Pesan Rahbar

Sekilas Doa Arafah Imam Husain as dan Doa Arafah Imam Husain as

Doa Arafah (Bahasa Arab: دعاء العرفة ) adalah diantara doa-doa Syiah yang menurut riwayat dibaca oleh Imam Husain as pada hari ke-9 Dzul...

Home » » Dari Baitutah di Mina Sampai Terjemahan Al-Quran/Kelalaian Hadiah Global Dengan Pengabaian Pihak Pengurus

Dari Baitutah di Mina Sampai Terjemahan Al-Quran/Kelalaian Hadiah Global Dengan Pengabaian Pihak Pengurus

Written By Unknown on Kamis, 05 Juli 2018 | Juli 05, 2018


Rasul Ismaelzadeh Duzal, penerjemah Alquran dalam bahasa Azerbaijan, mengatakan: "Terjemahan Alquran ke dalam bahasa Turki Azerbaijan adalah cerita yang menarik dari saya dan itu kembali ke beberapa tahun yang lalu (awal 1370-an) dan manasik haji di Mina.

Rasul Ismaelzadeh Duzal, penerjemah Alquran dalam bahasa Turki Azerbaijan dan kepala Pusat Pengorganisasian Penerjemahan dan Penerbitan Ilmu Islam dan Kemanusiaan, saat ini pada Organisasi Kebudayaan dan Komunikasi Islam, dalam sebuah wawancara dengan IQNA mengisahkan tentang perjalanan terjemahan Alquran, motivasi dan tujuannya serta pengabaian terjemahan di dalam negara dan kurangnya pengenalan dia pada komunitas Alquran dan masyarakat umum.

Rasul Ismaelzadeh menyatakan, terjemahan ini dimulai pada tahun 1993, dan selesai pada tahun 1998 setelah lima tahun. Terjemahan saya telah berulang kali dicetak ulang dan dicetak di pelbagai pasar dan telah dianugerahi World Book of the Year Award pada tahun 2007.

Dia menambahkan, terjemahan Alquran saya memiliki sebuah cerita yang menarik, dan kembali pada beberapa tahun yang lalu (1991) dan haji, pada manasik haji di Mina. Kisahnya adalah bahwa pada tahun 1991 saya melakukan perjalanan ke Baku. Suatu hari, Hujjatul Islam wal Muslimin Ocaqnejad saat kontak via telepon dengan suara terburu-buru mengatakan agar saya menemani para peziarah haji Azerbaijan. Saya pun terkejut. Saya memberitahunya kapan kita berangkat. Mereka mengatakan besok. Tidak ada waktu untuk melakukan prosedur yang diperlukan, seperti mendapatkan paspor. Sungguh menakjubkan semua berjalan lancar dan saya pergi ke Arab Saudi.


Kehilangan Bekal

Ismailzadeh mengatakan, kami menuju Mekah, selain berpartisipasi dalam program ziarah Mekah dan manasik haji, saya juga menemani para jamaah Azerbaijan. Hari-haripun berlalu, kami hadir di Masy’ar al-Haram memasuki Mina. Saya melakukan manasik yang ada di Mina seperti Baitutah dan berkorban. Saya hendak melaksanakan salat Zuhur dan Asar pada hari ketiga dan saya pun pergi ke Mekah. Di pertengahan salat, bekal (uang) saya terjatuh. Sayapun bergegas kembali dan menaiki kendaraan. Saya bergegas meninggalkan tenda. Di pertengahan jalan saya menyadari bekal saya telah hilang. Sayapun mengabarkan kepada rombongan bahwa bekal saya hilang. Saya sangat gelisah, sampai pada akhirnya di Masjidil Haram secara kebetulan saya bertemu dengan Ayatullah Sayyid Jawad Golpaighani (putra Ayutullah al-Udzma Golpaighani).


Dia melanjutkan, saya bertemu dengannya dari tahun-tahun sebelumnya. Karena bertepatan dengan insiden pembunuhan berdarah muslim Azerbaijan oleh Mikhail Gorbachev (pemimpin terakhir Uni Soviet) pada 20 Januari Hitam (1990) di Baku, Ayatullah Golpaighani telah memublikasikan pesan dan Ayatullah Sayyid Jawad Golpagani meminta saya untuk menerjemahkannya. Dari sinilah saya kenal dengannya. Dia pun menanyakan tentang kondisi saya yang khawatir. Dan sayapun mengkisahkan perihal yang terjadi. Ia menjawab dengan sedikit bergurau: "Semua datang ke sini dan melupakan perihal duniawi dan menggapai spiritualitas, Anda telah kehilangan perkara-perkara ini, namun anda juga masih ingin kehilangan urusan spiritualitas? Entah kenapa tanpa basa basi sayapun ingin meminjam uang darinya. Ia pun mengatakan, Anda adalah seorang ibnu sabil, bagaimana engkau hendak mengembalikan hutangmu? Kemudian terpikir oleh saya, jika saya tidak mampu mengembalikan, maka saya akan menerjemahkan risalah Ayatullah Golpaighani dalam Bahasa Turki Azerbaijan. Iapun akhirnya menyetujuinya.

Penulis dan penerjemah dari negara kami menyatakan: "Saya pergi ke kantor mereka pada hari yang sama, meminjam 1200 Rials Arab Saudi dan kembali ke hotel." Saya melihat bahwa saya telah dialokasikan 600 Rial dari Presidensi Haji Iran. Saya kehilangan 1000 Rials, tetapi saya memperoleh 1800 Rials. Saya membeli keperluan dan kembali ke Iran. Saya akan menyembunyikan perihal kehilangan tersebut. Saya tidak memberi tahu kepada siapa pun cerita ini. Tanpa berpikir untuk mengembalikan uang ke Haji Sayyid Jawad dan mencoba untuk melakukan ini, saya mulai menerjemahkan risalah Ayatullah Golpaighani karena saya tahu saya tidak dapat mengembalikan jumlah itu, saya mencoba menyelesaikan terjemahan siang dan malam, empat bulan lamanya tugas itu selesai. Itu untuk pertama kalinya bahwa risalah almarhum Ayatullah Agung Golpaighani diterjemahkan ke dalam Turki Azerbaijan dan dipublikasikan dengan huruf Sirilik (Rusia) dan Persia.


Langkah di Jalan Quran

Rasul Esmailzadeh mengatakan, setelah selesai, terjemahan saya bawa ke kantor Ayatullah Golpaighani. Selain Ayatullah menganggap lunas hutang saya, juga memberikan jerih payah terjemahan dan mengatakan, uang ini saya berikan dengan syarat Anda memulai terjemahan Alquran. Ini adalah saran yang berat, saya tidak berpikir sama sekali bahwa saya akan melakukan sesuatu tentang itu suatu hari nanti. Saya gemetar ketika saya mendengar tawaran ini. Saat itu masih muda dan kebanggaan muda saya tidak memungkinkan menolak tawaran dan di sisi lain, saya takut jika tidak mampu untuk melakukannya.


Penerjemah ini menyatakan: Saya pulang ke rumah dan memikirkan saran penerjemahan Alquran, dan saya berkonsultasi dengan sejumlah teman-teman saya, termasuk ustad Javad Heyat, seorang ahli bedah dan seorang dokter terkemuka, seorang Turkologist dan spesialis dalam bahasa dan sastra Turki Azerbaijan, yang merupakan ilmuwan sastra dan medis Iran yang terkemuka. Dia menyemangati saya. Saya juga berbicara dengan Ebad Mimizadeh, seorang penerjemah dan ahli bahasa dari bahasa Turki Azerbaijan dan dari para profesor terkemuka bahasa dan sastra Azerbaijan yang sekarang berada di Ardabil. Keduanya berjanji untuk membantu. Mereka membimbing dan mensuport.


Al-Baqarah, Awal Perjalanan

Ismailzadeh juga mengatakan: "Dengan melangkah pada terjemahan Alquran, saya pertama kali menerjemahkan surah al-Baqarah dan atas rekomendasi Ayatullah Sayyid Jawad Golpighani, saya menyodorkannya ke pusat terjemahan Alquran dalam berbagai bahasa (Transfiguration Institute), yang baru didirikan. Hujjatul Islam wal Muslimin Mohammad Naghdi, direktur pusat, menilai terjemahan melalui para ulama seperti Ayatullah al-Udzma Ja’far Subhani Tabrizi dan Hujjatul Islam Mehdipour, yang pada akhirnya terjemahan tersebut ditolak.


Ia melanjutkan, dengan ditolaknya terjemahan, saya sangat putus asa dan gelisah dan memutuskan untuk berhenti menerjemahkan, namun Hujjatul Islam Naghdi menganggp wajar dan menjelaskan pertama untuk terjemahan ini anda harus memilih metode sahihnya dan kemudian mengevaluasi sejumlah terjemahan-terjemahan yang ada. Iapun menyerahkan sejumlah metode terjemahan Alquran dan demikian juga seluruh terjemahaan yang ada di yayasan terjemahan wahyu, yang ada sekitar 200 macam. Hampir seluruh terjemaah sudah saya kaji dan saya pilah mana poin lemah dan kuatnya terjemahan tersebut dan dengan studi dan pengunaan riset Alquran, sayapun memulai terjemahan kembali dan saya sodorkan lagi dan pada akhirnya saya pun disuport. Ayatullah Hadi Marifat juga bekerjasama dalam hal ini dan dengan bantuan sejumlah ustad, saya akhirnya dapat merampungkan terjemahan sekitar lima tahun dan dipublikasikan.

Semua terjemahan telah dibaca dan ditelaah, terjemahan istimewa dipisahkan dan poin-poin lemah dan kuat seluruh telah saya tentukan dan dengan studi serta dengan bantuan kajian-kajian Alquran dan wawasan pengetahuan seluk beluk gaya dari berbagai terjemahan teks klasik dan buku referensi, akhirnya saya mulai program penerjemah tersebut dan setelah saya sodorkan bagian-bagian yang saya terjemahkan itu saya mendapat dorongan dan suport dari beberapa ustad. Hojatul Islam Mehdipour terpilih sebagai editor konten, bersamaan dengan Javad Heyat, penasihat sastra dan Ubad Mimyzadeh sebagai editor sastra terjemahan, Almarhum Ayatollah Mohammad Hadi Ma’rifat juga dalam bidang ini pernah bekerja sama dan dengan bantuan para ustad ini saya berhasil menyesaikan terjemahan ini selama 5 tahun dan kemudian saya publikasikan.


Pengabaian Lembaga Penyiaran

Dia juga mengisyaratkan kurangnya sambutan terjemahan di dalam negeri: Di dalam negeri, terlepas dari misi lembaga penyiaran negara kita dan pusat dakwah Alquran di bidang publikasi dan pengembangan ilmu Alquran, meskipun audien antusias dan menyambut, sayangnya untuk terjemahan ini di dalam negeri belum dilakukan. Lembaga-lembaga penyiaran sekuler semakin lebih banyak dan lebih khusus daripada lembaga-lembaga negara kita, yang memberikan informasi tentang perkembangan baru di bidang penerjemahan dan publikasi Alquran dalam berbagai bahasa dan interpretasi. Lembaga kita tampaknya asing dengan kegiatan semacam ini.


Rasul Esmailzadeh melanjutkan: Sayangnya, masalah distribusi karya ini juga terbengkalai dan terjemahan ini tidak didapatkan di lembaga-lembaga lainnya kecuali hanya lembaga terjemahan wahyu. Tidak ada satupun penerbit dan lembaga yang mendistribusikannya dengan baik, dan bahkan markas publikasi dan toko buku organisasi dakwah Islam. Karya ini tidak sampai ke para audien. Lembaga penyiaran seolah-olah tidak setuju dengan pemaparan terjemahan Alquran khusus terjemahan bahasa Turki sang penulis. Padahal sudah dilakukan surat menyurat dengan lembaga tersebut, namun belum ada tindakan apapun.

Ada beberapa alasan dalam hal ini: pertama, biaya penerbitan tinggi; oleh karena itu, tidak ada insentif bagi distributor dan penerbit untuk mendistribusikannya," kata penerjemah Alquran dalam bahasa Turki, menunjukkan alasan untuk ini. Kedua, penerbit bersedia untuk mencetak terjemahan Alquran dengan nama mereka sendiri dan sayangnya, untuk perealisasian ini, sangat disayangkan markas terjemahan wahyu tidak menyetujuinya. Ketiga, terjemahan Alquran ke dalam bahasa Azerbaijan Turki tidak didukung oleh institusi manapun. Satu-satunya Organisasi Budaya dan Komunikasi Islam mendedikasikan untuk penyebaran luas terjemahan Alquran dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Turki, tetapi tidak memiliki dukungan di dalam negeri. Alasan utama lainnya adalah kurangnya informasi melalui media suara dan informasi. Kami mengirim terjemahan ini ke pusat provinsi, tetapi hanya diberikan waktu dua menit untuk memperkenalkannya.


Rasul Ismaelzadeh menekankan, surat-surat telah dikirim ke lembaga-lembaga yang bertanggung jawab seperti Direktorat Jenderal Pendidikan Azerbaijan Timur, sebagai tanggapan terhadap surat-surat ini kepada Pusat Penerjemahan Wahyu, dan demi kemaslahatan saya tidak perlu untuk menyebutkannya. CD telah dihasilkan dari terjemahan untuk anak-anak, tetapi tidak diterima oleh Departemen Pendidikan di provinsi Azerbaijan Timur, bahkan kami mengumumkan sedang mempersiapkan untuk mengirim CD secara gratis untuk perpustakaan negara.


Terjemahan Wahyu, Pusat Ilmiah

Peneliti Alquran di bagian lain dari wawancara dengan menyatakan bahwa lembaga terjemahan telah setuju, mengatakan ruang untuk terjemahan Quran di berbagai negara, terutama di Eropa Timur, negara Turki dan Rusia sangat tepat; tetapi satu-satunya pusat dalam terjemahan dari urutan diterima, diinginkan dan ilmiah adalah lembaga terjemahan wahyu yang memiliki struktur ilmiah dan pokok dan perbendaharaan Hujjatul Islam Mohamad Reza Naghdi (direktur Institut juru wahyu) telah dikumpulkan dan disediakan di lembaga ini, adalah hal yang luar biasa di dunia dan tidak kita temukan di manapun semisalnya, karena minatnya pribadi dan subjektif, maka beliau ditunjuk untuk hal ini. Pusat ini harus memberi perhatian lebih.


Ismailzadeh melanjutkan, "Terjemahan di pusat ini tidak memiliki kecepatan di masa lalu dalam beberapa tahun terakhir, dan perlu untuk memperkuat institusi secara finansial dan secara komprehensif, dukungan semua aspek, koordinasi, informasi dan berkonsultasi. Perlu diberikan perhatian khusus untuk pengembangan administratif dan ilmiah terhadap pusat ini. Perhatian khusus harus diberikan pada kegiatan pusat di media. Sekarang, di dunia ruang untuk mengenalkan Alquran sudah tersedia, kesempatan ini harus digunakan. Pusat-pusat dan orang-orang hukum dan perorangan yang memiliki terjemahan lama harus bekerja sama dengan Pusat Terjemahan Wahyu.





(IQNA/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Share this post :

Posting Komentar

ABNS Video You Tube

Terkait Berita: