Daftar Isi Internasional Angkasa News Global

Advertising

Lyngsat Network Intelsat Asia Sat Satbeams

Pesan Rahbar

Sekilas Doa Arafah Imam Husain as dan Doa Arafah Imam Husain as

Doa Arafah (Bahasa Arab: دعاء العرفة ) adalah diantara doa-doa Syiah yang menurut riwayat dibaca oleh Imam Husain as pada hari ke-9 Dzul...

Tampilkan postingan dengan label ABNS ISI TALMUD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ABNS ISI TALMUD. Tampilkan semua postingan

Talmud: Bani Hashim Secara Garis Ibu Merupakan Seutuhnya Berdarah Yahudi dan Sekaligus Keturunan Langsung Nabi Daud as. Simak Isi Kitabnya dan Simak Juga Jawaban Islam Syiah!

Sefer Bereshit 21:21

Shalom ‘aleychem
Assalamu ‘alaykum

Teks kitab suci bukan sekedar dokumen pewahyuan dalam paradigma teologis yang bersifat sakral, tetapi teks tersebut dapat pula dibaca sebagai rekaman kolektif dalam ranah historis yang bersifat profan. Dalam konteks inilah kita harus berani melakukan ‘pembacaan ulang’ terhadap teks sakral itu berdasarkan pembuktian linguistik dan sejarah.

Bila kita membaca teks sakral ini ada kata kunci secara linguistik yakni istilah abna‘ ( ابناء ) yang terkait dengan klaim kenabian. Tatkala membahas Qs. Al-Baqarah 2:146 seorang Muslim berdarah Yahudi Aschenazim yang bernama Muhammad Asad, penulis the Message of the Qur’an menyatakan:

“this refers more explicit predictions of the future advent of the Prophet Muhammad.”

Istilah ابناء (abna’) dalam bahasa Arab ini sejajar dengn istilah בני (b’ney) dalam bahasa Ibrani/ Hebrew. Jadi teks kenabian pada ayat yang terkait dengan term tersebut bukan sekedar bermakna alegoris tapi justru berlatar biologis. Coba perhatikan ayat ini.

الذين اءتينهم الكتاب يعرفونه كما يعرفون ابناءهم

(Q البقرة 2:14) 

אלה אשר נתנו להם את הספר מכירים אותו כפי שמכירים את בניכם

( סורת אלבקרה 2:146)

Elleh asher natannu lachem et has-Sefer machchirim oto kefiy shemmachchirim et b’neychem

Orang-orang yang telah Kami anugerahkan Al-Kitab mengenalnya (Muhammad SAW) seperti mengenal anak-anak mereka sendiri

(Al-Baqarah 2:146)

Berdasarkan bukti historis dari catatan teks2 Tarikh Islam, ternyata Nabi Muhammad SAW memang bukan disebut sebagai orang Arab ‘Aribah (Arab asli) tapi dia disebut sebagai orang Arab Musta’ribah (bukan asli Arab). Sementara itu, berdasarkan teks-teks Rabbinic dalam bahasa Ibrani (Hebrew), terutama Sefer ha-Galui yang membicarakan tentang Resh Geluta kaum Exilarch di Arabia dan Babilonia (the Babylonian Exilarchs), ternyata garis ibu Nabi Muhammad SAW itu bukan asli keturunan Quraish. Anda terhenyak dengan fakta ini?

Hasyim putra Quraish menikah dengan Salma binti Amr, dan Amr berasal dari bani Najjar, kaum Yahudi Musta’ribah di Yatsrib/ Medinta. Bani Najjar ini adalah kaum Yahudi diaspora yang tinggal di kota Yatsrib. Orang-orang Arab pra-Islam menyebutnya kota Yatsrib, sedangkan orang-orang Yahudi Musta’ribah menyebutnya bukan dengan sebutan Yatsrib tapi dengan sebutan Medinta, sebagaimana yang tercatat dalam Targum Onkelos yang tertulis dalam bahasa Judeo-Aramic sejak pada abad 1 M., era pra-Islam.

Jadi nama Medinta telah populer 6 abad sebelum era Islam. Kaum Yahudi Musta’ribah yakni kaum Yahudi Sephardim dan Mizrachim tahu betul wilayah Medinta ini sebelum Islam ada. Belum ada data yang menjelaskan mengapa kaum Yahudi Musta’ribah ini mendiami wilayah Yatsrib ini secara masif dan bergenerasi berdasarkan alasan2 historis, politis, ekonomi, sosial, kultural atau pun agama. Namun yang perlu digaris bawahi adalah identitas bani Hashim (anak cucu/keturunan Hashim) itu sendiri yang sangat unik, karena hanya melalui bani Hashim saja darah Ishmael dan darah Israel bercampur dalam satu klen/qabilah, yang kemudian dalam Tarikh Islam disebut qabilah bani Hashim.

Tentu saja dalam Tarikh Islam, terutama saat era kenabian juga ada catatan sejarah tentang penderitaan bani Hashim yang diboikot dan diasingkan/dibuang (exile) oleh suku-suku Arab lain gara-gara tampilnya seorang Nabi dari kalangan bani Hashim. Mengapa bukan hanya seorang/sekelompok orang dari keturunan bani Hashim yang diboikot dan dibuang atau diasingkan (exile)? Bukankah pengasingan itu berlangsung selama bertahun2 secara ekonomi, politik dan sosial? Mengapa seluruh bani Hashim yang dibuang (exile) dan bukan hanya Sang Nabi saja yang dibuang? Mengapa seluruh bani Hashim harus menanggung derita akibat ‘ulah’ satu orang di antara mereka dan seluruh bani Hashim siap membelanya? Nampaknya peristiwa sejarah pembuangan (exile) yang menimpa bani Hashim ini terkait juga dengan hadits Shahih Muslim.

ان الله اصطفى كنانة من ولد اسماعيل و اصطفى قريسا من كنانة واصطفى قريسا بني هاشم و اصطفى ني بني هاشم – صحيح مسلم

Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya ALLH telah memilih Kinanah dari antara keturunan Ishmael, dan memilih Quraish dari antara keturunan Kinanah dan memilih bani Hashim dari antara keturunan Quraish dan memilih aku – kata Nabi SAW – dari antara bani Hashim (H.R. Imam Muslim).

Hashim selain menikah dengan wanita Yahudi Musta’ribah dari bani Najjar yang bernama Salma binti Amr, yang melahirkan Syaiba (Abdul Muthalib), ternyata Hashim juga beristri wanita lain yang bernama Qaylah yang melahirkan baginya seorang anak bernama Asad. Asad ibn Hashim menikah dengan Zahna, putri seorang Resh Geluta kaum Exilarch ke-32 dari Babilonia yang bernama Hofnai, dan di Babilonia tersebut kaum exilarch ini di bawah pimpinan Resh Geluta (pimpinan kaum buangan), dan Resh Galuta sendiri secara Halacha adalah keturunan Nabi Daud AS.

Adik ipar Hushiel ben Hofnai yang bernama Asad ibn Hashim, yang menikah dengan Hazna binti Hofnai putri Exilarch ke-32 ini melahirkan Fathimah binti Asad, yang kemudian dinikahi oleh Abu Thalib bin Abdul Muthalib ibn Hashim. Namun, mengapa Asad ibn Hashim menamai putrinya dengan nama Fathimah? Apa hubungannya nama ini dengan Hazna binti Hofnai putri Exilarch ke-32 dari Babilonia? Sepertinya ada campur tangan Hazna dalam penamaan putrinya ini yang merupakan ingatan kolektifnya utk mengenang kembali nama lelulur dari keluarga suaminya, yakni Asad bin Hashim, keturunan Ishmael. Penamaan ini juga sebenarnya merupakan bukti bahwa nama Fathimah bukanlah nama asli Arab, tetapi nama khas Ibrani yang muncul dalam Targum Yonathan berbahasa Judeo-Aramaic yang ditulis pada abad ke-1 M. Ishmael dalam Tagum Yonathan beristri פטימא (Phetima) sesuai teks Targum Yonatahan, Sefer Bereshit 21:21 yang menyebut sbb:

ויתיב במדברא דפראן ונסיב אתחא ית עדישא ותרבה ונסיבת ליה אמיה ית פטימא אתהא מארעא דמצרים

‘And he dwelt in the wilderness of Pharan and took for a wife Adisha, but put her away. And his mother took for him Phatima to wife from the land of Egypt.


Jadi bani Hashim secara garis ibu – seutuhnya berdarah Yahudi dan sekaligus keturunan langsung Nabi Daud AS (1).

Data sejarah membuktikan adanya jalur politik dan keagamaan antara kaum Exilarch di Baghdad – Babilonia (Irak) dan di Medinta (Saudi Arabia) era pra-Islam. Hal ini bisa dibaca melalui kemapaman teks Targum Onkelos dalam bahasa Judeo-Aramaic yang tersebar di kalangan Yahudi yang bermukim di wilayah Yaman, Hijaz dan wilayah Babilonia, dan dibaca secara meluas oleh semua kaum Yahudi di wilayah tersebut (2).

Bahkan kemapanan hubungan kedua wilayah penting dan strategis ini dapat pula terbaca melalui kemunculan Targum Saadia berbahasa Judeo-Arabic yang menyebut nama Al-Madinah, sehingga tidak salah bila kaum Yahudi yang berdiaspora ke wilayah itu justru mendahului kedatangannya sebelum terbukukannya Targum Saadia dalam bahasa Judeo-Arabic, yang dalam Targum Onkelos disebut Medinta. Jadi Rav Saadia Gaon hanya merekam ingatan kolektif bangsa Yahudi tentang keberadaan wilayah Medinta ini dengan bahasa Judeo-Arabic, yg disebutnya Al-Madinah. Itulah sebabnya tatkala Nabi SAW hijrah ke kota Yatsrib, maka seluruh kaum Yahudi Musta’ribah tidak kaget tatkala Nabi SAW mengubah dan menamai kota tersebut dengan sebutan Al-Madinah menurut lisan bahasa Arabic, sedangkan kaum Yahudi Musta’ribah sejak era pra-Islam menyebutnya Medinta menurut lisan bahasa Judeo-Aramaic. Perpindahan Nabi SAW dari Mekkah ke kota Yatsrib yang disebut Medinta oleh kaum Yahudi Musta’ribah ternyata tidak hanya dibaca terkait dengan peristiwa Hijrah an sich, tapi sekaligus pula menandai dan melanjutkan peradaban leluhurnya di kota Yatsrib yang disebut Medinta, yang kemudian oleh Nabi SAW diteguhkannya kembali dengan nama Al-Madinah.


Notes:

1. Jika Anda penasaran silakan membaca Jurnal terbitan Hebrew University berjudul ‘A Note on Early Marriage Links between Qurashis and Jewish Women’, see Jerusalem Studies in Arabic and Islam vol.10 (1987), references to Jewish ladies of “Noble Birth” are descended from the Exilarch.
2. Silakan membaca buku The Targum of Onkelos to Genesis: A Critical Enquiry into the Value of the Text Exhibited by Yemen Mss. Compared with that of the European Recensian Together with Some Specimen Chapters of the Oriental Text (Henry Barnstein, 1896).


Bagaimana Menurut Anda?


Jawaban Islam Syiah:

Siapa Tuh Bani Hasyim????

Simak ini:

Bani Hasyim

Bani Hasyim (bahasa Arab: بنو هاشم ) sebuah marga terkenal dari kabilah Quraisy sebelum dan sesudah Islam di Mekah yang dinisbatkan kepada Hasyim (Amr) bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab. Rasulullah saw berasal dari marga ini. Ketika Islam muncul, marga ini pada masa kepemimpinan Abu Thalib banyak sekali membela Rasulullah saw, dan pada masa para Imam juga menjadi pembela para Imam as dalam banyak hal.

Keluarga Bani Abbas, salah satu keluarga terpenting Bani Hasyim, telah berkuasa atas negara-negara Islam pada beberapa abad. selain itu, di pelbagai kawasan dunia Islam, keluarga lainnya dari Bani Hasyim juga berkuasa dalam pelbagai periode sejarah. Bangsawan Mekah dan Madinah yang berabad-abad berkuasa dan memimpin atas dua kota ini berasal dari Bani Hasyim.

Dalam fikih Syiah, para sayid (habaib) adalah Orang-orang yang nasab mereka menyambung ke Hasyim. Karena Nabi saw berasal dari kaum Hasyimi, maka mereka dihormati oleh kaum muslimin.


Pra Islam

Qushai bin Kilab adalah salah seorang keturunan Nabi Ismail as dan hidup kurang lebih satu abad sebelum kelahiran Rasulullah saw. Melalui kiprah-kiprahnya, ia menjadi pembesar Quraisy dan memegang kedudukan-kedudukan penting Mekah dan rumah Ka’bah. Sepeninggalnya, kedudukan-kedudukan tersebut jatuh ke tangan keturunannya. Namun sepeninggal Abdi Manaf dan Abd al-Dar (keturunan Qushai) terjadi persengketaan yang sengit antara Hasyim dan saudaranya (Bani Abdi Manaf) dengan para sepupunya (Bani Abd al-Dar) mengenai kedudukan Ka’bah, yang hal tersebut mengakibatkan Hilful Muthayyibin[Note 1] dan Hilful Ahlaf[Note 2]. Setelah perselisihan mereda, dua kedudukan rifadah (memberi makan para jemaah haji) dan siqoyah (memberi minum para jemaah haji) dipegang oleh Bani Abdi Manaf yang diantara mereka adalah Hasyim.


Hasyim

Hasyim, setiap tahun dalam melaksanakan tanggung jawab memberi makan para penziarah Ka’bah mendapat keuntungan dari partisipasi dan bantuan keuangan dari keluarga-keluarga Quraisy. [1] Demikian juga, dengan menggali sumur, dia mempermudah pemberian air kepada para penyelenggara haji.[2] Hasyim juga meningkatkan perdagangan Quraisy dan dengan pakta perdagangan (dimana dalam Al-Quran dikenang dengan Îlaf al-Qurasiy) [3] mampu memperbaiki rute perdagangan Quraisy menjadi dua perjalanan; musim panas menuju Syam dan musim dingin menuju Yaman dan Habasyah. [4] Demikian juga, dia mampu menyediakan makanan untuk Quraisy pada salah satu tahun-tahun paceklik dan menyelamatkan mereka dari kelaparan. [5] Sekumpulan ini semua membuat Hasyim memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan para Quraisy.

Hasyim memiliki empat putra, yang bernama Syaibah (Abdul Muththalib), Asad, Amr (Abu Saifi), Nadla dan juga memiliki lima putri. [6]


Abdul Mutthalib

Sepeninggal Hasyim, saudaranya Muththalib bin Abdi Manaf mengemban kedudukannya dan setelah Abdul Muththalib (putra Hasyim) menjadi pengganti Muththalib. [7]

Abdul Muththalib karena karakter besarnya, selain memiliki kedudukan memberi minum dan makan, ia juga memiliki kemuliaan di sisi penduduk Mekah. Demikian juga, galian sumur Zamzam juga telah melipat gandakan kedudukan besarnya dalam pandangan para pelaksana haji. Bani Abdi Manaf, termasuk Bani Hasyim merupakan kebanggaan untuk selain Quraisy dan menganggap pemberian air dari sumur ini merupakan kebanggaan terbesar untuk dirinya. [8]

Kedudukan Abdul Muththalib dalam peristiwa serangan pasukan Abrahah ke Mekah di tahun Gajah semakin meningkat; karena kedudukan khususnya di sisi Quraisy, ia hadir sebagai wakil dari orang-orang Mekah mendatangi Abrahah. Pertemuan Abdul Muththalib dengan Abrahah dan kemudian bimbingannya kepada penduduk Mekah supaya menuju gunung-gunung di sekitar kawasan dan penjagaannya atas mereka dari penindasan pasukan Abrahah menyebabkan Quraisy dalam peristiwa ini menjulukinya sebagai Ibrahim kedua. [9]

Sebagian keturunan Abdul Muththalib hanya dikenal sebagai sisa keturunan dari keturunan Hasyim, mereka menganggap sama antara Bani Hasyim dengan Bani Abdul Muththalib; [10] sementara dengan adanya keturunan dari Nadhlah bin Hasyim dan Amr bin Hasyim klaiman semacam ini tidaklah benar. [11]


Hubungan dengan Marga-marga Quraisy Lainnya Gang Bani Hasyim, Madinah

Dengan memperhatikan superioritas dan kebesaran Quraisy di kalangan semenanjung Arab, persaingan di kalangan marga-marga Quraisy juga memiliki prioritas tersendiri; karena inilah setiap dari marga-marga yang ada ini berusaha dengan segala cara yang mungkin dengan mendahului para lawan meraih kepemimpinan dan kedudukan istimewa di kalangan pelbagai kabilah Quraisy. Akar permusuhan Bani Umayyah dengan Bani Hasyim juga harus dirunut dalam persaingan kabilah tersebut. Meskipun sebagian laporan-laporan sejarah (yang masih juga diragukan) [12]mengaitkan akar permusuhan antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim pada masalah-masalah yang lebih parsial seperti kedengkian Umayyah bin Abd asy- Syam (keponakan Hasyim) kepadanya dan percekcokan-percekcokan diantara keduanya; [13] atau “Munafaroh” (berbangga dengan kedudukan dan keturunan) Harb bin Umayyah dengan Abdul Muththalib. [14]

Bahkan sebagian orang dari riwayat-riwayat historis tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa kelahiran Hasyim dan Abd asy-Syam (nenek moyang Bani Umayyah) menjustifikasi perselisihan dan persaingan-persaingan berikutnya Bani Umayyah dengan Bani Hasyim [15].

Sepeninggal Abdul Muththalib, dan terutama dikarenakan lemahnya keuangan, kedudukan Bani Hasyim semakin merosot; namun dengan pengutusan Rasulullah saw persaingan dan pelbagai percekcokan dari pihak para pesaing Bani Hasyim yang dipimpin oleh Bani Makhzum dan kemudian Bani Umayyah dengan mereka diliput kembali. Secara yakin, hal ini muncul dari perspektif orang-orang ini mengenai kenabian dan risalah Nabi Muhammad saw; karena menurut pandangan orang-orang ini, mereka menganggap pengutusan nabi dari Bani Hasyim bukanlah sebuah kategori terpisah dari persaingan antar kabilah dan hal itu merupakan sebuah dalih untuk kepemimpinan Bani Hasyim dan hasil dari permainan mereka; [16] dengan demikian mereka berupaya sehingga dengan mengingkari kenabian dan konfrontasi dengan para pengikut beliau akan merintangi perkembangan kedudukan Bani Hasyim.

Sumber-sumber juga menyebut nama Bani Abd al-Dar dan Bani Makhzum sebagai marga-marga saingan lain dan musuh Bani Hasyim. Bani Abd al-Dar yang memiliki perselisihan pertama kalinya dengan Hasyim bin Abdi Manaf dalam peristiwa pengelolaan kedudukan Mekah (lihat: Hilful Ahlaf), dengan pengutusan Rasulullah saw mereka berada di samping Bani Umayyah. [17] Bani Makhzum juga yang dalam Hilful Ahlaf berada di samping Bani Abd al-Dar [18] dengan dimulainya ajakan terang-terangan kepada Islam, mereka berada di barisan terdepan para penentang Rasulullah; karena dengan memperhatikan kedudukan kemuliaan Abu Jahal (pembesar Bani Makhzum) dan kepemimpinannya atas Mekah, melihat bahwa pengutusan seorang nabi dari Bani Hasyim merupakan sebuah ancaman untuk kemuliaan dan kedudukannya.

Dari sisi lain, termasuk marga-marga yang dapat dikategorikan sebagai koalisi dan sekutu Bani Hayim, yang mana dikalangan ini harus dianggap sebagai koalisi terbesar dan tercinta Bani Hasyim adalah dari marga Bani Muththalib bin Abdi Manaf. Mereka dengan ditemani marga-marga seperti Bani Zuhrah bin Kilab, Bani Taim bin Murrah, Bani Harits bin Fahr, dan Bani Asad bin Abdul ‘Izzi dalam Hilf al-Muthayyibin berada di samping Hasyim dan Bani Abdi Manaf dan berhadapan dengan Bani Abd al-Dar. [19] Kemudian dalam perjanjian Hilful Fudhul[Note 3] yang dipimpin oleh Zubair bin Abdul Muththalib juga bersumpah dengan Bani Hasyim untuk membela orang-orang tertindas. [20]

Setelah munculnya Islam, Bani Muththalib dalam banyak peristiwa juga berada disamping Bani Hasyim dengan membela Rasulullah saw. Hadir dalam Syi'bi Abi Thalib dan sabar atas kesulitan dan kepahitan selama tiga tahun disamping Bani Hasyim merupakan salah satu contoh koalisi terbesar mereka dengan Bani Hasyim. [21]

Khuza’ah juga dapat dikenal sebagai koalisi lain Bani Hasyim. Sebagian referensi mengabarkan kebersamaan Khuza’ah dengan Abdul Muththalib dan para sekutunya setelah peristiwa pertikaian Abdul Muththalib dan Naufal bin Abdi Manaf. [22]
Kemunculan Islam

Rasulullah saw pada langkah pertamanya dalam menyiarkan dakwahnya secara terang-terangan memulainya dari kalangan sanak keluarganya dan pada hari Indzar mengumpulkan Bani Abdul Muththalib (keluarga terpenting Bani Hasyim dan kerabat tingkat pertamanya) dan mengajak mereka supaya menerima Islam.[23]

Dikabarkan, muncul pelbagai reaksi dari pihak Bani Hasyim terhadap agama baru ini; sedikit sekali dari mereka dengan menerima Islam berada dalam barisan penolong Rasulullah saw, yang mana sebagian di antara mereka adalah orang-orang seperti Abu Thalib yang menyembunyikan keimanannya. Abu Thalib melihat kemaslahatan dalam diamnya, sehingga dapat menjaga sebagai pembesar Quraisy dan juga pengaruh ucapannya; namun dengan dukungannya senantiasa selalu merintangi penganiayaan dan pelecehan terhadap Rasulullah saw.[24] (lihat: keimanan Abu Thalib)

Sekelompok kecil dari kaum Hasyimi juga memusuhi dan berkonfrontasi terhadap Rasulullah, mereka di jalan ini tidak menyerah sedikitpun dalam menunjukkan sikap penetangan; Abu Lahab paman nabi [25] dan Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Mutthalib yang melakukan pencercaan terhadap Nabi Muhammad saw[26] termasuk di antara orang-orang ini.

Penampakan salah satu gambar dari gang Bani Hasyim di Madinah

Meskipun banyak sekali dari Bani Hasyim tidak beriman sampai setelah penaklukan kota Mekah, akan tetapi mayoritas dari mereka membela Rasulullah saw di hadapan reaksi negatif para pembesar Quraisy dan di hadapan penyiksaan orang-orang Mekah terhadap Rasulullah dan kaum muslimin. Hadirnya Abu Thalib, paman Rasulullah saw, dimana pada masa itu dianggap sebagai pembesar Bani Hasyim dan Quraiys dalam pembelaan ini memiliki pengaruh yang signifikan. [27]

Bahkan, ketika para pemuka marga Quraisy mengharap bahwa Bani Hasyim akan berlepas diri dari melindungi Rasulullah saw, mereka melakukan embargo ekonomi dan sosial kepada Bani Hasyim. Orang-orang Bani Hasyim dengan permintaan Abu Thalib meminta dari orang-orang kafir dan muslim (kecuali Abu Lahab [28] dan Abu Sufyan bin Harits) [29] menuju Syi'bi Abi Thalib dan selama tiga tahun hidup dalam krisis keuangan dan sosial, namun mereka senantiasa tetap membela Rasulullah saw. [30]

Sepeninggal Abu Thalib, Abu Lahab memegang kepemimpinan Bani Hasyim. [31] Pada masa ini, para pemimpin Bani Hasyim seperti sedia kala tidak membela Rasulullah saw, sehingga beliau kembali dari Thaif dengan dukungan Muth’im bin ‘Adi, salah seorang ketururan Naufal bin Abdi Manaf memasuki Mekah. [32]

Dengan hijrahnya Rasulullah saw ke Madinah, sebagian dari Bani Hasyim seperti Hamzah dan Ali as juga lebih memprioritaskan hijrah ke Madinah ketimbang terus tinggal di Mekah; akan tetapi mayoritas Bani Hasyim tetap tinggal di Mekah. Mayoritas Bani Hasyim tidak bersedia mengiringi peran kaum musyrikin Mekah guna memerangi kaum muslimin; namun sejumlah dari orang-orang ini dengan terpaksa ikut hadir dalam pasukan kaum musyrikin dalam perang Badar, yang mana pada akhirnya menjadi tawanan kaum muslimin. [33] Sebelum dimulainya perang, Rasulullah saw sudah mengabarkan kaum muslimin tentang kehadiran terpaksa sebagian Bani Hasyim dalam pasukan Musyrikin, beliau melarang pembunuhan kelompok ini. Dengan berakhirnya perang dan pembebasan tawanan musyrik, para tawanan Hasyimi dalam tempo singkat tinggal di Madinah, di samping Rasulullah.[34]

Sesuai dengan yang tertera dalam referensi, banyak sekali dari Bani Hasyim pada tahun-tahun sebelum hijrah telah memeluk Islam, khususnya dalam penaklukan kota Mekah, sebagaimana Aqil bin Abi Thalib sebelum perjanjian Hudaibiyah [35] atau pada tahun ke-8 Hijriah, Abu Sufyan bin Harits dalam penaklukan Mekah [36], dan Abbas bin Abdul Muththalib (juga menjadi perselisihan) sebelum perang Badar atau sebelum penaklukan Khaibar telah memeluk Islam. [37] Sebagian lainnya juga seperti Abu Lahab [38] mati dalam keadaan kafir dan tidak beriman kepada Rasulullah.


Periode Para Imam

Menentang dengan Pemilihan Khalifah dari Bani Hasyim

Sepeninggal Rasulullah saw, persaingan kabilah sebelum Islam, bahkan dikalangan para sahabat Rasulullah saw dalam bentuk penentangan terhadap kepenggantian Ali as sebagai khalifah semakin mencuat. Banyak dari para penentang kekhilafahan Imam Ali as menganggap kekhilafahan beliau dalam arti kelanjutan pemerintahan Bani Hasyim atas Arab; sebagaimana Umar mengungkapkan dalam perbincangan dengan Ali as dan juga Abbas bin Abdul Muththalib bahwa:

Arab tidak menerima kenabian dan kekhilafahan berkumpul bersama-sama dalam satu keluarga!!! [39]

Sebaliknya, Imam Ali as melalui penegasan bahwa para khalifah Nabi saw harus berasal dari Quraisy dan Bani Hasyim menegaskan bahwa hanya orang-orang tertentu dari Bani Hasyim saja yang memiliki kelayakan atas kedudukan dan tanggung jawab ini. [40]

Penentangan dengan konsep berkumpulnya kenabian dan kekhilafahan dalam Bani Hasyim menyebabkan koalisi seluruh marga-marga Arab lainnya; sebab marga-marga Quraisy lainnya, warga Madinah dan koalisi mereka beranggapan jika Ali as menjadi khalifah, maka kekhilafahan sama sekali tidak akan pernah keluar dari Bani Hasyim. [41]

Dengan dalil inilah, sebagian dari para sahabat, ketika jasad Rasulullah saw belum dikebumikan telah berkumpul di Saqifah dan memilih seorang khalifah dari kalangan diri mereka sendiri, tanpa bermusyawarah dahulu dengan Bani Hasyim, padahal Nabi saw sudah mengumumkan kewashian dan kepenggantian Ali as.

Adanya penentangan-penentangan ini dengan kepemimpinan Bani Hasyim dan sampainya kekhilafahan kepada mereka, Bani Hasyim dengan gigih menjaga kedudukan tingginya. Misalnya, dalam peristiwa pembagian ghanimah dan penyusunan diwan, Umar, memprioritaskan Bani Hasyim sebagai keluarga Rasululllah saw ketimbang lainnya dan menyebut mereka sebagai Arab termulia, dikarenakan kekerabatan dengan Rasulullah. [42]


Fanatisme Bani Umayyah

Dengan terpilihnya Utsman sebagai khalifah, maka perselisihan Bani Umayyah dengan Bani Hasyim kembali mencuat; dikarenakan dalam periode ini Bani Umayyah mendapatkan kekuatan dan menemukan lahan untuk menghidupkan fanatisme etnis dan balas dendam; semisalnya, Abu Sufyan meminta kepada Utsman supaya mewariskan kekhilafahan dikalangan Bani Umayyah saja, karena tidak ada surga dan neraka. [43]

Dalam melawan cara pandang ini, Imam Ali dengan menolak sentimen-sentimen etnis mengenalkan unsur-unsur seperti iman, ikhlas, kebenaran dan hijrah sebagai tolok ukur keutamaan Bani Hasyim atas Bani Umayyah. [44]

Namun, dalam periode tiga khalifah, Imam Ali as dan Bani Hasyim juga memiliki peran dalam mengatur pemerintahan Islam; misalnya Harits bin Naufal bin Harits bin Abdul Muththalib disebut sebagai gubernur Mekah pada masa kekhilafahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman.[45]


Pemerintahan Amirul Mukminin As dan Imam Hasan As

Dengan dimulainya pemerintahan Amirul Mukminin as (35-40 H), Bani Hasyim ikut menyertai beliau dalam semua peristiwa dan meskipun pada masa ini, Madinah merupakan tempat tinggal Bani Hasyim; akan tetapi dengan perubahan markas pemerintahan dan pemindahannya ke Kufah, sekelompok dari Bani Hasyim juga ikut pergi ke kota ini. Terlihat juga nama-nama sebagian dari Bani Hasyim dalam sekumpulan para pejabat beliau. [46]

Sepeninggal beliau, dalam pemerintahan singkat Imam Hasan as (40-41 H) meskipun adanya dukungan dan pembelaan Bani Hasyim terhadap Imam, namun sebagian para pembesar Bani Hasyim seperti Ubaidullah bin Abbas bin Abdul Muththalib, panglima perang pasukan imam, dengan bergabung ke pasukan Muawiyah, memaksa imam untuk melakukan perdamaian. [47]


Muawiyah dan Penghidup Fanatisme

Pada masa pemerintahan Muawiyah, persaingan kabilah lebih terlihat kental ketimbang sebelumnya; semisalnya Muawiyah dalam peperangan melawan Imam Ali as memperkenalkan pasukan Kufah sebagai para pendukung Bani Hasyim. [48]

Perspektif ini, pada masa pengganti Muawiyah juga terus berlanjut. Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, terdapat upaya serius untuk menciptakan persengketaan etnis dan pengingkaran atau meremehkan peran pandangan dan motifasi-motifasi ideologi dalam peristiwa-peristiwa sejarah permulaan Islam, dan bahkan kemunculan Islam. Contoh riil peristiwa ini adalah ucapan Yazid bin Muawiyah setelah peristiwa Asyura. Yazid dalam sebuah syair yang menceritakan akan kebahagiaan dan kemenangan, dengan tegas mengingkari wahyu dan kenabian dan menyebut Islam sebagai hasil permainan-permainan politik Bani Hasyim di hadapan Bani Umayyah. [49]

Sewaktu Imam Husain as di Madinah tidak mau berbaiat dengan Yazid, maka Bani Hasyim pun mendukung beliau [50] dan sebagian dari Hasyimi (keluarga Aqil dan keluarga Ali) juga menyertai beliau saat bangkit menentang Yazid. [51]

Meskipun Bani Hasyim memusuhi pemerintahan lalim Bani Umayyah, namun ketika Abdullah bin Zubair pada tahun 63 H menguasai Mekah dan memberikan banyak kerusakan terhadap pemerintahan Bani Umayyah, mereka tetap tidak mau berbait dengannya, sampai-sampai Abdullah melakukan pengasingan dan menurut sebagian riwayat pemenjaraan orang-orang seperti Muhammad bin Hanifah dan Abdullah bin Abbas. [52]

Dengan tumbangnya kebangkitan Abdullah bin Zubair, Bani Umayyah kembali lagi mengarah ke Bani Hasyim dan melakukan pelecehan dan penyiksaan kepada para pendukung mereka. Perintah Hisyam bin Abdul Malik untuk memotong tangan dan lidah Kumait bin Zaid Asadi dengan kesalahan lantunan kidung untuk Zaid bin Ali bin Husain merupakan contoh dari realita ini. [53]

Meskipun pembalasan dendam Bani Umayyah menyempitkan ranah Bani Hasyim, namun pengaruh mereka di kalangan masyarakat tidaklah berkurang; semisalnya, termasuk dalil-dalil yang dituturkan untuk mengalahkan Abdullah bin Zubair adalah sikap tidak sopannya kepada Bani Hasyim [54] dan atau ketika Ziyad bin Shalih sewaktu memberontak melawan Bani Umayyah (133 H) mengajak masyarakat kepada Bani Hasyim. [55] Demikian juga, para pendukung Bani Abbas di daerah Khorasan menyeru masyarakat kepada pemerintahan Bani Hasyim. [56]
Bani Abbas

Pada masa Bani Umayyah, Bani Hasyim di samping keragaman marga, namun memberikan satu baris irama politik. Namun pada akhir-akhir pemerintahan Bani Umayyah, Hasyimi memiliki pembaharuan sosial dalam dua marga penting keturunan Imam Ali as dan keturunan Abbas bin Abdul Muththalib.

Melonjaknya ketidakrelaan kaum muslimin terhadap pemerintahan Bani Umayyah mengakibatkan munculnya fraksi-fraksi dan gerakan-gerakan anti Umayyah pada masa pertengahan pertama abad kedua. Tendesi peninggkatan masyarakat kepada Ahlulbait Nabi saw dan keengganan Ahlulbait as untuk menerima permintaan mereka untuk bangkit, memunculkan kesempatan untuk orang-orang dari keturunan Abbas, paman Rasulullah, yang mengklaim memiliki hak pemerintahan.

Abbasiah dengan memperhatikan kehormatan sosial Bani Hasyim, sejak semula berupaya memperbesar penisbahan mereka kepada Hasyim dan sejak tahun 111 H aktif dibawah panji “Seruan Hasyimi”. [57]

Ranah sosial perselisihan Bani Umayyah dan Bani Hasyim yang dibuat oleh kaum Umawi sangat efektif dalam mengangkat tema "Hasyimi". Menurut sumber-sumber sejarah, baiat Abbasiah dilakukan dengan bersandar pada topik Baiat Hasyimi, dengan justifikasi bahwa khilafah adalah haknya Bani Hasyim dan Abbasiah juga termasuk bagian dari keluarga ini. [58]

Hasilnya, dengan pemaksaan Abbasiah dalam penyisipan dirinya sebagai keluarga Rasulullah saw, pemerintahan Bani Abbas dikenal dengan nama “Pemerintahan Bani Hasyim”. Dan sebaliknya, orang-orang Syiah yang tidak tahan dengan pemanfaatan semacam ini, menyebut mereka dengan ungkapan “Bani Abbas”. [59]

Secara bersama-sama, sampai periode akhir Bani Abbasiah, istilah Bani Hasyim lebih banyak digunakan untuk orang-orang Bani Abbas, sampai-sampai maksud dari Bani Hasyim adalah orang-orang Bani Abbas di hadapan keluarga Abi Thalib dan keluarga Ali as. [60] (Namun sebelum periode ini, sewaktu Kumait bin Zaid Asadi (W. 126 H) melantunkan ke-Hasyimiannya, maksudnya adalah menuturkan musibah-musibah dan bencana keluarga Ali as. Sekarang ini juga di Iran, istilah Bani Hasyim dipakai dengan makna ini).

Persengketaan politik Abbasiah dengan Alawi juga mengakibatkan perbedaan dua cabang Hasyimi ini dalam perkara ideologi. Kaum Alawi populer dengan tasyayyu' dan Abbasiah bersama dengan keyakinan mayoritas kaum muslim sunni dalam bab keimamahan. [61]


Abad-abad Berikutnya

Abbasiah memegang tampuk pemerintahan sampai pada tahun 656 H. [62] Disamping mereka, silsilah keturunan Hasyimi lainnya juga memegang kendali pemerintahan, seperti Fathimiyyun di Mesir, Idrisiyyun (keluarga Idris) di Maroko, dan Alawiyyun di Tabristan.

Dari abad keempat sampai pertengahan pertama abad keempat belas (1343 H) keluarga dari sayid-sayid Bani Hasan di Mekah mendapatkan kepemimpinan, yang menisbatkan dirinya kepada nenek moyang mereka, Hasyim bin Abdi Manaf. Pemerintahan Hasyimi Hijaz, Irak, dan Jordan juga berasal dari keluarga ini.


Hukum Fikih Khusus

Bani Hasyim dalam fikih juga menjadi subyek sebagian hukum. Sebagian dari khumus diberikan kepada keturunan Hasyim, dari jalur Abdul Muththalib dan sebaliknya, kecuali dalam beberapa hal khusus, zakat tidak diberikan kepada mereka. [63] Dalam sebuah riwayat yang juga masyhur di kalangan Ahlusunah, dalil adanya pelarangan semacam ini karena martabat mereka yang tinggi . [64]


Sifat-sifat Bani Hasyim

Sifat-sifat terpuji seperti dermawan dan pemberi, jauh dari kehinaan dan keburukan dan kesatria untuk keturunan Hasyim dan Abdul Muththalib (Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib) juga dapat terlihat dalam laporan-laporan. [65] Hilful Fudhul (dimana di situ Bani Hasyim beserta beberapa kelompok lainnya komitmen untuk membela orang-orang yang tertindas sampai mendapatkan haknya) merupakan contoh logis atas kedermawanan dan kesatria Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib.

Ibnu Abbas menuturkan 7 sifat untuk Bani Abdul Muththalib, di antaranya adalah: tampan, pandai bicara, dermawan dan kesatria, pemberani, berilmu, sabar, dan memuliakan para wanita. [66] Ibnu Habib Baghdadi menuturkan dari Kalbi, yang juga menanyakan kepada Imam Ali as tentang keistimewaan Bani Hasyim dan Bani Umayyah; beliau menjawab bahwa Bani Hasyim adalah orang-orang yang tampan, pandai bicara, dan kesatria. [67]

Demikian juga, kaum Hasyimi terkenal dengan pemilik kemuliaan; [68] sifat lainnya, merasa cukup meskipun dalam kondisi paling susah, dengan adanya semua problem menganggap dirinya sebagai pemilik kedudukan dan tidak menghilangkan martabat sosialnya. [69]


Bani Hasyim dalam Riwayat-riwayat Rasulullah saw

Gang Bani Hasyim

Dalam hal ini juga diriwayatkan dari Rasulullah saw; bahwa suatu ketika Rasulullah keluar dari rumahnya, ia keluar dengan sangat gembira dan masyarakat kemudian mempertanyakan penyebab kegembiraan itu, ia menjawab:

Jibril datang dari sisi Allah swt dan berkata: Allah memilih tujuh orang dari Bani Hasyim yang mana Dia tidak menciptakan seperti mereka pada masa silam dan di masa mendatang: Engkau wahai Rasulullah, Ali washimu, Hasan dan Husain cucumu, Hamzah pamanmu, Ja'far anak pamanmu, dan Qaim (Af) yang mana Nabi Isa salat di belakangnya. [70]

Demikian juga terdapat dalam riwayat, dikarenakan kaum Muhajirin, Anshar dan Bani Hasyim berselisih manakah diantara mereka yang lebih dicintai di sisi Rasulullah, maka beliau menyebut dirinya sebagai saudara Anshar dan dari kalangan Muhajirin, akan tetapi mengenai Bani Hasyim beliau bersabda: “Kalian dariku dan bersamaku.” [71]

Banyak pula dari referensi-referensi Ahlusunnah yang menegaskan hadis-hadis yang dinisbahkan kepada Rasululah saw yang berupaya memperkenalkan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib sebagai Arab terbaik dan bahkan sebaik-baik manusia. [72]

Namun, dengan memperhatikan bahwa biasanya riwayat-riwayat ini dinukilkan pada masa pemerintahan Bani Abbas, maka bisa jadi riwayat ini dinukilkan dalam rangka membela penguasa Abbasiah; khususnya Abbasiah berupaya menonjolkan penisbatan dirinya kepada Bani Hasyim. Dengan demikian harus dimengerti reaksi-reaksi Rasulullah saw di hadapan sebagian orang-orang Bani Hasyim diartikan dari sudut pandang penghormatan beliau kepada orang-orang mukmin Hasyimi dan para penolongnya. [73]
Kedudukan Bani Hasyim dikalangan Kaum Muslimin

Bani Hasyim dikarenakan kedudukan agung mereka sebelum Islam dan juga penisbahan mereka kepada Rasulullah saw, mereka memperoleh kedudukan terhormat dalam pandangan kaum muslimin. Kecintaan dengan keluarga Hasyim sebagai keluarga Rasulullah saw dalam dunia Islam merupakan kebudayaan yang marak. Contoh dari hal ini adalah pembelaan kaum muslimin terhadap Abbasiah sebagai Bani Hasyim atau banyak dari pemerintahan-pemerintahan muslim terbentuk dengan nama Hasyimi.

Diantara manifestasi budaya hal ini adalah banyaknya pujian-pujian seperti "Hasyimiyat" Kumait bin Zaid Asadi, yang dilantunkan dalam mensifati keluarga ini. [74] Dan manifestasi lainnya adalah banyaknya penghormatan kalangan Ahlusunnah untuk kelompok-kelompok dalam dunia Islam yang masyhur dengan sifat Hasyimi; di antaranya adalah banyaknya penghormatan kepada para Habaib (anak cucu keturunan Rasulullah saw) di Iran.


Catatan Kaki

1. Ibn Sa’ad, Al-Thabaqāt al-Kubrā, jld. 1, hlm. 63-64.
2. Ibn Hisyam, Zendegānī Muhammad, jld. 1, hlm. 98.
3. Q.S. Quraisy.
4. Ya’Qubi, Tārīkh, jld. 1, hlm. 312; Ibn Sa’ad, Al-Thabaqāt, jld. 1, hlm. 62.
5. Ibn Sa’ad, Al-Thabaqāt al-Kubrā, jld. 1, hlm. 62.
6. Ibn Sa’ad, Al-Thabaqāt al-Kubrā, jld. 1, hlm. 62; Ibn Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld. 2, hlm. 201-201.
7. Thabari, Tārīkh, jld. 3, hlm. 251, 253.
8. Ibn Hisyam, Zendegānī Muhammad, jld. 1, hlm. 99.
9. Ya’Qubi, Tārīkh, jld. 1, hlm. 364.
10. Ibn Habib, Al-Munammaq fī Akhbār Quraisy, hlm. 21; Syaikh Thusi, Al-Tibyan, jld. 5, hlm. 123; Thabarsi, Majma’ al-Bayan, jld. 4, hlm. 836.
11. Dairat al-Ma'ārif Qurāne Karīm, “Bani Hasyim”, jld. 6, hlm. 330.
12. Dāirat al-Ma'ārif Buzurg Islāmī, pada pembahasan “Bani Hasyim”; Muntazar Qaim, Tārīkh Sadre Islām, hlm. 95.
13. Ibn Sa’ad, Al-Thabaqāt al-Kubrā, jld. 1, hlm. 62; Thabari, Tārīkh, jld. 3, hlm. 252.
14. Thabari, Tārīkh, jld. 3, hlm. 253.
15. Ya’Qubi, Tārīkh, jld. 1, hlm. 311.
16. Muqrizi, Al-Niza’ wa al-Takhashum, hlm. 56; Abul Faraj Ishfahani, Al-Aghānī, jld. 6, hlm. 360-365.
17. Ibn Sa’ad, Al-Thabaqāt, jld. 1, hlm. 63.
18. Ya’Qubi, Tārīkh, jld. 1, hlm. 372.
19. Ibn Habib, Al-Munammaq fī Akhbār Quraisy, hlm. 189-190.
20. Ibn Sa’ad, Al-Thabaqāt al-Kubrā, jld. 1, hlm. 103; Ibn Habib, Al-Munammaq fī Akhbār Quraisy, hlm. 53.
21. Ibn Sa’ad, Al-Thabaqāt al-Kubrā, jld. 1, hlm. 163-164; Ya’qubi, Tārīkh, jld. 1, hlm. 389.
22. Thabari, Tārīkh, jld. 3, hlm. 248.
23. Thabari, Tarikh, jld.3, hlm. 319.
24. Dāirat al-Ma'ārif Buzurg Islāmī, prolog Abu Thalib, jld. 5, hlm. 619.
25. Ibnu Habib, Al-Munammaq fī Akhbār Quraisy, hlm. 386; Ibn Hisyam, Zendegānī Muhammad, jld. 1, hlm. 265.
26. Muhammad bin Sayid al-Nas, ‘Uyūn al-Atsar, jld. 2, hlm. 74.
27. Sebagai contoh lihat: Thabari, Tārīkh, jld. 3, hlm. 321-324.
28. Ibnu Hisyam, Zendegānī Muhammad, jld. 1, hlm. 221; Ibn Sa’ad, al-Thabaqāt, jld. 1, hlm. 163; Ibnu Syahr Asyub, Manāqib, jld. 1, hlm. 94.
29. Waqidi, al-Maghazi, hlm. 617; Ibnu Syahr Asyub, Manāqib, jld. 1, hlm. 94.
30. Thabari, Tārīkh, jld. 3, hlm. 336-339.
31. Dāirat al-Ma'ārif Buzurg Islāmī, prolog Abu Lahab.
32. Thabari, Tārīkh, jld. 3, hlm. 348; Ibn Sa’ad, Al-Thabaqāt, jld. 1, hlm. 165.
33. Muhammad bin Sayid al-Nas, ‘Uyun al-Atsar, jld. 1, hlm. 333.
34. Ibn Hisyam, Zendegānī Muhammad, jld. 2, hlm. 29; Abul Faraj Ishfahani, Al-Aghāni, jld. 4, hlm. 194.
35. Thabari, Dzakhāir al-‘Uqbā, hlm. 191.
36. Ibid., hlm. 241.
37. Ibid., hlm. 191.
38. Ibn Hisyam, Zendegānī Muhammad, jld. 2, hlm. 45.
39. Thabari, Tārīkh, jld. 5, hlm. 223; Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahjul Balāghah, jld. 5, hlm. 209.
40. Nahjul Balāghah, Khotbah 144.
41. Thabari, Tārīkh, jld. 5, hlm. 223.
42. Al-Baladzuri, Futūh al-Buldān, hlm. 627-628; Thabari, Tārīkh, jld. 5, hlm. 209.
43. Abul Faraj Ishfahani, al-Aghāni, jld. 6, hlm. 371; Muqrizi, al-Niza’ wa al-Takhashum, hlm. 9.
44. Nahjul Balāghah, surat 17.
45. Thabari, Dzahāir al-‘Uqbā, hlm. 244; Ibn Sa’ad, Al-Thabaqāt al-Kubrā, jld. 4, hlm. 59.
46. Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahjul Balāghah, jld. 1, hlm. 265.
47. Ya’qubi, Tārīkh, jld. 2, hlm. 141; Abul Faraj Ishfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, hlm. 42.
48. Ibn A’tsam, al-Futūh, jld. 3, hlm. 153.
49. Syaikh Abbas al-Qummi, Nafas al-Mahmūm, hlm. 443.
50. Ibid., hlm. 68.
51. Abul Faraj Ishfahani, Maqātil al-Thālibiyyīn, hlm. 52, 60-61.
52. Abul Faraj Ishfahani, al-Aghāni, jld. 9, hlm. 21; Ya’qubi, Tārīkh, jld. 2, hlm. 205.
53. Abul Faraj Ishfahani, al-Aghāni, jld. 17, hlm. 6.
54. Al-Baladzuri, Ansāb al-Asyraf, jld. 4 (1), hlm. 317
55. Khayath bin Khalifah, Tārīkh, jld. 2, hlm. 616.
56. Ya’qubi, Tārikh, jld. 2, hlm. 317, 319, 322.
57. Ibid., hlm. 319.
58. Thabari, jld. 10, hlm. 336; jld. 11, hlm. 427.
59. Semisalnya, Nu’mani, Al-Ghaibah, hlm. 146 dan 258; Ibn Babawaih, hlm. 41.
60. Semisalnya, Rujuk Thabari, jld. 11, hlm. 423 dan 571.
61. Dāirat al-Ma'ārif Buzurg Islāmī., jld. 12, dalam pembahasan “Bani Hasyim”.
62. Ibn Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld. 13, hlm. 171.
63. Najafi, jld. 15, hlm. 406-415; jld. 16, hlm.104.
64. Thusi, Tahdzīb al-Ahkām, jld. 4, hlm. 57 dan seterusnya.
65. Habib, al-Qaul al-Jāzim, hlm. 157; Ibn Sa’ad, l-Thabaqāt al-Kubrā, jld. 1, hlm. 75.
66. Thabari, Dzakhāir al-‘Uqbā, hlm. 15; Habib, al-Qaul al-Jāzim, hlm. 157.
67. Ibn Habib, al-Munammaq fī Akhbār Quraisy, hlm. 41.
68. Ibn A’tsam, al-Futūh, jld. 3, hlm. 48.
69. Al-Baladzuri, Ansāb al-Asyraf, jld 4 (1), hlm. 111-112 dan 143.
70. Al-Kulaini, al-Kāfi, jld. 8, hlm. 50; Al-Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 51, hlm. 77-78.
71. Ibnu Syahr Asyub, al-Manaqib, jld. 3, hlm. 379; Al-Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 22, hlm. 312.
72. Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahjul Balāghah, jld. 19, hlm. 210; Suyuthi, al-Dur al-Mantsūr, di bawah surat Al-Nisa’: 125 dan surat Al-Isra’: 70; Habib, al-Qaul al-Jāzim, hlm. 153.
73. Dairat al-Ma'ārif Qurāne Karīm, jld. 6, hlm. 343.
74. Semisalnya, lihat, Amini, al-Ghadīr, jld. 2, hlm. 181 dan seterusnya.


Catatan [Note]

1. Ikatan janji yang terjadi seblum Islam antara Bani Abdi Manaf dan beberapa kelompok Quraisy.
2. Perjanjian yang terjadi sebelum Islam antara Bani Abd al-Dar dan beberapa kelompok Quraisy melawan Bani Abdi Manaf dan para sekutunya.
3. Nama sebuah tali perjanjian diantara sebagian kelompok Quraisy di masa jahiliyah sebelum Islam untuk membela orang-orang yang tertindas. Bani Hasyim, Bani Mutthalib, anak-anak Abdi Manaf, Bani Zuhrah bin Kilab, Bani Taim Murrah dan Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushai adalah kelompok-kelompok yang menjadi peserta dalam perjanjian ini.


Daftar Pustaka

  • Prolog Bani Hasyim dalam Dāirat al-Ma'ārif Buzurg Islāmī.
  • Prolog Bani Hasyim dalam Dairat al-Ma'ārif Qurāne Karīm.
  • Ibnu Abil Hadid Mu’tazili, Syarh Nahjul Balāghah, disusun oleh A’lami, cet. 1, Beirut, Muassasah A’lami, 1415 H.
  • Ibn A’tsam Kufi, Ahmad, al-Futūh, riset Ali Syiri, Beirut, 1411 H/1991.
  • Ibn Babawaih, Muhammad, Kamaluddin wa Tamam al-Ni’mah, riset Ali Akbar Ghaffari, Qom, 1405 H.
  • Ibn Habib, Muhammad, al-Munammaq fī Akhbār Quraisy, riset Ahmad Faruq, cet. 1, Beirut, Alam al-Kutub, 1405 H.
  • Ibn Sa’ad, Muhammad bin Sa’ad bin Mani’ al-Hasyimi al-Bashri, al-Thabaqāt al-Kubrā, diteliti oleh Muhammad Abdul Qadir ‘Atha, Beirut, Darul Kutub al-Ilmiah, cet. 1, 1410 H/1990.
  • Ibn Syahr Asyub, Muhammab bin Ali, Manāqib Ali Abi Thālib, riset Yusuf al-Buqa’i, cet. 2, Beirut, Darul Adhwa’, 1412 H.
  • Ibn Katsir, Abul Fida’ Ismail bin Umar al-Damisyqi, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, riset Ali Muhammad Mu'awwidh dan Adil Ahmad, cet. 2, Beirut, Darul Kutub al-Ilmiah, 1418 H.
  • Ibn Hisyam, Zendegānī Muhammad Saw, Payombare Islām (Al-Sirah Al-Nabawiah), ter. Sayid Hasyim Rasuli, Tehran, Intisyarat Kitabci, cet. 5, 1416 H.
  • Abul Faraj al-Ishfahani, al-Aghani, riset Ali Muhanna dan Samir Jabir, cet. 2, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun.
  • Abul Faraj al-ishfanai, Maqātil al-Thālibiyyin, riset Kadzim Mudzaffar, cet. 2, Qom, Darul Kitab, 1385 H.
  • Amini, Abdul Husain, al-Ghadīr, Beirut, 1379 H.
  • Al-Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Futūh al-Buldān, ter. Muhammad Tawakkul, Tehran, Nasyre Nuqreh, cet. 1, 1958 H.
  • Al-Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, jld. 1, riset Muhammad Hamidullah, Kairo, 1959, jld. 4 (1), disusun Ihsan Abbas, Beirut, 1400 H/1979.
  • Habib, Jamil Ibrahim, al-Qaul al-Jazim fī Nasabi Banī Hāsyim, Baghdad, Maktabah Darul Kubub al-Ilmiah, 1987.
  • Khalifah bin Khayath, Tarikh, riset Suhail Zikar, Damaskus, 1968.
  • Dāirat al-Ma'ārif Buzurg Islāmī, dibawah pengawasan Kazim Musavi Bujnurdi, Tehran, Markas Dairat al-ma’arif Buzurg-i Islami, 1425 H.
  • Dairat al-Ma'ārif Qurāne Karīm, Dairat al-Ma’arif Qurane Karim, jld. 6, disusun oleh Markas Farhang wa Ma’arfi Quran, Qom, Muassasah Bustan Kitab, 1428 H.
  • Suyuthi, Jalaluddin, al-Dur al-Mantsūr fī al-Tafsīr bi al-Ma’tsūr, Beirut, Darul Fikr, 1414 H.
  • Syaikh Abbas al-Qummi, Nafasul Mahmum fi Mushibat Sayyidinā al-Husain al-Mazlūm, diteliti oleh Ridha Ustadi, Qom, Maktabah Bashirati, 1405 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin al-Hasan, Majma’ al-Bayān fī Tafsīr al-Qurān, Beirut, Darul Ma’rifah, Offset, Tehran, Nashir Khosro, 1406 H.
  • Thabari, Ahmad bin Abdullah, Dzahāir al-‘Uqbā fī Manāqib Dawil Qurbā, Beirut, Darul Ma’rifah, 1974.
  • Thabari, Muhammad bin Jurair, Tārīkh Thabari, terj. Abul Qasim Payandeh, cet. 5, Teheran, Asathir, 1417 H.
  • Ath-Thusi, Muhammad bin al-Hasan, Al-Tibyān fi Tafsīr al-Qurān, riset Ahmad Habib al-Amuli, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Ath-Thusi, Muhammad, Tahdzīb al-Ahkām, riset Hasan Musavi Khorasan, Tehran, 1406 H.
  • Al-Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, al-Kāfi, disusun Ali Akbar Ghaffari, cet. 3, Beirut, Darut Ta’aruf, 1401 H.
  • Al-Majlisi, Muhammad Baqir, Bihār al-Anwār, cet. 3, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Muhammad bin Sayid al-Nas, 'Uyūn al-Atsar fī Funūn al-Maghāzi wa al-Syamāil wa al-Sair, Beirut, Muassasah ‘Izzuddin, 1406 H.
  • Al-Muqrizi, Taqiyuddin Ahmad bin Ali, al-Niza' wa al-Takhashum baina Bani Umayyah wa Bani Hāsyim, disusun Husain Munis, Qom, Intisyarat Syarif Radhi, 1412 H.
  • Muntazar Qaim, Ashghar, Tārīkh Sadre Islām, Ishfahan, Intisyarat Danesgah Ishfahan, 1419 H.
  • Najafi, Muhammad Hasan bin Baqir, Jawāhir al-Kalām fi Syarh Syarā’I al-Islām, Beirut, 1981.
  • Nu’mani, Muhammad, al-Ghaibah, riset Faris Hasun Karim, Qom, 1422 H.
  • Nahjul Balāghah, cet. Shubhi Shalih, Beirut, (Tarikh Muqaddimah), cet. Offset-Qom, tanpa tahun.
  • Al-Waqidi, Muhammad bin Umar, Maghāzi Tārikh Janghāye Payāmbar (Saw), ter. Mahmud Mahdavi Damghani, cet. 2, Tehran, Markas Nasyr Danesgahi, 1411 H.
  • Ya’qubi, Ahmad bin Abi Ya’qub bin Wadhih, Tārikh Ya’qubi, Terjmh. Muhammad Ibrahim Ayati, cet. 6, Tehran, Intisyarat Ilmi wa Farhanggi, 1413 H.

(Yeshiva-Institute/Wiki-Shia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Isi Talmud; Babylonian Talmud: Tractate Yebamoth


Yebamoth 63a

and lends a sela'1  to a poor man in the hour of his need, Scripture says, Then shalt thou call, and the Lord will answer; thou shalt cry and He will say: 'Here I am'.2
(Mnemonic: Woman and land help this two shoots, tradesmen inferior.)3
R. Eleazar said: Any man who has no wife is no proper man; for it is said, Male and female created He them and called their name Adam.4
R. Eleazar further stated: Any man who owns no land is not a proper man; for it is said, The heavens are the heavens of the Lord; but the earth hath he given to the children of men.5
R. Eleazar further stated: What is the meaning of the Scriptural text, I will make him a help meet for him?6  If he was worthy she is a help to him;7  if he was not worthy she is against him.8

Others say: R. Eleazar pointed out a contradiction: It is written kenegedo9  but we read kenegedo!10  — If he was worthy she is meet for him;10  if he was not worthy she chastises him.9

R. Jose met Elijah and asked him: It is written, I will make him a help;11  how does a woman help a man? The other replied: If a man brings wheat, does he chew the wheat? If flax, does he put on the flax?12  Does she not, then, bring light to his eyes and put him on his feet!
R. Eleazar further stated: What is meant by the Scriptural text, This is now bone of my bones, and flesh of my flesh?13  This teaches that Adam had intercourse with every beast and animal but found no satisfaction until he cohabited with Eve.
R. Eleazar further stated: What is meant by the text, And in thee shall the families of the earth be blessed?14  The Holy One, blessed be He, said to Abraham, 'I have two goodly shoots to engraft15  on you: Ruth the Moabitess and Naamah the Ammonitess'.16  All the families of the earth,14  even the other families who live on the earth are blessed only for Israel's sake. All the nations of the earth,17  even the ships that go from Gaul to Spain are blessed only for Israel's sake.
R. Eleazar further stated: There will be a time when all craftsmen will take up agriculture;18  for it is said, And all that handle the oar, the mariners, and all the pilots of the sea, shall come down from their ships; they shall stand upon the land.19
R. Eleazar further stated: No20  occupation is inferior to that of agricultural labour; for it is said, And they shall come down.21
R. Eleazar once saw a plot of land that was ploughed across its width.22  'Wert thou to be ploughed along thy length also',23  he remarked, 'engaging in business would still be more profitable'. Rab once entered among growing ears of corn. Seeing that they were swaying24  he called out to them, 'Swing as you will,25  engaging in business brings more profit than you can do'.
Raba said: A hundred zuz26  in business means meat and wine every day; a hundred zuz in land, only salt and vegetables.27  Furthermore it causes him to sleep on the ground28  and embroils him in strife.29
R. Papa said, 'Sow30  but do not buy,31  even if the cost is the same; there is a blessing in the former. Sell out32  to avoid disgrace;33  but only mattresses, [not] however, a cloak, [since one] might not always again obtain [a suitable one].34  Stop up35  and you will need no repair;36  repair37  and you will not need to rebuild; for whosoever engages in building grows poor. Be quick in buying land; be deliberate in taking a wife. Come down a step in choosing your wife;38  go up a step in selecting your shoshbin.39
R. Eleazar b. Abina40  said: Punishment comes into the world only on Israel's account; for it is said, I have cut off nations, their corners are desolate; I have made their streets waste,41  and this is followed by the text, 'I said: Surely thou wilt fear Me, thou wilt receive correction'.42
Rab was once taking leave of R. Hiyya. The latter said to him, 'May the All Merciful deliver you from that which is worse than death'. 'But is there' [Rab wondered] 'anything that is worse than death'? When he went out he considered the matter and found [the following text]: And I find more bitter than death the woman etc.43
Rab was constantly tormented by his wife. If he told her, 'Prepare me lentils', she would prepare him small peas; [and if he asked for] small peas, she prepared him lentils. When his son Hiyya grew up he gave her [his father's instruction] in the reverse order.44  'Your mother', Rab once remarked to him, 'has improved'!45  'It was I', the other replied, 'who reversed [your orders] to her'. 'This is what people say', the first said to him, 'Thine own offspring teaches thee reason';46  you, however, must not continue to do so' for it is said, They have taught their tongue to speak lies, they weary themselves etc'.47
R. Hiyya was constantly tormented by his wife. He, nevertheless, whenever he obtained anything suitable wrapped it up in his scarf and brought it to her. Said Rab to him, 'But, surely, she is tormenting the Master!' — 'It is sufficient for us', the other replied, 'that they rear up our children and deliver us

Original footnotes renumbered. See Structure of the Talmud Files
  1. A coin. V. Glos.
  2. Isa. LVIII, 9. This refers to the preceding text: If then thou seest the naked, that thou cover him (ibid. 7), i.e., helping the poor at the hour of his need; and that thou hide not thyself from thine own flesh (ibid.) implies benefiting relatives including the marriage of a sister's daughter and loving one's neighbours who are regarded as relatives.
  3. The words in the mnemonic correspond to terms outstanding in the respective statements of R. Eleazar, that follow.
  4. Gen. V, 2. Adam = man. Only when the male and female were united were they called Adam.
  5. Ps. CXV, 16, emphasis on man and earth.
  6. Gen. II, 18.
  7. [H], 'help'.
  8. [H], meet for him may also be rendered 'against him'.
  9. [H] (rt. [H], 'to strike').
  10. [H] meet for him.
  11. Gen. II, 18.
  12. Obviously not. His wife grinds the wheat and spins the flax.
  13. Gen. II, 23, emphasis on This is now.
  14. Ibid. [Genesis] XII, 3, [H].
  15. [H] in Hif. is of the same rt. ([H]) as [H] in Nif.
  16. Both belonged to idolatrous nations and were 'grafted' upon the stock of Israel. The former was the ancestress of David (V. Ruth IV, 13ff), and the latter the mother of Rehoboam (v. I Kings XIV, 31) and his distinguished descendants Asa, Jehoshaphat and Hezekiah.
  17. Gen. XVIII, 18.
  18. Lit., 'they shall stand upon the land'.
  19. Ezek. XXVII, 29.
  20. Lit., 'not to thee'.
  21. V. supra note 11, emphasis on down.
  22. Apparently as a measure of economy.
  23. I.e., were it to be ploughed ever so many times.
  24. Suggestive of a swaggering motion; pride.
  25. Other readings and interpretations: 'Eh! thou desirest to be winnowed with the fan'; 'Thou swingest thyself like a swing'; 'Swing thyself' i.e., 'be as proud as thou wilt' (v. Aruk and Jast.).
  26. A coin. V. Glos.
  27. [H] may be compared with Arab. hafire 'the beginning of a thing', hence the first stage in the ripening of the corn (cf. Levy), 'unripe ears' (v. Rashi); 'grass' (Golds.); 'common vegetables' (Jast.).
  28. Since he must remain in his field during the night to watch the crops.
  29. With the owners of adjoining fields.
  30. Crops for the requirements of one's household.
  31. Corn in the market.
  32. Possessions or household goods.
  33. Of starvation or begging (v. Rashi). Other readings and interpretations: 'Buy ready-made cloth and do not wind skeins' (read [H], for [H], ); 'Buy etc. and do not spin' (v. Jast. and Aruk).
  34. V. BaH. a.l.
  35. A small hole in a building.
  36. Cf., 'a stitch in time saves nine' (Eng. prov.).
  37. If it is too late to stop up the cracks.
  38. A wife of superior position or rank might put on airs. or not be contented with her husband's social or financial position.
  39. The bridegroom's best man. By associating with superior men one has a good example to emulate.
  40. The last two words are missing in Yalkut.
  41. Zeph. III, 6.
  42. Ibid, 7.
  43. Eccl. VII, 26.
  44. So that when his mother, as usual, did the reverse of what she was requested by Hiyya in the name of his father, Rab had exactly what he had wished for.
  45. Lit., 'improved for you', (dative of advantage).
  46. The expedient had not occurred to him before his son had thought of it.
  47. Jer. IX, 4.


Yebamoth 63b


from sin'.
Rab Judah was reading with his son R. Isaac the Scriptural text, And I find more bitter than death the woman. When the latter asked him, 'Who, for instance'? — 'For instance, your mother'. But,1  surely, Rab Judah taught his son R. Isaac, 'A man finds happiness2  only with his first wife; for it is said, Let thy fountain be blessed and have joy of the wife of thy youth';3  and when the latter asked him, 'Who for instance?' [he answered:] 'For instance, your mother'!4  — She was indeed irascible but could be easily appeased with a kindly word.5
How is one to understand the term a 'bad wife'? Abaye said: One who prepares for him6  a tray7  and has her tongue8  also ready for him. Raba said: One who prepares for him6  the tray and turns her back upon him.9
R. Hama b. Hanina stated: As soon as a man takes a wife his sins are buried;10  for it is said: Whoso findeth a wife findeth a great good and obtaineth11  favour of the Lord.12
In the West,13  they used to ask a man who married, 'findeth or find?'14  Findeth, because it is written, Whoso findeth a wife, findeth a great good;12  Find, because it is written, And I find more bitter than death the woman.15
Raba said: [If one has] a bad wife it is a meritorious act to divorce her,16  for it is said, Cast out17  the scoffer, and contention will go out; yea, strife and shame will cease.18
Raba further stated: A bad wife, the amount of whose kethubah19  is large,20  [should be given] a rival at her side; as people say, 'By her partner rather than by a thorn'.21
Raba further stated: A bad wife is as troublesome as a very rainy day; for it is said, A continual dropping in a very rainy day and a contentious woman are alike.22
Raba further stated: Come and see how precious is a good wife and how baneful is a bad wife. 'How precious is a good wife', for it is written: Whoso findeth a wife findeth a great good.12  Now, if Scripture speaks of the woman herself, then how precious is a good wife whom Scripture praises. If Scripture speaks of the Torah, then how precious is a good wife with whom the Torah is compared. 'How baneful is a bad wife', for it is written, And I find more bitter than death the woman.23  Now, if Scripture speaks of herself, then how baneful is a bad wife whom Scripture censures. If Scripture speaks of Gehenna, then how baneful is a bad wife with whom Gehenna is compared.
Behold I will bring evil upon them, which they shall not be able to escape.24  R. Nahman said in the name of Rabbah b. Abbuha: This refers to a bad wife, the amount of whose kethubah25  is large.26
The Lord has delivered me into their hands against whom I am not able to stand.27  R. Hisda said in the name of Mar 'Ukba b. Hiyya: This refers to a bad wife the amount of whose kethubah25  is large.26  In the West28  it was said: This refers to one whose maintenance depends on his money.29
Thy sons and thy daughter's shall be given unto another people.30  R. Hanan b. Raba stated in the name of Rab: This refers to one's father's wife.31
I will provoke them with a vile32  nation.33  R. Hanan b. Raba stated in the name of Rab: This refers to a bad wife the amount of whose kethubah25  is large.34  R. Eliezer stated: This refers to the Sadducees;35  for so it is said, The fool32  has said in his heart: 'There is no God' etc.36  In a Baraitha it was taught: This refers to the people of Barbaria37  and the people of Mauretania38  who go naked in the streets; for there is nothing more objectionable and abominable to the Omnipresent than the man who goes naked in the streets. R. Johanan said: This refers to the Parsees.39
When R. Johanan was informed that the Parsees40  had come to Babylon, he reeled and fell.41  When however he was told that they accepted bribes he recovered42  and sat down again.43
They44  issued three decrees as a punishment for three [transgressions]:45  They decreed against [ritually prepared] meat,46  because the priestly gifts47  [were neglected]. They decreed against the use of baths, because ritual bathing [was not observed]. They exhumed the dead,48  because rejoicings were held on the days of their49  festivals; as it is said, Then shall the hand of the Lord be against you, and against your fathers,50  and Rabbah b. Samuel said that that51  referred to the exhumation of the dead, for the Master said, 'For the sins of the living the dead are exhumed'.
Said Raba to Rabbah b. Mari: It is written, They shall not be gathered, nor be buried, they shall be for dung upon the face of the earth,52  but it is also written,53  And death shall be chosen rather than life!54  — The other replied: 'Death shall be chosen' for the wicked, in order that they may not live in this world and thus sin and fall into Gehenna.55
It is written in the book of Ben Sira: —56
A good wife is a precious gift;57  she will be put in the bosom of the God-fearing man.58  A bad wife is a plague to her husband. What remedy has he? — Let him give her a letter of divorce and be healed of his plague.
A beautiful wife is a joy to her husband;59  the number of his days shall be double.60
Turn away thy eyes from [thy neighbour's] charming wife lest thou be caught in her net. Do not turn in to her husband to mingle with him wine and strong drink; for, through the form of a beautiful woman, many were destroyed and a mighty host are all her slain.61
Many were the wounds of the spice-peddler,62  which lead him on to lewdness like a spark that lights the coal.63
As a cage is full of birds so are [the harlots'] houses full of deceit.64
Do not worry about to-morrow's trouble, for thou knowest not what the day may beget. To-morrow may come and thou65  wilt be no more and so thou hast worried about a world which is not thine.66
Keep away many from thy house; and do not bring everyone into thy house.
Many be they that seek thy welfare; reveal thy secret only to one of a thousand.
R. Assi stated: The son of David67  will not come before all the souls in Guf68  are disposed of; since it is said, For the spirit that enwrappeth itself is from Me, and the souls which I have made.69
It was taught: R. Eliezer stated, He who does not engage in propagation of the race is as though he sheds blood; for it is said, Whoso sheddeth man's blood by man shall his blood be shed,70  and this is immediately followed by the text, And you, be ye fruitful and multiply.71  R. Jacob said: As though he has diminished the Divine Image; since it is said, For in the image of God made he man,72  and this is immediately followed by, And you, be ye fruitful etc.71  Ben 'Azzai said: As though he sheds blood and diminishes the Divine Image; since it is said,73  And you, be ye fruitful and mutltiply.71
They said to Ben 'Azzai: Some preach well and act well, others act well but do not preach well; you. however, preach well but do not act well!74  Ben 'Azzai replied: But what shall I do, seeing that my soul is in love with the Torah; the world can be carried on by others.
Another [Baraitha] taught: R. Eliezer said, Anyone who does not engage in the propagation of the race is as though he sheds blood; For it is said, Whoso sheddeth mans's blood,72  and close upon it follows, And you, be ye fruitful etc.71  R. Eleazar b. Azariah said: As though he diminished the Divine Image. Ben 'Azzai said etc.75  They said to Ben 'Azzai: Some preach well etc.75
Our Rabbis taught: And when it rested, he said: 'Return O Lord unto the ten thousands and76  thousands of Israel',77


Original footnotes renumbered. See Structure of the Talmud Files
  1. BaH inserts, 'it is not so'.
  2. Or 'satisfaction', 'contentment'.
  3. Prov. V, 18.
  4. Sanh. 22b. Which is apparently contradictory to the former character attributed to her!
  5. Cf. Jast. and Golds.
  6. Her husband.
  7. His meal.
  8. Lit., 'mouth'.
  9. Euphemism.
  10. [H] lit., 'stopped up'.
  11. [H] regarded to have the same meaning as [H] supra n. 7.
  12. Prov, XVIII, 22.
  13. Palestine.
  14. Hebr. Moze or Maza.
  15. Eccl. VII, 26.
  16. [H] rt. [H] v. infra.
  17. [H] of the same rt. as supra n. 13.
  18. Prov. XXII, 10.
  19. V. Glos.
  20. Which the husband, should he desire to divorce her, cannot afford to pay.
  21. I.e., a bad wife is more easily corrected by subjecting her to the unpleasantness of a rival than by chastising her with thorns.
  22. Prov. XXVII, 15.
  23. Eccl, VII, 26.
  24. Jer. XI, 11.
  25. V. Glos.
  26. Which the husband, should he desire to divorce her, cannot afford to pay.
  27. Lam, I, 14.
  28. Palestine.
  29. Having no land of his own from which to obtain his food, he is subject to the extortionate prices of unscrupulous dealers upon whom he must depend for the supply of his daily food.
  30. Deut. XXVIII, 32.
  31. A stepmother.
  32. [H].
  33. Deut. XXXII, 21.
  34. Which the husband, should he desire to divorce her, cannot afford to pay.
  35. Bomberg ed., Minim, 'heretics'.
  36. Ps. XIV, 1.
  37. Tunis.
  38. Britannia? v. Jast.
  39. The followers of an expanded Zoroastrian ritual who, under the guidance of the Magians, in the reign of Ardashir I (226-241), severely oppressed the adherents of other creeds.
  40. V. p. 424, n. 17.
  41. Knowing as he did their intolerance and cruel religious fanaticism.
  42. Lit., 'made (himself) straight'.
  43. All hope, he felt, was not lost when concessions might be obtained by paying for them.
  44. The Parsees who were accepted by Israel as a visitation sent by the divine will for their neglect of the Torah and its commandments.
  45. Of Israel in Babylon.
  46. Under a decree that any animal killed for human consumption must not be eaten unless certain parts of it were first offered on the Parsee altars, Jews were practically excluded from the eating of meat.
  47. Prescribed in Deut. XVIII, 3.
  48. One of the religious laws of the Parsees forbade the pollution of the earth by the burial of corpses. As a result, the graves in the Jewish cemeteries were broken open, and the dead exhumed and thrown to the beasts and birds of prey.
  49. The idolaters'.
  50. I Sam, XII, 15.
  51. The hand of the Lord against the fathers who were no more alive.
  52. Jer. VIII, 2.
  53. Immediately following this text.
  54. Jer. VIII, 3. How could it be said that such an ignominious death as described (ibid. 2) would be chosen rather than life?
  55. The choice of death will not be made, as was assumed, by the sufferers. It is the prophet's oracle on the destiny of the wicked.
  56. Ecclesiasticus,
  57. So BaH. Cur. edd. add, 'to her husband; and it is written, good'.
  58. Cf. Ecclesiasticus XXVI, 3.
  59. Lit., 'happy is her husband'. Cf. Ps. I, 1.
  60. Cf. Ecclesiasticus XXVI, 1. Every happy day is as good as two (v. Rashi).
  61. Cf. Ben Sira (Ben Zeeb ed.) IX, 8, 10, 11.
  62. His business of selling spices and perfumes to women leads him to much temptation.
  63. Cf. Ben Sira (Ben Zeeb ed.) IX suppl. to v. 12.
  64. Cf. Jer. V, 27 and op. cit., second suppl. loc. cit,
  65. Lit., 'he'.
  66. Lit., 'his'. Cf. Ben Sira, op. cit., XXX, 23. 24.
  67. The Messiah,
  68. Lit., 'body', the region inhabited by the unborn souls.
  69. Isa LVII, 16. The previous section of the verse speaks of the redemption (Rashi). Hence the deduction that the redemption that is to come through the Messiah will not take place before all the unborn souls have been made, i.e., passed through the life of this world.
  70. Gen. IX, 6.
  71. Gen. IX, 7.
  72. Ibid. 6.
  73. After both Whoso sheddeth man's blood and In the image of God made he man. (Gen. IX, 6).
  74. He remained a bachelor.
  75. V. supra.
  76. E.V. 'of the'.
  77. Num. X, 36.

Baca disini Penjelasannya: https://www.kaskus.co.id/show_post/53d21db5c3cb17aa108b474e/6/and-you-consider-us-as-your-enemy-sick

YANG MENCENGANGKAN!!
Father/Pastor Dr. Ed Fields: Pelayanan keagamaan bersama di bawah naungan program "Yahudi Kristen" - "Judeo Christian" adalah sebuah penghinaan terhadap setiap orang Kristen sejati!!. Ini adalah upaya licik untuk menundukkan iman kita di bawah salah satu yang anti-Kristen di setiap cara yang mungkin! Kekristenan memiliki lebih banyak kesamaan dengan Mohammedanism, Hindu atau Buddha dari yang kita lakukan dengan Yudaisme. Namun layanan ekumenis (Kristen) terhadap agama ini (Yahudi) diluar akal pikiran iman!!!!
https://www.stormfront.org/truth_at_last/archives/TT4.htm


Yesus dari Nazaret melakukan sihir dan tertipu dan memimpin Israel sesat on: Jesus in the Talmud. (maaf moderator saya hanya mengutip)

http://en.wikipedia.org/wiki/Jesus_in_the_Talmud


Jesus/isos/mesiah/mahdi/Isa Ibni Maryam/Iēsous/Mashiaẖ/Al masih/Khristós/Other traditions/Rastafari/Maitreya/Jhesu/Lesu/Wahanse/The first Sikh Guru/Gesù/Yeshu bukan hanya milik satu agama dan golongan - we call his name with a beautiful words & you consider us as your enemies? SICK!!!



Kami menyebut namanya dan nama ibunya dengan baik dan dengan bahasa yang indah - Please be upon Him and His Mother.

Kitab Talmud adalah kitab suci yang terpenting bagi kaum Yahudi, bahkan lebih penting daripada Kitab Taurat. Kitab Talmud bukan saja menjadi sumber dalam penetapan hukum agama, tetapi juga menjadi ideologi dan prinsip-prinsip, serta arahan bagi penyusunan kebijakan negara dan pemerintah Yahudi Israel, dan menjadi pandangan hidup orang Yahudi pada umumnya. Itu pula sebabnya mengapa negara Yahudi Israel disebut sebagai negara yang rasis, chauvinistik, theokratik, konservatif, dan sangat dogmatik.

Keimanan orang Yahudi terhadap Kitab Talmud mengatasi bahkan Kitab Perjanjian Lama, yang juga dikenal dengan nama Taurat. Bukti tentang hal ini dapat ditemukan dalam Talmud ‘Erubin’ 2b (edisi Soncino) yang mengingatkan kepada kaum Yahudi, “Wahai anakku, hendaklah engkau lebih mengutamakan fatwa dari para Ahli Kitab (Talmud) daripada ayat-ayat Taurat”.


Beberapa Contoh Isi Ajaran Talmud

1.Erubin 2b, “Barangsiapa yang tidak taat kepada para rabbi mereka akan dihukum dengan cara dijerang di dalam kotoran manusia yang mendidih di neraka”.

2.Moed Kattan 17a, “Bilamana seorang Yahudi tergoda untuk melakukan sesuatu kejahatan, maka hendaklah ia pergi ke suatu kota dimana ia tidak dikenal orang, dan lakukanlah kejahatan itu disana”.

3.Menganiaya seorang Yahudi Sama Dengan Menghujat Tuhan.

Sanhedrin 58b, “Jika seorang kafir menganiaya seorang Yahudi, maka orang kafir itu harus dibunuh”.

4.Dibenarkan Menipu Orang yang Bukan-Yahudi

Sanhedrin 57a, “Seorang Yahudi tidak wajib membayar upah kepada orang kafir yang bekerja baginya”.

5.Orang Yahudi Mempunyai Kedudukan Hukum yang Lebih Tinggi

Baba Kamma 37b, “Jika lembu seorang Yahudi melukai lembu kepunyaan orang Kanaan, tidak perlu ada ganti rugi; tetapi ,jika lembu orang Kanaan sampai melukai lembu kepunyaan orang Yahudi maka orang itu harus membayar ganti rugi sepenuh-penuhnya”.

6.Orang Yahudi Boleh Mencuri Barang Milik Bukan-Yahudi

Baba Mezia 24a, “Jika seorang Yahudi menemukan barang hilang milik orang kafir, ia tidak wajib mengembalikan kepada pemiliknya”. (Ayat ini ditegaskan kembali di dalam Baba Kamma 113b),

Sanhedrin 57a, “Tuhan tidak akan mengampuni seorang Yahudi ‘yang mengawinkan anak-perempuannya kepada seorang tua, atau memungut menantu bagi anak-lakinya yang masih bayi, atau mengembalikan barang hilang milik orang Cuthea (kafir)’ …”.

7.Yang Bukan-Yahudi adalah Hewan di bawah Derajat Manusia

Yebamoth 98a, “Semua anak keturunan orang kafir tergolong sama dengan binatang”.

Abodah Zarah 36b, “Anak-perempuan orang kafir sama dengan ‘niddah’ (najis) sejak lahir”.

Abodah Zarah 22a – 22b, “Orang kafir lebih senang berhubungan seks dengan lembu”.



SEKARANG UNTUK AYAT2 GILANYA.

1.ebamoth 63a, ” … Adam telah bersetubuh dengan semua binatang ketika ia berada di Sorga”.

2.Yebamoth 63a, “…menjadi petani adalah pekerjaan yang paling hina “.

3.Yebamoth 59b, “Seorang perempuan yang telah bersetubuh dengan seekor binatang diperbolehkan menikah dengan pendeta Yahudi. Seorang perempuan Yahudi yang telah bersetubuh dengan jin juga diperbolehkan kimpoi dengan seorang pendeta Yahudi”.

4.Baba Mezia 59b, “Seorang rabbi telah mendebat Tuhan dan mengalahkan-Nya. Tuhan pun mengakui bahwa rabbi itu memenangkan debat tersebut”.

INI ADALAH SYARIAT KAUM YAHUDI BAHWA KRISTEN WAJIB DI HUKUM MATI

Para ulama Taurat menetapkan, bahwa, “Taurat mewajibkan bahwa ummat yang benar akan mendapatkan tempatnya di Hari Kemudian. Tetapi, tidak semua kaum ‘goyyim’ akan memperoleh kehidupan yang abadi meskipun mereka taat dan berlaku shaleh menurut agama mereka … Dan meskipun kaum Kristen pada umumnya menerima Kitab Perjanjian Lama Ibrani sebagai kitab yang diwahyukan dari Tuhan, namun mereka (disebabkan adanya kepercayaan pada apa yang disebut mereka ketuhanan pada Jesus) sebenarnya kaum Kristen adalah penyembah berhala menurut Taurat, oleh karena itu patut dihukum mati, dan mereka kaum Kristen itu sudah dipastikan tidak akan memperoleh ampunan di Hari Kemudian.”



PENGHINAAN TERHADAP YESUS (NABI ISA) DAN MARIA

1.Sanhedrin 106a : Mengatakan ibu Yesus adalah pelacur. Dia yang merupakan anak keturunan Gubernur dan Pangeran memainkan Pelacur dengan tukang kayu. Di catatan kaki #2 Shabbath 104b dalam teks “uncencored” dikatakan bahwa “Miriam penata rambut, berhubungan seks dengan banyak lelaki”.

2.Sanhedrin 43a : Yesus adalah sang Penyihir.

3.Gittin 57a : Yesus sedang direbus dalam Kotoran (tinja) Panas

4.Sanhedrin 43a : Yesus layak dieksekusi

5.Shabbath 116a (p. 569) : Yahudi harus menghancurkan buku Kristen termasuk Perjanjian Baru. Catatan kaki #6. Israel Shahak melaporkan bahwa Zionis membakar ratusan buku Perjanjian Baru dalam pendudukan Paestina tanggal 23 Maret 1980 (cf. Jewish History, Jewish Religion, p. 21).


"Pada malam kematiannya, Yesus digantung dan empatpuluh hari sebelumnya diumumkan bahwa Yesus akan dirajam (dilempari batu) hingga mati karena ia telah melakukan sihir dan telah membujuk orang-orang untuk melakukan kemusyrikan (pemujaan terhadap berhala)... Dia adalah seorang pemikat, dan oleh karena itu janganlah kalian mengasihaninya atau pun memaafkan kelakuannya"(Sanhedrin 43a)
"Yesus ada di dalam neraka, direbus dalam kotoran (tinja) panas."(Gittin 57a)
"Ummat Kristiani (yang disebut 'minnim') dan siapa pun yang menolak Talmud akan dimasukkan ke dalam neraka dan akan dihukum disana bersama seluruh keturunannya."(Rosh Hashanah 17a).
"Barangsiapa yang membaca Perjanjian Baru tidak akan mendapatkan bagian 'hari kemudian'(akhirat), dan Yahudi harus menghancurkan kitab suci... umat Kristiani yaitu Perjanjian Baru."(Shabbath 116a)

(Kaskus/Come-And-Hear/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

ABNS Video You Tube

Terkait Berita: