung jawab atas segala yang membingungkan orang lain. Apabila suatu masalah yang bermakna ganda diajukan kepadanya, ia memberikan argumen-argumen gombal tentang itu menurut kehendaknya sendiri dan membuat keputusan berdasarkannya. Dengan demikian ia terjaring dalam bingungnya keraguan seperti dalam jaringan laba-laba, dengan tidak mengetahui apakah ia benar atau salah. Apabila ia benar ia takut kalau-kalau ia keliru, sedang apabila ia salah ia berharap bahwa ia benar. la jahil, mengembara dalam keadaan tersesat dalam kejahilan dan menunggang kendaraan tanpa tujuan sambil bergerak dalam kegelapan. la tidak berusaha untuk mendapatkan hakikat pengetahuan. la menyebarkan hadis-hadis seperti angin menebarkan daunan kering.

Demi Allah, ia tak mampu menyelesaikan masalah yang datang kepadanya dan tak patut untuk jabatan yang ditugaskan kepadanya. Apa saja yang tidak diketahuinya dipandangnya tak patut diketahui. la tak menyadari bahwa apa yang di luar jangkauannya berada dalam jangkauan orang lain. Apabila sesuatu tidak jelas padanya, ia berdiam diri atasnya, karena ia tahu akan ketidaktahuannya sendiri. Nyawa-nyawa yang melayang menangisi keputusan-keputusannya yang tak adil, dan harta (yang telah dibagikan) menggerutu terhadapnya.

Saya mengeluh kepada Allah tentang orang-orang yang hidup jahil dan mati tersesat. Bagi mereka tak ada yang lebih tak berharga daripada Al-Qur'an apabila ia dibaca sebagaimana mestinya, dan tak ada yang lebih berharga daripada Al-Qur'an apabila ayat-ayatnya dipindahkan dari tem-patnya; tak ada yang lebih keji daripada kebajikan dan tak ada yang lebih bajik daripada kemungkaran. •


--------------------------------------------------------------------------------

[1] Amirul Mukminin menganggap dua golongan orang sebagai orang-orang yang paling dibenci Allah dan yang terburuk di antara manusia. Yang pertama adalah orang-orang yang salah jalan bahkan dalam ajaran-ajaran mendasar dan sibuk menyiarkan kemungkaran. Yang kedua, orang-orang yang meninggalkan Al-Qur'an dan sunah dan menetapkan keputusan melalui khayalan mereka. Mereka menciptakan lingkaran penganut dan mempopulerkan hukum keagamaan yang mereka ada-adakan sendiri. Kesesatan dan kesalahan dari orang-orang semacam itu tidak hanya terbatas pada diri mereka sendiri; benih kesesatan yang mereka taburkan berbuah dan tumbuh menjadi pohon besar yang memberikan tempat perlindungan kepada orang-orang sesat, dan kesesatan ini terus berlipat ganda. Dan karena justru orang-orang inilah sumber yang sesungguhnya maka beratnya dosa-dosa orang lain juga tertumpuk di pundak mereka sebagaimana dikatakan Al-Qur'an, "Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri.... " (QS. 29:13).

(Al-Hassanain/Al-Mujtaba/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Nahjul Balaghah: Khotbah 14, 15, dan 16


KHOTBAH 14

Ini juga dalam mengutuk penduduk Bashrah

Bumi Anda dekat ke laut dan jauh dari langit. Akal Anda telah menjadi ringan dan pikiran Anda konyol. Anda menjadi sasaran panah, suapan untuk pemakan dan mangsa bagi pemburu. •


KHOTBAH 15

Setelah mengambil kembali hadiah-hadiah tanah yang diberikan 'Utsman, ia berkata:

Demi Allah, sekalipun misalnya saya mendapatkan bahwa dengan uang (yang dikorupsi dari Baitul Mal) itu perempuan-perempuan telah dikawinkan, atau budak-budak perempuan telah dibeli (dan dibebaskan), saya akan mengambilnya kembali, karena luaslah lapangan dalam pelaksanaan keadilan, dan orang yang merasa sulit untuk bertindak adil akan lebih sulit lagi mengurusi ketidakadilan. •


KHOTBAH 16

Diucapkan saat pembaiatan kepadanya di Makkah

Tanggung jawab atas apa yang saya katakan terjamin, dan saya bertanggung jawab untuk itu. Orang yang telah melihat dengan jelas hukuman-hukuman percontohan (yang diberikan Allah kepada kaum-kaum) di masa lalu, dicegah oleh takwa untuk jatuh ke dalam keragu-raguan. Hendaklah Anda ketahui bahwa kesukaran-kesukaran yang menimpa Anda sama dengan yang terjadi ketika Nabi SAWW mula-mula diutus. Demi Allah yang mengutus Nabi dengan iman dan kebenaran, Anda akan dijungkirkan dengan keras, digoncang dengan pahitnya seperti dalam menampi, dan diaduk sepenuhnya seperti dengan mengayok dalam belanga, sehingga orang-orang Anda yang rendah menjadi tinggi dan yang tinggi menjadi rendah, yang di belakang akan sampai ke depan dan yang di depan akan menjadi terbelakang. Demi Allah, saya tidak menyembunyikan sepatah kata pun dan tidak mengucapkan suatu kebohongan, dan saya telah di-beritahu tentang peristiwa ini dan tentang waktu ini. Berhati-hatilah, dosa adalah seperti kuda binal yang di punggungnya penunggangnya telah ditempatkan dan kekangnya telah dilepaskan, sehingga mereka akan melonjat dengan tunggangannya ke dalam neraka, sementara takwa adalah seperti kuda-kuda yang terlatih yang di punnggungnya para penunggung di-tempatkan dengan kendali di tangannya sehingga mereka akan membawa penunggangnya ke surga. Ada kebenaran dan kebatilan, dan ada para pengikut untuk masing-masingnya. Apabila kebatilan yang mendominasi, hal itu telah terjadi di masa lalu; dan apabila kebenaran menurun, itu pun telah terjadi. Kadang terjadi bahwa sesuatu yang berlamban-lamban di belakang menjadi terkemuka, "Dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. " (QS. 29:43)

Sayid Radhi mencatat: Dalam pembicaraan kecil ini, ada lebih banyak keindahan daripada yang dapat dinilai, dan besarnya ketakjuban yang ditimbulkan olehnya lebih daripada penilaian yang diberikan kepadanya. Walaupun telah saya nyatakan, ini mengandung banyak aspek kefasihan tak dapat diungkapkan, tak ada orang yang menjangkau kedalamannya, dan tak ada orang yang dapat memahami apa yang akan saya katakan, kecuali apabila ia telah mencapai seni ini dan mengenal detail-detailnya. "Dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (QS. 29:43)


Dari Khotbah yang Sama

Orang yang memandang surga dan neraka, tidak mempunyai tujuan lain. Orang yang berusaha dan bertindak dengan cepat, berhasil, sedang pencari yang lamban dapat pula menaruh harapan; dan orang yang kekurangan amal menghadapi kehancuran di neraka. Di kanan dan kiri ada jalan-jalan yang menyesatkan. Hanya jalan tengah yang merupakan jalan yang benar. Pada jalan ini ada Kitab Abadi dan sunah Nabi SAWW. Darinya sunah tersebar dan kepadanyalah tempat kembali.

Orang yang mengaku (sebaliknya) runtuh, dan orang yang mengada-adakan kebatilan akan kecewa. Orang yang melawan kebenaran dengan wajahnya akan beroleh kehancuran.[i] Cukuplah kejahilan bagi orang yang tidak mengenal dirinya. Orang yang berakar kuat dalam takwa tidak binasa,[ii] dan perkebunan suatu kaum yang berdasarkan takwa tidak akan kehabisan air. Sembunyikanlah diri Anda dalam rumah Anda dan perbaikilah diri Anda. Taubat ada di belakang Anda. Orang hanya harus memuji Allah dan menyalahkan dirinya sendiri. •


--------------------------------------------------------------------------------

[i] Dalam beberapa versi, kata-kata man abda shafhatahu lil haqqi halaku" (barangsiapa menentang hak dengan wajahnya maka celakalah ia) disusul kata-kata: "'inda jahalatin-nas". Dalam hal ini arti kalimat itu menjadi "orang tegak yang menghadapi kebenaran, mati dalam penilaian orang yang jahil".

[ii] Takwa adalah penamaan bagi hati dan jiwa yang dipengaruhi kebenaran Ilahi, sehingga jiwanya yang penuh takwa kepada Allah menambah ibadahnya kepada-Nya. Tidak mungkin hati akan penuh dengan takwa kepada Allah tanpa diterjemahkan ke dalam peribadatan dan amal saleh. Dan karena peribadatan dan penyerahan din memperbaiki hati dan membersihkan jiwa maka kebersihan hati bertambah dengan meningkatnya peribadatan. Itulah sebabnya maka takwa, dalam Al-Qur'an, kadang-kadang berarti takut, kadang-kadang berarti kebersihan hati dan jiwa. Dengan demikian firman Allah: "Wa iyyaya fattagun" (dan hanya kepada-Ku-lah karnu harus bertakwa, QS. 2:41), takwa berarti takut, sedang dalam ayat: "ittaqullah haqqa tugatihi" (Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya) (QS. 3:102), takwa berarti peribadatan dan ketaatan, dan dalam ayat Wa yakhsya-l?ha wa yattaghi fa ul?'ika humul-fa'izun (Dan barang-siapa yang taal kepada Allah dan bertakwa kepuda-Nya, maka mereka itu adalah orang-nrang vang mendapM kemenangan) (QS. 24:52), takwa berarti kejernihan jiwa dan kebersihan hati.

Dalam hadis-hadis, takwa dibagi atas tiga tingkat. Tingkat pertama, ialah bahwa seseorang harus menurut perintah-perintah dan menghindari larangan. Tingkat kedua adalah menuruti hal-hal yang sunah (dianjurkan) dan menghindari hal-hal yang makruh atau tidak disukai. Tingkat ketiga, seseorang harus juga menghindari hal-hal yang dibolehkan bila ragu. Tingkat pertama adalah untuk orang biasa, yang kedua bagi orang yang mulia dan yang ketiga bagi orang yang berkemuliaan tinggi.

Tidak ada dosa bagi orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan vang rnereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) berlakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuak kebajikan. (QS. 5:93)

Amirul Mukminm mengatakan bahwa hanya amal yang didasarkan pada takwa yang dapal bcrtahan dan bahwa amal akan berkembang serta berbuah bila diairi takwa, karena ibadat hanya bermakna bila dilakukan dengan penyerahan diri. Allah berfirman:

"Apakah orang-orang yung mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepadu Allah, dan keridaan(-Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yung mendirikan bangunannva di tepi jurang yang runtuh, lulu bangunannya itu jaluh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka jahanam?" (QS. 9:109)

Dengan kata lain, tiap kepercayaan yang tidak berdasarkan pengctahuan dan keyakinan adalah seperti bangunan yang didirikan tanpa fondasi, tak akan kokoh, sedang amal tanpa takwa, adalah seperti tanaman yang layu karena kekurangan air.

(Al-Hassanain/Al-Mujtaba/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Nahjul Balaghah: Khotbah 13


Mengutuk Penduduk Bashrah[1]

Anda (sebelum ini) adalah tentaranya seorang perempuan dan di bawah komando hewan berkaki empat. Bilamana ia menggerutu, Anda menyambut; dan bilamana ia terluka, Anda melarikan diri. Pribadi Anda rendah dan baiat Anda terputus. Keimanan Anda munafik. Air Anda air payau. Orang yang tinggal bersama Anda dimuati dosa, dan orang yang meninggalkan Anda mendapatkan rahmat Allah. Seakan-akan saya melihat mesjid Anda menonjol, menyerupai anjungan kapal, sedang Allah telah mengirim azab dari atas dan dari bawahnya dan setiap orang yang berada di atasnya tenggelam.[2]


Versi Lain

Demi Allah, kota Anda pastilah akan tenggelam sedemikian rupa sehingga seakan-akan saya melihat mesjidnya seperti bagian atas sebuah kapal atau seekor burung unta yang sedang duduk.


Versi Lain

Seperti dada seekor burung di laut dalam.


Versi Lain

Kota Anda adalah yang paling berbau busuk dari semua kota mengenai lempungnya, yang paling dekat ke air dan yang paling jauh dari langit. la mengandung sembilan dari sepuluh kejahatan. Orang yang memasukinya dikelilingi dengan dosa-dosanya, dan orang yang keluar darinya menikmati keampunan Allah. Nampak seakan-akan saya melihat air melanda tempat kediaman Anda ini hingga tak ada yang dapat dilihat darinya kecuali mesjid yang muncul sebagai dada seekor burung di laut dalam. •



--------------------------------------------------------------------------------

[1] lbn Maitsam menulis bahwa ketika Perang Jamal berakhir maka pada hari ketiga, setelah Amirul Mukminin salat Subuh di mesjid pusat Bashrah, ia berdiri di sisi kanan mihrab sambil bersandar ke dinding dan menyampaikan khotbah ini, di mana ia menggambarkan rendahnya watak orang Bashrah serta kelicikan mereka, yakni bahwa mereka terbakar oleh hasutan orang lain tanpa pertimbangan mereka sendiri, dan menyerahkan pimpinannya kepada seorang perempuan yang melekat pada seekor unta. Mereka minggat setelah menyumpahkan baiat, dan mengambii karakter yang rendah dan watak yang buruk dengan mempraktikkan sikap bermuka dua. Dalam khotbah ini perempuan itu berarti 'A'isyah dan hewan berkaki empat itu unta (jamal) yang menurutnya peperangan ini dinamakan, Perang Jamal.

Asal peperangan itu adalah sebagai berikut. Semasa hidup 'Utsman, 'A'isyah biasa menentang khalifah itu, dan ia berangkat ke Makkah dengan meninggalkannya dalam keadaan terkepung; dengan demikian, ia mempunyai saham dalam pcmbunuhan khalifah itu—yang ekor-ekornya akan disebutkan di suatu tempat yang sesuai. Tetapi, ketika kembalinya dari Makkah ke Madinah ia mendengar dari 'Abdullah ibn Salamah bahwa, setelah wafatnya 'Utsman, telah dilakukan pembaiatan kepada Ali (sebagai Khalifah), ia tiba-tiba berteriak, "Bila baiat telah diberikan kepada Ali, semoga langit runtuh ke bumi. Biarkan aku kembali ke Makkah." la pun mcmutuskan untuk kembali ke Makkah dan mulai berkata, "Demi Allah, 'Utsman telah terbunuh tanpa daya. Tentulah aku akan membalaskan dendam atas darahnya." Ketika melihat perubahan besar ini, Abu Salamah berkata, "Apa yang Anda katakan sedangkan Anda sendiri biasa mengatakan, 'Bunuhlah si Na'tsal itu, ia telah menjadi kafir!" Atasnya la menjawab, "Bukan saja saya, tetapi semua orang biasa berkata demikian; tetapi tinggalkan hal-hal ini dan dengarkanlah apa yang sekarang saya katakan; itu lebih baik dan lebih patut diperhatikan. Adalah aneh bahwa mula-mula ia disuruh bertaubat, tetapi sebelum memberikan kesempatan padanya untuk berbuat demikian, ia telah dibunuh." Atasnya, Abu Salamah membacakan puisi berikut, ditujukan kepadanya.

Anda memulainya, dan kini Anda hendak mengubah dan membangkitkan badai angin dan hujan.

Anda memerintahkan pembunuhannya seraya mengatakan ia telah berbalik kafir.

Kami akui ia dibunuh tetapi atas perintah Anda, dan pembunuh ialah yang menyuruhkannya.

Namun bagaimanapun, langit tak akan runtuh menimpa kita, matahari dan bulan tak akan gerhana.

Sungguh orang telah mcmbaiat dia yang dapat mengusir musuh dengan kekuatan dan keagungan, yang tak membiarkan pedang mendekatinya dan yang mengorakkan buhul tali, yakni menundukkan musuh.

la selalu siap bertarung, dan si mukmin mustahil sama dengan si khianat.

Namun, kelika 'A'isyah sampai ke Makkah dengan semangat untuk membalas dendam, ia mulai membangkitkan rakyat untuk menuntut balas atas darah 'Utsman, dengan menyiarkan cerita-cerita bahwa khalifah ini telah dijadikan korban. Yang pertama-tama menyambut seruan ini ialah 'Abdullah ibn 'Amir Hadhrami, gubernur Makkah di zaman pemerintahan 'Utsman; dan bersamanya Marwan ibn Hakam, Sa'id ibn 'Ash dan orang-orang Bani Umayyah lainnya, bangkit mendukungnya. Sementara itu, Thalhah ibn 'Ubaidillah dan Zubair ibn 'Awwam sampai di Makkah dari Madinah. Dari Yaman Ya'la ibn Munabbih yang telah menjadi gubernur di sana di zaman Khalifah 'Utsman dan bekas Gubernur Bashrah 'Adbullah ibn 'Amir ibn Kuraiz juga tiba. Dengan bergabung mereka lalu mempersiapkan rencana. Pertempuran telah diputuskan, tetapi ada perbedaan pendapat tentang medannya. 'A'isyah menghendaki Madinah sebagai tempat pertempuran, tetapi sebagian menentang dan berpendapat bahwa sulit berurusan dengan orang Madinah; harus dipilih tempat lain sebagai medan. Akhirnya, setelah pembahasan panjang lebar, diputuskan untuk ke Bashrah, karena di sana tak akan kekurangan orang yang akan mendukung perjuangan itu. Akhirnya, dengan dukungan harta 'Abdullah ibn 'Amir yang melimpah ruah, dan tawaran enam ratus ribu dirham serta enam ratus ekor unta oleh Ya'la ibn Munabbih, mereka menyiapkan tentara yang terdiri dari tiga ribu orang, lalu berangkat ke Bashrah.

Ada suatu insiden kecil dalam perjalanan, yang hampir membatalkan 'A'isyah melanjutkan perjalanan. Di suatu tempat ia mendengar anjing menyalak, lalu ia mcnanyakan nama tempat itu pada pengendali unta. Jawabnya, Hau'ab. Ketika mendengar nama ini ia teringat peringatan Nabi ketika beliau mengatakan kepada para istri beliau, "Saya ingin tahu siapa di antara kalian yang akan disalaki anjing di Hau'ab." Maka ia menyadari bahwa ia sendirilah itu; ia menyuruh unta itu duduk, dengan menepuk-nepuknya, seraya mengatakan maksudnya untuk meninggalkan perjalanan itu. Tetapi gagasan para sekutunya mcmbebaskan mereka dari situasi itu. 'Abdullah ibn Zubair bcrsumpah unluk meyakinkannya bahwa tempal ilu bukan Hau'ab, Thalhah menyusulnya, dan uniuk lebih meyakinkannya, juga mengirimkan lima puluh orang untuk memberi kesaksian palsu atasnya. Menghadapi semua orang ini, apa yang dapat dilakukan seorang wanita. Akhirnya mereka berhasil, dan A'isyah melanjutkan perjalanannya dengan gairah yang sama.

Ketika tentara ini sampai di Bashrah, orang mula-mula tercengang melihat hewan tunggangan 'A'isyah. Jariah ibn Qudamah maju seraya berkata, "Wahai, Ummul Mu'minin, pembunuhan 'Utsman merupakan tragedi, tetapi yang lebih besar lagi ialah bahwa Anda telah keluar di atas unta terkutuk ini dan menghancurkan kehormatan dan kemuliaan Anda. Lebih baik Anda kembali." Tetapi, karena peristiwa Hau'ab tak dapat menghalanginya, dan perintah Al-Qur'an, "Dan hendaklah karnu tetap di rumahmu" (QS. 33:33) tak dapat mencegahnya, pengaruh apa yang dapat diberikan suara ini!

Ketika tentara ini berusaha memasuki kota, Gubernur Bashrah, 'Utsman ibn Hunaif, maju untuk menghentikan mereka. Kedua pihak berhadap-hadapan, menghunus pedang dan saling menebas. Ketika sejumlah orang telah tewas dari kedua pihak, 'A'isyah turun tangan dengan pengaruhnya dan kedua kelompok setuju bahwa, hingga tibanya Amirul Mukminin, pemerintahan yang ada boleh diteruskan, dan 'Utsman ibn Hunaif terus pada kedudukannya. Tetapi, baru dua hari kemudian, mereka melakukan serangan di malam hari terhadap 'Utsman ibn Hunaif, membunuh lima puluh orang yang tak bersalah, memukuli 'Utsman ibn Hunaif, menawan dan mengurungnya, mencabuti setiap rambut janggutnya. Kemudian mereka menyerang baitul mal dan menjarahinya, membunuh dua puluh orang di tempat itu juga, dan memancung lima puluh kepala orang yang telah mereka tawan. Sudah itu mereka membongkar gudang gandum, di mana seorang tua terkemuka di Bashrah, Hukaim ibn Jabalah, tak dapat lagi menahan sabar. Ketika sampai di sana bersama beberapa orangnya, ia berkata kepada 'Abdullah ibn Zubair, "Tinggalkan sebagian dari gandum ini untuk penduduk kota. Setelah semua ini, harus ada batas bagi kelaliman. Anda telah menyebarkan pembunuhan dan kerusakan di mana-mana dan mengurung 'Utsman ibn Hunaif. Demi Allah, hcntikan kegiatan-kegiatan penghancuran ini dan bebaskan 'Utsman ibn Hunaif. Tak adakah lagi rasa takut kepada Allah dalam hati kalian?" Ibn Zubair mengatakan, "Ini pemabalasan dendam atas nyawa 'Utsman." Hukaim ibn Jabalah menjawab, "Apakah orang-orang yang telah terbunuh itu pembunuh 'Utsman? Demi Allah, jika aku punya pendukung dan teman, tentulah aku akan membalaskan dendam atas darah muslimin yang telah Anda bunuh tanpa sebab ini." Ibn Zubair menjawab, "Kami tidak akan meninggalkan sedikit pun dari gandum ini, lidak pula 'Utsman ibn Hunaif dibebaskan." Akhirnya pertempuran pecah di antara kedua pihak. Tetapi, bagaimana bebcrapa orang ini akan mcnghadapi kekuatan yang demikian besar itu? Hasilnya, Hukaim ibn Zabalah, putranya Asyraf ibn Hukaim ibn Jabalah, saudara lelakinya Ri'l ibn Jabalah serta tujuh puluh orang anggota sukunya terbunuh. Singkatnya, pembunuhan dan penjarahan merajalela di mana-mana. Tak ada nyawa terjamin, tak ada jalan untuk menyelamatkan kehormatan atau hak milik scscorang.

Ketika Amirul Mukminin diberitahu tentang rombongan yang ke Bashrah itu, ia berangkat untuk menghentikannya, dengan suatu pasukan yang terdiri dari tujuh puluh orang yang telah turut serta dalam Perang Badr dan empal ratus orang dari para sahabat yang mendapat kehormatan hadir dalam Baiat Ridhwan. Ketika tiba di perhentian Dziqar, ia mengirim putranya Hasan a.s. dan 'Ammar ibn Yasir ke Kufah utnuk mengajak rakyatnya berperang. Sebagai hasilnya, walaupun ada rintangan dari Abu Musa al-Asy'ari, tujuh ribu prajurit dari sini bergabung dengan tentara Amirul Mukmmin. la menmggalkan tempai itu setelah mengatur tentara di bawah pimpman berbagai komandan.

Para saksi mata menyatakan, ketika pasukannya sampai ke dekat Bashrah, pertama-tama suatu kontingen kaum Anshar muncul di barisan paling depan; panjinya dipegang oleh Abu Ayyub al-Anshari. Sesudahnya muncul kontingen seribu orang dengan komandan Khuzaimah ibn Tsabil al-Anshari. Kemudian nampak suatu kontingen lain, panji dipegang Qatadah ibn ar-Rabi'. Lalu rombongan seribu orang tua dan muda kelihatan. Di dahi mereka tampak tanda-tanda sujud dan wajah takwa kepada Allah di mukanya, seakan-akan mereka sedang berdiri di hadapan Kemuliaan Ilahi pada Hari Pengadilan. Komandan mcreka menunggang kuda warna gelap, berpakaian putih, berserban hitam dan sedang membaca Al-Qur'an dengan suara keras. Itulah 'Ammar ibn Yasir. Kemudian satu kontingen lain muncul. Pemimpinnya memakai pakaian putih dan berserban hitam. la begitu gagah sehingga semua mata terpusat kepadanya. Ini 'Abdullah ibn 'Abbas. Lalu menyusul suatu kontingen para sahabat Nabi. Pembawa panjinya adalah Qutsam ibn 'Abbas. Kemudian, setelah lewatnya beberapa kontingen, nampak serombongan besar, di mana terdapat sejumlah besar tombak yang menonjol dan bendera-bendera berbagai warna berkibar. Di antaranya, suatu panji yang besar dan megah kelihatan dalam posisi istimewa. Di belakangnya nampak seorang penunggang kuda yang dikawal keanggunan dan keluhuran. Saraf-sarafnya berkembang dengan baik, matanya menunduk. Keanggunan dan kemuliaannya sedemikian rupa sehingga tidak ada orang yang akan menatap mukanya. Inilah singa Allah yang selalu jaya, Ali ibn Abi Thalib a.s. Di kanan dan kirinya Hasan dan Husain a.s. Di depannya Muhammad ibn Hanaiiah bcrjalan dengan langkah-langkah perlahan, membawa panji kejayaan dan kemuliaan, dan di belakangnya orang-orang muda Bani Hasyim, orang Badar, dan 'Abdullah ibn Ja'far ibn Abi Thalib. Kelika tentara itu sampai ke tempat yang bernama Zawiah, Amirul Mukminin turun dari kudanya. Setelah mendirikan salat empat rakaat, ia meletakkan pipinya ke bumi. Ketika ia mengangkat kepalanya, bumi itu basah dengan air mata. Lalu ia mengucapkan kata-kata,

"Wahai Pemelihara bumi, langit dan alam semcsta; ini Bashrah. Penuhilah haribaan kami dengan kebaikannya dan lindungilah kiranya kami dari kejahatannya."

Kemudian ia maju. Di medan pertempuran Jamal di mana musuh tclah berkemah, ia turun. Pertama-tama Amirul Mukminin memaklumkan kepada tentaranya bahwa tiada seorang pun boleh menyerang, tak boleh memulai serangan. Dengan mengatakan ini ia maju ke depan tentara lawan dan mcngatakan kepada Thalhah dan Zubair, "Anda tanyakankah kepada 'A'isyah dengan bersumpah atas nama AHah dan Nabi-Nya, apakah saya tidak bebas dari darah 'Utsman dan apakah saya menggunakan kata-kata yang sama baginya yang biasa Anda gunakan, dan apakah saya menekan Anda unluk membaiat atau Anda mcnyampaikan baiat Anda itu atas kehendak bebas Anda sendiri." Thalhah menjadi jengkel atas kata-kata ini, tetapi Zubair melunak dan Amirul Mukminin berpaling setelah itu, dan memberikan Al-Qur'an kepada Muslim (seorang muda dari suku 'Abd Qais) seraya mengutusnya kepada mereka untuk memaklumkan keputusan Al-Qur'an. Tetapi, keduanya dijadikan sasaran panah, dan orang saleh ini dipenuhi panah mereka. Kemudian 'Ammar ibn Yasir maju untuk mcnasihati mcreka, berusaha mcyakinkan dan mengingatkan mereka akan akibat-akibat peperangan, tetapi kata-katanya pun dijawab dengan panah.

Hingga saat ini Amirul Mukminin tidak mengizinkan menyerang, sehingga musuh semakin berani dan terus menghujankan anak panah. Akhirnya, dengan gugurnya beberapa pejuang yang berani, timbul kecemasan di kalangan barisan Amirul Mukminin, dan orang datang dengan beberapa mayat ke depannya seraya mengatakan, "Wahai, Amirul Mukminin, Anda tidak mengizinkan kami berperang sementara mereka menghujani kami dengan panah. Berapa lama kami dapat mem-biarkan mereka menjadikan kami korban panah dan tinggal berpangku tangan atas pcrbuatan mereka yang semena-mena?"

Atasnya, Amirul Mukminin ada menunjukkan kamarahan, tetapi ia bertindak dengan sabar dan menahan diri. la datang kepada musuh tanpa senjata dan tanpa baju zirah, seraya berseru, "Di mana Zubair?" Mula-mula Zubair ragu untuk maju, tetapi ketika melihat Amirul Mukminin tidak bersejata, ia keluar. Amirul Mukminin berkata kepadanya. "Wahai, Zubair, tentu Anda ingat bahwa pada suatu hari Nabi mengatakan kepada Anda bahwa Anda akan berperang dengan saya, dan kesalahan dan pelanggaran batas ada di pihak Anda." Zubair menjawab bahwa memang beliau telah berkata demikian. Kemudian Amirul Mukminin menanyakan, "Maka, mengapa Anda datang?" la mengatakan bahwa ia telah melupakannya dan apabila ia mengingatnya lebih dini ia tidak akan datang seperti itu. Amirul Mukminin berkata, "Nah, sekarang Anda telah mengingatnya." Lalu ia menjawab, "Ya." Setelah mengatakan ini Zubair langsung pergi kepada 'A'isyah seraya mengatakan kepadanya bahwa ia akan pulang. 'A'isyah menanyakan sebabnya dan ia mengatakan, "Ali telah mengingatkan kepada saya suatu hal yang terlupakan. Saya tersesat, tetapi sekarang saya telah datang kepada jalan yang benar, dan bagaimanapun saya tidak akan berperang melawan 'Ali ibn Abi Thalib." 'A'isyah berkata, "Engkau telah ketakutan kepada pedang putra-putra 'Abdul Muththalib." la mengatakan, "Tidak," dan dengan mengatakan ini ia memalingkan kudanya. Bagaimanapun, adalah menyenangkan bahwa kata-kata Nabi telah mendapat perhatian. Karena di Hau'ab, bahkan ingatan kepada kata-kata Nabi hanya diperhatikan sekilas.

Ketika kembali sctelah percakapan itu, Amirul Mukminin melihat bahwa mereka telah menyerang sayap kiri dan kanan tentaranya. Melihat ini, Amirul Mukminin mengatakan, "Sekarang pembicaraan telah habis. Panggil anak saya Muhammad." Ketika ia datang, Amirul Mukminin berkata, "Putraku, seranglah mereka sekarang." Muhammad menundukkan kepala dan seraya mengambil panji ia maju ke medan pertempuran. Tetapi, anak panah sedang turun dengan derasnya sehingga ia terpaksa berhenti. Ketika Amirul Mukminin melihat ini, ia berseru kepadanya, "Muhammad, mengapa engkau tidak maju?" la menjawab, "Ayah, dalam curahan panah ini tak ada jalan untuk maju. Tunggu sampai curahan panah mereda." la berkata, "Tidak, mendesaklah maju dalam panah dan tombak, dan seranglah." Muhammad ibn Hanafiah maju sedikit, tetapi para pemanah mengepungnya demikian rupa sehingga ia harus menahan langkahnya. Ketika melihat ini suatu kerutan muncul di dahi Amirul Mukminin, dan sambil maju, ia menyentuh punggung Muhammad dengan gagang pedang seraya mengatakan, "Ini akibat nadi ibumu." Dengan mengatakan ini ia mengambil panji dari tangannya, dan sambil menggulung lengan bajunya, ia menyerang demikian sengit sehingga kekacauan timbul di barisan musuh dari ujung ke ujung. Setiap barisan yang dihadapinya porak poranda, ke arah mana saja ia mengarahkan dirinya, tubuh-tubuh nampak berjatuhan dan kepala bergelinding di tapak kuda. Setelah memorakmorandakan barisan-barisan itu, ia kembali ke posisinya semula, lalu berkata kepada Muhammad ibn Hanafiah, "Lihatlah, putraku, pertempuran dilakukan seperti itu." Dengan mengatakan ini ia memberikan panji itu kepadanya dan menyuruh maju kapada musuh dengan satu kontingen Anshar. Musuh juga keluar bergerak dan menimang tombak mereka. Tetapi putra dari ayah yang gagah berani ini tnengacaukan barisan musuh sementara para pejuang lain juga berjaya di medan tempur itu, dengan meninggalkan tumpukan kepala dan tubuh.

Di pihak lawan juga ada nampak semangat dan pengorbanan. Mayat-mayat jatuh saling menindih, tetapi mereka terus berkorban nyawa dengan setia di sckitar unta yang ditunggangi 'A'isyah. Terutama Bani Dhabbah. Walaupun tangan mereka yang memegang kendali unta terputus dari siku, dan dada tertusuk, mereka terus mcnyanyikan nyanyian perang berikut ini:

Bagi kami maut lebih manis dari madu

Kami Bani Dhabbah, pemelihara unta

Kami putra maut bila maut tiba

Kami memaklumkan kematian 'Utsman dengan ujung tombak

Kembalikan pemimpin kami Maka berakhirlah itu

Karakler yang rendah dan kejahilan Bani Dhabbah ini dapat dipahami dari satu insiden yang diriwayatkan Mada'ini. la menulis bahwa di Bashrah ada seorang lelaki dengan telinga yang rusak. Ketika ditanyakan scbabnya, ia berkata,

"Saya sedang melihat tubuh-tubuh mati di medan tempur Jamal ketika saya melihat seorang lclaki yang cidera yang kadang-kadang mengangkat kepalanya dan kadang-kadang mcnjatuhkannya kembali ke tanah. Saya mendekat. Lalu, kedua bait berikut ini keluar dari bibirnya:

Ibu kami mendorong kami ke perairan maut yang dalam

Dan tidak kembali sebelum kami minum dengan sempurna

Sial kami manaati Bani Taim

Yang tak lain dari budak lelaki dan perempuan

Saya katakan kepadanya bahwa itu bukan saat membaca syair; seharusnya ia mengingat Allah dan mengucapkan kalimah syahadat. Ketika saya mengatakan ini, ia melihat saya dengan pandangan marah dan mengucapkan cercaan yang keras seraya mengatakan, 'Engkau meminta saya mengucapkan syahadat, ketakutan pada saat terakhir dan menunjukkan kecemasan.' Saya tercengang mendengar ini dan memutuskan untuk kembali tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ketika ia melihat saya sedang berbalik, ia berkata, 'Tunggu! Demi engkau, saya bersedia mengucapkannya, tetapi ajari saya!' Ketika saya mendekat untuk mengajarinya kalimah, ia meminta saya lebih mendekat. Ketika saya lebih dekat, ia menggigit kuping saya dan tidak melepaskannya hingga ia menyobeknya dari akarnya. Saya tidak merasa pantas untuk menganiaya orang yang sedang menhadapi ajalnya, dan ketika saya akan kembali dengan mencerca dan mengutuknya, ia meminta kepada saya untuk mendengarkan satu hal lagi. Saya setuju, kalau-kalau ia mempunyai keinginan yang tak dipenuhi. la mengatakan bahwa ketika saya akan kembali kepada ibu saya dan ia bertanya siapa yang telah menggigit kuping saya, saya harus mengatakan bahwa itu dilakukan oleh 'Umair ibn Ahlab ad-Dhabbi yang telah tertipu oleh seorang wanita yang ingin menjadi komandan kaum mukmin.

Ketika kilauan sinar pedang berakhir, ribuan orang tewas, ratusan Bani Azd dan Banl Dhabbah tewas karena memegang kendali unta itu. Amirul Mukminin memerintahkan, "Bunuhlah unta itu, karena ia setan." Seraya mengatakan ini ia menyerang demikian kerasnya sehingga jeritan "Damai!" dan "Perlindungan!" muncul dari mana-mana. Ketika ia sampai ke dekat unta itu, ia memerintahkan Bujair ibn Duljah supaya segera membunuh unta itu. Bujair menyerangnya dengan sangat dahsyat, sehingga unta itu jatuh sekarat. Bcgitu unta itu jatuh, tentara lawan mclarikan diri dan tandu yang memuat 'A'isyah tertinggal sendiri tanpa pengawal. Para sahabat Amirul Mukminin membenahi tandu itu dan, atas perintah Amirul Mukminin. Muhammad ibn Abu Bakar mengawal 'A'isyah ke rumah Shafiah binti Harits.

Pertempuran ini dimulai 10 Jumadil Akhir 36 H. di siang hari dan berakhir di sore hari itu juga. Dari 22.000 tentara Amirul Mukminin, 1.070—menurut suatu versi lain 500—orang gugur sebagai syuhada'; sedang dari tentara 'A'isyah yang berjumlah 30.000, tewas 17.000, dan ucapan Nabi, "Kaum yang menyerahkan urusan (negara)-nya kepada wanita, tak akan makmur," sesuai sepenuhnya. (Al-Imarnah wa as-Siyasah; Al-'Iqd al-Fand; at-Tdrikh ath Thabari)

[2] Ibn Abil Hadtd menulis bahwa, sebagaimana diramalkan Amirul Mukminin, Bashrah dua kali dilanda banjir—sekali di masa al-Qadir Billah dan sekali dalam pemerintahan al-Qa'irn ibn Amrillah, dan keadaan banjir begitu dahsyat sehingga seluruh kota terendam dalam air, tetapi ujung puncak mesjid muncul di atas permukaan air sebagai seekor burung yang duduk di sisi dadanya.

(Al-Hassanain/Al-Mujtaba/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

ABNS Video You Tube

Terkait Berita: