e. PENGAMANAN RITUAL MAATAM
f. PENGAMANAN RITUAL MAARAK JARI-JARI
g. PENGAMANAN RITUAL MAARAK SAROBAN
h. PENGAMANAN RITUAL TABUIK NAIK PANGKEK
i. PENGAMANAN HOYAK TABUIK PIAMAN
Perhatikan dengan seksama bahwa tradisi tabot tidak ada satupun foto-foto nikah mut'ah. (Sumber: Foto Polres Pariaman)
Sumber Hoax dan fitnah terhadap tradisi tabot mengatakan sebagai berikut:
Perhatikan Scan websitenya:
Perhatikan website diatas yang saya tulis diatas Ternyata Sumber Hoax dan fitnahnya dari website wahabi yaitu Nahimunkar.
Ini dia linknya: https://www.nahimunkar.org/tabot-tabuik-dan-nikah-mutah/
Link wahabi yang lain:
https://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/tabot-tabuik-dan-nikah-mut-ah.htm
http://buktikebenaransyiah.blogspot.co.id/2016/03/waspada-iranisasi-padang-pariaman-umat.html?m=1
(Polres-Pariaman/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
f. PENGAMANAN RITUAL MAARAK JARI-JARI
g. PENGAMANAN RITUAL MAARAK SAROBAN
h. PENGAMANAN RITUAL TABUIK NAIK PANGKEK
i. PENGAMANAN HOYAK TABUIK PIAMAN
Perhatikan dengan seksama bahwa tradisi tabot tidak ada satupun foto-foto nikah mut'ah. (Sumber: Foto Polres Pariaman)
Sumber Hoax dan fitnah terhadap tradisi tabot mengatakan sebagai berikut:
Tabot, Tabuik dan Nikah Mut’ah
Tabot, Tabuik dan Nikah Mut’ah
Sebagian tokoh syi’ah ada yang pernah
mengklaim, bahwa sebenarnya ideologi syi’ah sudah diterima masyarakat
Indonesia sejak lama, dengan menunjuk kepada fenomena budaya berupa Tabot di Bengkulu atau Tabuik di Sumatera Barat, juga maraknya praktek nikah mut’ah di sejumlah daerah di Indonesia.
Klaim seperti itu sebenarnya tidak berdasar, karena meski sebagian (kecil) masyarakat Indonesia merayakan Tabot atau Tabuik dan mempraktekkan nikah mut’ah, namun landasannya bukan pemahaman keagamaan, tetapi semata-mata faktor fulus. Tradisi Tabot atau Tabuik menjadi menarik diprogramkan secara berkala karena anggarannya menggiurkan, mencapai milyaran. Sedangkan nikah mut’ah
dipraktekkan karena dijadikan solusi instan untuk keluar dari
kemiskinan turun temurun atau menyalurkan syahwat dengan cara haram
namun dibolehkan oleh aliran sesat syi’ah.
Tabot Bengkulu
Konon Tabot yang merupakan
upacara belasungkawa pengikut syi’ah ini mulai diperkenalkan pertama
kali pada tahun 1685 oleh Syekh Burhanuddin alias Imam Senggolo, yang
menikah dengan gadis Bengkulu. Namun ada juga yang mengatakan, Tabot
dibawa oleh para pekerja asal India Selatan (Madras dan Bengali) yang
berpaham Syi’ah pada tahun 1718. Para pekerja itu dibawa ke Bengkulu
oleh kolonialis Inggris untuk membangun Benteng Marlborough.
Para pekerja asal Madras dan Bengali ini,
kemudian membaur dengan penduduk setempat, termasuk dengan keturunan
Syekh Burhanuddin. Mereka beranak pinak, sehingga membentuk komunitas Sipai. Orang-orang Sipai
inilah yang melanjutkan dan menghidup-hidupkan tradisi Tabot. Artinya,
tradisi Tabot ini belum pernah secara luas diterima sebagai tradisi
lokal oleh masyarakat Bengkulu pada umumnya. Dalam makna lain, sepenggal
ajaran syi’ah yang dibawa para pekerja dari Madras dan Bengali hanya
diterima oleh orang-orang Sipai saja.
Namun belakangan, orang-orang Sipai pun berhasil membebaskan diri dari kesesatan ajaran syi’ah, namun masih mempraktekkan tradisi Tabot semata-mata untuk mengenang dan menghormati tradisi nenek moyang mereka. Akhirnya, seiring perjalanan waktu, tradisi Tabot
yang semula dimaksudkan untuk mengenang kematian cucu Nabi Muhammad SAW
yaitu Husein ra yang tewas di Padang Karbala, kini berubah arah menjadi
pesta budaya lokal yang didanai pemerintah setempat (pemprov maupun
pemkot). Yang namanya pesta, lebih banyak menjurus kepada hura-hura
semata.
Pada tahun 2010, tradisi Tabot di
Bengkulu yang berlangsung 6-16 Desember 2010, menelan biaya Rp 1,2
milyar. Sebesar Rp 500 juta berasal dari dana Pemprov bengkulu,
sedangkan sebesar Rp 640 juta lainnya berasal dari Pemkot Bengkulu.
Selebihnya diperoleh dari donatur. Biasanya, tradisi Tabot yang kini diberi nama Festival Tabot ini berlangsung pada tanggal 1 hingga 10 Muharram setiap tahunnya.
Secara lebih tegas, tradisi Tabot menjadi festival budaya lokal dengan nama Festival Tabot,
sudah berlangsung sejak 1990. Penyelenggaranya, tetap dari komunitas
Sipai yang menamakan diri Kerukunan Keluarga Tabot Bengkulu (KTB). Pada
tahun 2010 lalu, diselenggarakan di depan Tugu Thomas Parr, Kelurahan
Malabero, dan dihadiri oleh seluruh unsur Muspida provinsi Bengkulu.
Juga para bupati dan wakil bupati di seluruh kabupaten dan kota.
Tabut konon berasal dari bahasa Arab yaitu At-Tabut,
yang berarti kotak atau peti mati sebagai perlambang peti mati berisi
jenazah Husein ra. Peti-peti tersebut kemudian akan dibuang ke laut
(dilarung), namun kini lebih sering dibuang ke rawa-rawa tak jauh dari
pemakaman umum Karbela yang diakui sebagai tempat dimakamkannya jasad Syekh Burhanuddin alias Imam Senggolo. Di Bengkulu, Tabot yang dilarung berjumlah 17 buah, untuk mengenang perintis Tabot di daerah ini yang berjumlah 17 orang. Isi Tabot
antara lain aneka bendera berikut tiang, tombak bermata ganda, tiruan
pedang Zufikar dalam ukuran yang jauh lebih kecil. Pedang Zulfikar
adalah senjata perang yang biasa digunakan Rasulullah SAW.
Sebelum melarung Tabot, sejumlah
ritual lebih dulu dilaksanakan selama 10 hari sebelumnya, antara lain
upacara pengambilan tanah, upacara sakral duduk penja, upacara menjara,
upacara arak jari-jari, hari Gam atau tidak ada bunyi-bunyian, Tabot naik pangke, malam arak gedang dan arak-arakan Tabot terbuang. Itu semua tidak ada contohnya dalam ajaran Islam.
Pada Festival Tabot 2010 lalu, Tabot yang diarak kemudian dibuang berjumlah 39 buah. Terdiri dari 17 Tabot ritual dan 16 tabot turutan serta 6 Tabot pembangunan. Dari sekitar Rp 1,2 milyar biaya Festival Tabot, ada sebagian (kecil) dari dana tersebut yang dialokasikan untuk dibagi-bagikan kepada Kerukunan Keluarga Tabot (KKT).
Seiring perjalanan waktu, tradisi Tabot
yang semula dapat ditemukan di sejumlah kawasan di Aceh (Pidie, Banda
Aceh, Meuleboh dan Singkil), dan Sumatera Barat (Painan, Padang,
Pariaman, Maninjau), Alhamdulillah kini sudah tiada kecuali di Pariaman selain di Bengkulu. Di Pariaman, tradisi Tabot dinamakan Tabuik, yang bermakna sama, peti.
Tabuik Pariaman
Pariaman bermakna daerah yang aman,
adalah sebuah kota yang pernah menjadi bagian dari Kabupaten Padang
Pariaman, Sumatera Barat. Sejak 2002 Kotif Pariaman menjadi Kota
Pariaman dengan empat Kecamatan. Di daerah ini Tabuik konon sudah dikenal sejak tahun 1831 yang dibawa oleh tentara Inggris asal Sepoy atau Cipei (India). Bila di Bengkulu ada 17 Tabot, di Pariaman hanya ada 2 Tabuik yang melambangkan peti jenazah Hasan ra dan Husein ra, cucu Nabi Muhammad SAW.
Bila di bengkulu dinamakan Festival Tabot, di Pariaman dinamakan Pesta Budaya Tabuik Piaman
yang sejak 1974 menjadi kegiatan rutin bidang wisata Pemkot Pariaman.
Sebagaimana di Bengkulu, Tabuik Pariaman juga diselenggarakan pada
tanggal 1-10 Muharram, dan merupakan upacara peringatan atas
meninggalnya Husein ra (cucu Nabi Muhammad SAW).
Menurut Uun Halimah (uun-halimah.blogspot.com), prosesi panjang Tabuik
diawali dengan membuat tabuik di dua tempat, yaitu di pasar (tabuik
pasar) dan subarang (tabuik subarang). Masing-masing terdiri dari dua
bagian (atas dan bawah) yang tingginya dapat mencapai 12 meter. Bagian
atas mewakili keranda berbentuk menara yang dihiasi dengan bunga dan
kain beludru berwarna-warni. Sedangkan, bagian bawah berbentuk tubuh
kuda, bersayap, berekor dan berkepala manusia.
Bagian bawah ini menurut Uun Halimah
pula, mewakili bentuk burung Buraq yang dipercaya membawa Husein ra ke
langit menghadap Yang Kuasa. Kedua bagian ini kemudian disatukan.
Caranya, bagian atas diusung secara beramai-ramai untuk disatukan dengan
bagian bawah. Setelah itu, berturut-turut dipasang sayap, ekor,
bunga-bunga salapan dan terakhir kepala. Untuk menambah semangat para
pengusung tabuik biasanya diiringi dengan musik gendang tasa. Penyatuan
dua bagian tabuik (atas dan bawah) biasanya usai menjelang waktu shalat
dzuhur tiba. Kedua tabuik tadi dipajang berhadap-hadapan dan merupakan
personifikasi dari dua pasukan yang akan berperang.
Ba’da Ashar, kedua Tabuik diarak keliling Kota Pariaman. Masing-masing Tabuik dibopong oleh delapan orang pria. Arak-arakan berlanjut hingga ke Pantai Gandoriah. Di tempat ini kedua Tabuik diadu, untuk menggambarkan situasi perang di Padang Karbala. Usai diadu, kedua Tabuik dibuang ke laut. Prosesi membuang Tabuik
ke laut ini melambangkan dibuangnya segala silang sengketa di
masyarakat. Sekaligus, melambangkan terbangnya burung Buraq membawa
jasad Husein ra ke Surga.
Terkesan, tradisi Tabuik ini
merupakan perpaduan antara tradisi Syi’ah dan Hindu. Maka untuk memberi
kesan Islami, pada perayaan tabuik yang berlangsung selama 10 hari ini,
dibumbui pula dengan hal-hal yang berbau Islam, antara lain pengajian
yang melibatkan ibu-ibu serta murid-murid TPA dan Madrasah Kota
Pariaman.
Tahapan Pesta Budaya Tabuik di pariaman pada dasarnya sama saja dengan Festival Tabot di Bengkulu:
- Membuat Tabuik.
- Menyatukan bagian atas dan bawah Tabuik (Tabuik naik pangkat).
- Mengambil tanah yang dilakukan saat adzan Maghrib (maambiak tanah). Pengambilan tanah ini mengandung pesan bahwa setiap manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Tanah yang sudah diambil tadi kemudian diarak dan disimpan di dalam daraga, sebuah wadah berukuran 3 x 3 meter, dibalut kain putih, akhirnya dimasukkan ke dalam Tabuik (pelambang peti jenazah).
- Mengambil batang pisang (maambiak batang pisang), kemudian ditanamkan di dekat pusara.
- Mengarak panja yang berisi jejari tangan tiruan keliling kampung (maarak panja-jari). Makna simboliknya, untuk memberitahukan kepada pengikut Husein ra bahwa jari-jari tangan Husein ra yang tercecer saat Perang Karbala telah ditemukan.
- Mengarak sorban (maarak sorban), yang mengandung makana simbolik bahwa Husein ra telah tewas dipenggal lawannya.
- Membuang tabuik, yaitu membawa Tabuik ke pantai dan dibuang ke laut.
Pada tahun 2010 lalu, Pesta Budaya Tabuik Piaman
digelar pada tanggal 7 hingga 19 Desember 2010. Agar terlihat Islami,
pesta budaya ini diawali dengan Dzkir Bersama dan Tausiyah. Menurut
Mukhlis Rahman (Walikota Pariaman), pesta budaya tabuik tahun 2010
berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena pada tahun 2010 ini juga
ditampilkan pagelaran Barongsai, yang merupakan budaya khas Cina.
Jadi, pesta budaya tabuik pariaman ini
campuran berbagai unsur, yaitu syi’ah, Hindu, Cina Konghucu dan Islam.
Boleh jadi, ini namanya sinkretisme yang mengandung kemusyrikan, dan dibiayai pemerintah setempat.
Nampaknya, pemkot Pariaman cukup serius menjadikan tradisi Tabuik
sebagai bagian dari objek wisata lokal yang bisa dijual. Faktanya, pada
tanggal 9 April 2011 lalu, pemkot Pariaman meresmikan dua unit Rumah Tabuik,
yang dimaksudkan sebagai pusat kebudayaan, seni, dan tradisi Pariaman.
Dana pembuatan rumah Tabuik ini berasal dari APBN sebesar Rp 2,3 miliar
dan dana APBD Pariaman Rp 1,71 miliar. Rumah Tabuik terdiri dari Rumah Tabuik Pasa yang berlokasi di Jl. Syech Burhanuddin. Satu unit lainnya yaitu Rumah Tabuik Subarang terletak di Jl. Imam Bonjol.
Menurut penjelasan pihak terkait, Rumah Tabuik
didirikan untuk menjalankan fungsi sebagai Museum Budaya, agar
masyarakat luas dapat memperoleh informasi lengkap tentang proses
pembuatan tabuik dan latar belakang sejarah yang menyertainya. Juga,
dimaksudkan sebagai pusat pembuatan seluruh prosesi Tabuik. Yang lebih penting, dua unit rumah Tabuik ini dimaksudkan sebagai alternatif tujuan wisata di kawasan Sumatera Barat.
Nikah Mut’ah
Berbeda dengan Tabot atau Tabuik yang dibiayai pemerintah, dan dijadikan salah satu kekayaan budaya lokal, nikah mut’ah alias kawin kontrak justru dirazia aparat setempat. Namun, meski sering dilakukan razia berkala, keberadaan nikah mut’at
alias kawin kontrak ini tetap saja eksis bahkan kian subur. Ada yang
mengatakan, pemerintah sendiri tidak terlalu serius memberantas
kemunkaran model ini, karena kedatangan wisatawan berwajah Timur Tengah
pelaku kawin kontrak menjadi salah satu pendapatan daerah yang lumayan.
Bila di Bengkulu ada istilah orang-orang
Sipai, yaitu keturunan mantan serdadu Inggris asal India yang
mempromosikan tradisi tabot khas syi’ah, maka di kawasan Desa Tugu,
Cisarua, Bogor, Jawa Barat, ada sebuah pemukiman yang dinamakan kampung
Sampay, yang terkenal sebagai pemasok wanita calon pelaku nikah mut’ah alias kawin kontrak. Nikah mut’ah alias kawin kontrak ini biasanya terjadi antara wanita setempat dengan pria berwajah Timur Tengah.
Meksi sudah dinyatakan haram oleh MUI
Pusat dan MUI setempat, namun wanita lokal peminat nikah mut’ah dengan
pria berwajah Timur Tengah ini kian hari kian banyak saja. Bahkan tidak
hanya dari Kampung Sampay, namun sudah meluas ke berbagai daerah
sekitar, seperti Cianjur dan Sukabumi, bahkan dari Jakarta. Namun
demikian, praktik nikah mut’ah alias kawin kontrak tetap terpusat di
kawasan Cisarua, atau lebih dikenal dengan kawasan Puncak yang terkenal
berhawa sejuk dan banyak ditemukan sejumlah vila untuk disewakan.
Praktik nikah mut’ah alias kawin kontrak
di kawasan Puncak ini, bercampur baur dengan pelacuran yang biasa
menjamur di kawasan tujuan wisata berhawa sejuk ini. Keduanya sama-sama
perbuatan zina yang kadang diberantas, tapi apakah serius atau tidak, wallahu a’lam.
Pada tahun 2010 lalu, ketika aparat
setempat melakukan razia terhadap pelaku nikah mut’ah di kawasan
Cisarua, dari sejumlah pelaku terdapat dua diantaranya perempuan asal
Jakarta, yang berstatus mahasiswi. Mereka adalah Aida (saat itu 22
tahun) dan Sarah (saat itu 20 tahun). Aida warga Semper, Jakarta Utara
ini mengakui sebagai mahasiswi di sebuah perguruan tinggi di kawasan
Kramat Raya, Jakarta Pusat. Sedangkan Sarah warga Jakarta Timur ini
mengaku berstatus sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi
swasta yang berlokasi di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.
Aida memang sengaja terjun menjadi
pelacur dengan kedok nikah mut’ah, untuk membiayai kuliahnya. Sedangkan
Sarah, terjun ke kancah pelacuran dengan kedok nikah mut’ah karena
berhasil diperdaya seorang kaki tangan mucikari. Namun akhirnya Sarah
pun larut sejak 2007, seolah keenakan jadi pelacur dengan sebutan nikah
mut’ah itu.
Saat itu aparat pun berhasil membekuk
sejumlah imigran berwajah Timur Tengah pelaku nikah mut’ah alias kawin
kontrak alias zina. Mereka berasal dari Irak dan Afghanistan. Kedatangan
wisatawan asal Irak dan Afghanistan tersebut, melalui jalur tidak resmi
alias ilegal.
Pada tahun 2011, khususnya bulan Juni
lalu, aparat setempat kembali melakukan razia. Dari sejumlah perempuan
pelaku nikah mut’ah yang berhasil diamankan aparat, salah satunya
bernama Fitriasih yang saat itu belum genap berusia 18 tahun. Namun,
Fitriasih sudah menjalani praktik nikah mut’ah selama delapan bulan
dengan 11 pria berwajah Timur Tengah.
Fitriasih asal Cijantung (Jakarta Timur)
ini hanya lulusan SMP dan pernah menikah saat umurnya memasuki usia 17
tahun. Perkawinan itu bubar dalam waktu singkat. Dengan sadar, Fitriasih
memasuki zona haram bernama kawin kontrak.
Menurut penuturan Fitriasih, usia nikah
mut’ah yang pernah dijalaninya paling singkat sekitar tiga minggu, dan
paling lama sekitar satu bulan, dan ada “sang mami” alias mucikarinya
yang menjalankan peran sebagai perantara.
***
Dari gambaran di atas, jelas bagi kita
bahwa nikah mut’ah alias kawin kontrak telah dijadikan sarana untuk
membungkus pelacuran dengan hal-hal yang berbau agamis, terutama ajaran
syi’ah yang membolehkan nikah mut’ah. Bahkan di Iran sendiri menurut republika.co.id
edisi Kamis 09 Juni 2011, praktik nikah mut’ah menjadi lebih
digandrungi ketimbang nikah permanen. Apalagi praktik yang haram menurut
Islam ini justru difasilitasi oleh pemerintah Iran. Yang lebih
mengejutkan lagi, praktik nikah mut’ah di Iran paling menonjol terjadi
di kota Qum yang dianggap sebagai kota suci dan merupakan pusat
pendidikan ilmu agama, yang sebagian besar lulusannya menjadi ulama
Syiah ternama. Astaghfirullah. (nahimunkar.com)
Sumber: https://muslimminang.wordpress.com/2014/10/27/tabot-tabuik-dan-nikah-mutah/
_____________________________
Perhatikan Scan websitenya:
Perhatikan website diatas yang saya tulis diatas Ternyata Sumber Hoax dan fitnahnya dari website wahabi yaitu Nahimunkar.
Ini dia linknya: https://www.nahimunkar.org/tabot-tabuik-dan-nikah-mutah/
Link wahabi yang lain:
https://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/tabot-tabuik-dan-nikah-mut-ah.htm
http://buktikebenaransyiah.blogspot.co.id/2016/03/waspada-iranisasi-padang-pariaman-umat.html?m=1
(Polres-Pariaman/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Posting Komentar