Pesan Rahbar

Sekilas Doa Arafah Imam Husain as dan Doa Arafah Imam Husain as

Doa Arafah (Bahasa Arab: دعاء العرفة ) adalah diantara doa-doa Syiah yang menurut riwayat dibaca oleh Imam Husain as pada hari ke-9 Dzul...

Home » , » Seri Tokoh Sufi: Mengenal Ibrahim Bin Adham

Seri Tokoh Sufi: Mengenal Ibrahim Bin Adham

Written By Unknown on Senin, 25 Desember 2017 | Desember 25, 2017


Ibrahim bin Adham [1] mempunyai julukan Abu Ishak, yang berasal dari penduduk Balakh, yaitu salah satu kota yang terkenal di Khurosan. Beliau termasuk anak seorang raja. Pada suatu hari beliau keluar berburu lalu beliau mendengar suatu suara yang tidak diketahui sumbernya yang menyadarkannya dari kelalaian, lalu beliau meninggalkan jalan yang selama ini ditempuhnya yaitu jalan cinta dunia. Kemudian beliau mengikuti tarekat ahli zuhud dan warak dan beliau pergi ke Mekkah dan diikuti oleh Sofyan ats-Tsauri dan Fudhail bin `Iyadh[2]. Beliau memasuki kota Syam dan bekerja di dalamnya dan makan dari hasil keringatnya sendiri.


Sebab Taubatnya:

Pembantu Ibrahim bin Adham yang bernama Ibrahim bin Basyar al-Khurosani berkata: “Aku pernah menemani Tuanku Ibrahim bin Adham ke kota Syam dan aku pernah berkata pada suatu hari: “Wahai Abu Ishak, coba ceritakan kepada awal dari permulaan kehidupanmu?” Ibrahim menjawab: “Ayahku seorang raja terkenal di Khurosan. Saat itu aku masih muda, dan aku menyertai sekelompok orang untuk berburu sebagaimana kebiasaan anak-anak raja. Aku menunggangi kendaraan dan bersamaku seekor anjing lalu aku berhasil menangkap seekor musang atau kelinci. Ketika aku sedang asik-asiknya berburu, tiba-tiba aku mendengar suara yang tidak bisa aku lihat yang berkata kepadaku, wahai Ibrahim apakah karena ini engkau diciptakan, apakah karena ini engkau diperintahkan? Kemudian aku bertemu dengan seorang penggembala kambing ayahku lalu aku mengambil jubahnya yang terbuat dari kulit domba, sehingga aku memakainya sebagai baju dan aku membayar uang kepadanya sebagai gantinya. Kemudian aku pergi ke Mekkah al-Mukarromah dan ketika aku di tengah-tengah gurun, aku bertemu dengan seorang lelaki yang sedang berjalan tanpa kendaraan dan tanpa bekal. Tatkala memasuki waktu sore dan kemudian ia melakukan shalat Maghrib, ia menggerakkan bibirnya dengan suatu ucapan yang tidak aku mengerti dan tiba-tiba di hadapanku ada makanan dalam wadah yang di dalamnya ada makanan dan ada wadah lain yang di dalamnya ada minuman. Aku makan dan minum bersamanya dan aku dalam keadaan seperti ini selama beberapa hari lalu ia mengajariku ismullahil a`zham (nama Allah yang agung). Lalu ia berkata kepadaku: “Janganlah kamu berdoa dengannya atas seseorang yang antara kamu dan dia terjadi permusuhan karena kamu dapat menghancurkannya dengan kehancuran dunia dan akhirat, tetapi berdoalah kepada Allah agar dengannya ia dapat menghilangkan rasa takutmu dan menguatkan kelemahanmu serta membuatmu tenang dan membuatmu selalu bergairah pada setiap saat.” Kemudian ia pergi meninggalkan aku.


Hikmah-hikmahnya dan Nasihatnya

Seandainya kita ingin untuk mengungkapkan apa yang dicatat oleh sejarah seorang alim yang sempurna dan besar ini tentu terasa tidak cukup kesempatan yang kita miliki untuk menulis semua itu. Sebagian para wali dan orang-orang saleh banyak memanfaatkan pintu ilmu Ibrahim. Mereka banyak belajar dari beliau untuk mendapatkan hikmah dan pelajaran. Cukup banyak hikmah dan nasihat yang beliau sampaikan, namun kami merasa cukup untuk menyampaikan salah satu bagian darinya dengan harapan mendapatkan keberkahan atas pengaruh cinta yang suci ini dan harapan mudah-mudahan Allah SWT membukakan dengannya hati-hati yang tertutup, telinga-telinga yang tuli dan mata-mata yang buta.

Ibrahim bin Adham menulis surat kepada Sofyan ats-Tsauri, dan dalam suratnya ia berkata: “Pertama, barangsiapa mengenal apa yang dicarinya maka terasa mudah baginya apa yang harus dicurahkannya. Kedua, barangsiapa yang membentangkan pandangannya maka akan lama penyesalannya. Ketiga, barangsiapa yang membentangkan angan-angannya maka akan buruk amalnya. Keempat, barangsiapa yang membentangkan lisannya maka ia justru membunuh dirinya sendiri.

Muhammad bin Ishak berkata: “Ayahku memberitahuku dan berkata, aku berkata kepada Ibrahim bin Adham berwasiatlah kepadaku!” Lalu beliau berkata jadikanlah Allah sebagai sahabat dan tinggalkanlah manusia. Pada suatu kali, orang-orang berkumpul di sisinya sambil berkata, berilah kami nasihat yang bermanfaat buat kami wahai Abu Ishak! Beliau berkata, “Pertama, jika kalian melihat manusia sibuk dengan urusan dunia maka sibukanlah kalian dengan urusan akhirat. Kedua, jika mereka sibuk dengan memperindah bentuk lahiriah mereka maka sibuklah kalian dengan memperindah batiniah kalian. Ketiga, jika mereka sibuk membangun kebun dan istana maka sibukkanlah kalian dengan membangun kuburan. Keempat, jika mereka sibuk dengan mencari-cari kesalahan orang lain, maka sibukkanlah kalian dengan mencari kesalahan diri kalian sendiri. Kelima, jika mereka sibuk dengan melayani dan mengabdi kepada makhluk maka sibuklah kalian dengan mengabdi kepada Tuhan alam semesta. Keenam, ambilah dari dunia ini sebagai bekal yang akan mengantarkan kalian pada akhirat karena sesungguhnya dunia adalah tempat bertanam dari akhirat.

Wahai sahabat suluk, marilah kita bentangkan kejadian yang luar biasa ini, yang dicatat oleh sejarah dengan pena dari cahaya, yang selalu dikenang oleh umat, yang selalu disanjung oleh generasi demi generasi. Marilah kita menyimak karamah ini dengan penuh pertimbangan dan perhatian dimana di dalamnya tampak menonjol kedudukan seorang Imam besar dari imam kaum Muslim dan seorang alim besar. Suatu karamah yang menunjukkan ketinggian kedudukannya dan keteguhan ma’rifat-nya dan ketulusan cintanya serta kedekatannya kepada Sang Kekasih.

Ats-Tsakli berkata: Ali bin Said bercerita kepada kami bahwa Ibrahim bin Bashar berkata: Pada suatu kali kami sedang berlayar di laut bersama Ibrahim bin Adham. Ketika kami mulai berlayar, angin tampak begitu tenang dan bersahabat serta udara begitu mendukung dan lembut, namun tiba-tiba kami dikejutkan dengan adanya gumpalan awan yang pekat bagaikan malam yang gelap lalu diikuti dengan angin kencang dan badai yang secara otomatis mengubah perjalanan perahu. Tiba-tiba ombak yang begitu kencang menerjang ke sana sini dan ingin menghancurkan apa saja yang ada di depannya dan di sekitarnya. Dan perahu yang kami tunggangi pun terancam bahaya yang besar, dimana ombak membuatnya terhuyun-huyun. Oleh karena itu, awak kapal dan isinya merasakan adanya bahaya yang besar sehingga mereka ketakutan. Dalam keadaan demikian, Ibrahim sebagai seorang mukmin sejati yang mengenakan pakaian yang sederhana tampak begitu tenang di atas perahu, lalu para penghuni perahu pun mendatanginya. Mereka mengadukan apa saja yang terjadi di atas perahu; mereka begitu bingung melihat sikapnya yang begitu tenang dan hatinya begitu damai. “Tidakkah kau menyadari apa yang terjadi dengan kita? Apakah kau melihat apa yang terjadi dengan kita? “Tampaknya engkau tidak peduli,” kata mereka dengan penuh penasaran. Ibrahim kemudian mengangkat kepalanya dan menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban seorang yang percaya kepada Tuhannya yang tenggelam dalam cinta kepada-Nya: sungguh beruntung orang yang tidak siap untuk menghadapi hari seperti ini. Kemudian ia mengomat-ngamitkan lidahnya dan mengutarakan beberapa kalimat yang tidak kami pahamia sedangkan air mata tampak meleleh dari kedua pipinya. Lalu semakin menjadi-jadilah tangis dan teriakannya. Orang-orang yang ada di tempat itu melihat-melihat apa yang terjadi padanya. Tiba-tiba ada suara yang keras berkata: “Wahai penghuni perahu, mengapa kalian harus takut, sementara di antara kalian ada Ibrahim, wahai angin tunduklah engkau dan tenanglah, wahai lautan tenanglah engkau dengan izin Allah. Sesungguhnya engkau tidak bergerak kecuali dengan izin-Nya. Engkau adalah makhluk yang diperintah, tidaklah engkau mengetahui bahwa di permukaanmu ada Ibrahim.”

Tiba-tiba badai yang begitu keras berubah menjadi angin yang lembut dan tiba-tiba lautan yang bergelombang yang dahsyat pun menjadi tenang dan damai seakan-akan ia menjadi papan dari kayu lalu hilanglah rasa ketakutan dan dipenuhi rasa aman, sehingga para penumpang mencapai tujuannya masing-masing.

Jadi, Allah SWT mempunyai hamba-hamba yang istimewa yang seandainya mereka bersumpah atas nama Allah niscaya Dia akan mengabulkan sumpah mereka. Mudah-mudahan Allah merahmati Ibrahim yang meninggalkan bagi kita kenangan-kenangan yang baik dan warisan-warisan yang mulia, serta cerita-cerita yang akan melembutkan hati yang keras dan akan menyebabkan mata orang-orang pendosa akan berlinangan air mata dan akan membuat hati bergelora dengan cinta kepada Allah[3].

Konon, ada orang yang berkata kepada Ibrahim tidakkah engkau mau duduk bersama kami sehingga engkau menceritakan kepada kami apa yang engkau ketahui, beliau menjawab aku mau duduk bersama kalian ketika aku menyelesaikan tiga hal. Mereka bertanya, apa itu? Beliau menjawab, pertama ketika malaikat turun untuk menggambarku di rahim dan dia berkata, wahai Tuhanku, apa ia termasuk orang yang celaka atau bahagia? Aku tidak mengetahui apa jawabannya. Kedua, ketika malaikat turun untuk mencabut rohku dan berkata, wahai Tuhanku apakah ia mati atas keimanan atau atas kekafiran? Aku pun tidak mengetahui jawabannya. Ketiga, ketika penghuni surga masuk dalam surga dan penghuni mereka masuk dalam neraka, kemudian ada orang yang menyeru: wahai orang yang ada di surga, kalian di dalamnya kekal tanpa ada kematian, dan wahai penghuni neraka, di dalamnya kalian kekal tanpa ada kematian. Aku tidak mengetahui dalam kelompok mana aku berada [4].

Ibrahim bin Adham adalah waliyullah sejati. Beliau adalah seseorang yang hatinya dipenuhi dengan mahabbatullah (cinta kepada Allah) dan hatinya dijauhkan dari mahabatu dunya (cinta dunia). Ibrahim bin Adham mengalami revolusi batin setelah beliau melakukan renungan dan tafakur mendalam tentang tujuan penciptaannya. Ia sadar bahwa hidup bukan sekadar foya-foya dan berburu yang sia-sia. Hidup hakiki adalah menghidupkan jiwa dengan zikrullah dan membantu sesama. Apalah arti kekayaan dan kerajaan bila hanya untuk memuaskan hawa nafsu hayawaniah dan melupakan jati diri insaniah dan ilahiah.

Ya, marilah kita belajar dari Ibrahim bin Adham dengan menyadari asal usul diri kita dan menggunakan fasilitas dan nikmat Ilahiah di jalan yang diridhai-Nya. Sungguh perubahan batin terjadi ketika manusia merenungkan kekuasaan Allah dalam dirinya dan betapa besar karunia dan nikmat-Nya.


Catatan Kaki:

[1] Ibrahim bin Adham bin Mansur at-Tamimi al-Balkhi Abu Ishak, serorang zahid yang masyhur. Ayahnya adalah seorang kaya yang terkenal di Balakh. Beliau memperdalam agama dan merantau ke Baghdad (Iraq) dan Syam dan seterusnya ke Hijaz. Beliau banyak mengambil ilmu dari ulama-ulama di tiga negeri tersebut. Beliau mengambil dari sumbernya langsung dan banyak belajar dari imam-imam dari negara-negara tersebut. Banyak cerita yang berkenaan dengan beliau disampaikan yang sebagiannya terkesan simpang siur, juga terdapat perselisihan tentang tempat tinggalnya dan lematiannya. Yang tepat adalah bahwa beliau disemayamkan di Supnan di salah satu bagian di negeri Romawi. Adapun sumber-sumber biografinya dapat diketemukan dalam Hilyatul Auliya, juz 7 halaman 367 dan al-Bidayah Wal Nihayah, juz 10 halaman 135 dan al I’lam, juz 1 halaman 31.

[2] Sebab taubatnya terdapat dalam kitab “Sautul Mimbar”, yang merupakan kisah yang indah yang termasuk kisah yang paling menarik yang dapat menguatkan iman dan memperteguh keyakinan.

[3] Silakan Anda melihat kitab “at-Tawwabin”, karya Imam al-Maqdisi halaman 160.

[4] Kami telah menyebutkan sikap yang agung dari Ibrahim di hadapan orang yang bermaksiat di dalam kitab kami Samirul Mukminin, cetakan ketujuh halaman 268.

(Ikmal-Online/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Share this post :

Posting Komentar

ABNS Video You Tube

Terkait Berita: