Pesan Rahbar

Sekilas Doa Arafah Imam Husain as dan Doa Arafah Imam Husain as

Doa Arafah (Bahasa Arab: دعاء العرفة ) adalah diantara doa-doa Syiah yang menurut riwayat dibaca oleh Imam Husain as pada hari ke-9 Dzul...

Home » , » Kenangan Perjalanan Pertama Masyhad Seorang Muallaf Fipilina: Saya Dapatkan Kebenaran Islam Dalam Tasayyu’ dan Mengakui Keabsahan Agama Islam Serta Beralih Memeluk Mazhab Syiah

Kenangan Perjalanan Pertama Masyhad Seorang Muallaf Fipilina: Saya Dapatkan Kebenaran Islam Dalam Tasayyu’ dan Mengakui Keabsahan Agama Islam Serta Beralih Memeluk Mazhab Syiah

Written By Unknown on Rabu, 03 Oktober 2018 | Oktober 03, 2018

Zeinab Havir asal Filipina

Zeinab Havir asal Filipina lahir di sebuah keluarga Kristen tetapi setelah penelitian dan studi yang luas ia mengakui keabsahan agama Islam dan beralih memeluk mazhab Syiah.

Menurut laporan IQNA, Zeinab Havir dari Filipina lahir di sebuah keluarga Kristen, tetapi setelah penelitian dan studi yang ekstensif, ia menjadi sadar akan kebenaran agama Islam dan beralih ke agama ini dan memeluk mazhab Syiah. Dia saat ini aktif di bidang memperkuat ikatan budaya antara kedua negara Iran dan Filipina, serta memperkenalkan agama Islam dan mazhab Syiah kepada masyarakat negara ini.

Zeinab Havir juga seorang sarjana Filipina. Dalam pembicaraannya dengan IQNA, menjelaskan bagaimana kemualafan dirinya, menjelaskan sejarah kehadiran Islam di negaranya dan hubungan antara dua bangsa Iran dan Filipina. “Saya dilahirkan di sebuah keluarga Kristen. Ayah saya seorang Katolik dan ibu saya seorang Protestan dan mereka memilihkan nama Maria Pamela untuk saya,” ucapnya.

Saya menghabiskan sekolah saya di sekolah Katolik di Filipina, tetapi di masa muda, saya belajar pelbagai agama dan setelah saya menemukan bahwa ajaran agama Kristen tidak dapat memenuhi kebutuhan rohani saya, setelah penelitian panjang tentang Islam, saya beralih ke agama ini sekitar 30 tahun yang lalu.


Agama yang Percaya dengan Wahyu

Dia menambahkan: "Setelah belajar, saya menemukan bahwa Islam percaya dengan wahyu melalui sumber surgawi dan 124.000 nabi telah diutus oleh Allah untuk membimbing umat manusia dan agama ini mengakui agama samawi lainnya. Kemudian, saya berkenalan dengan para mubaligh Syiah dan saya ikut berdakwah.

Dia lebih lanjut mengucapkan terima kasih kepada orang tuanya, yang telah mendukungnya untuk bebas memilih agama. "Alhamdulillah, sekarang empat dari delapan keluarga kami adalah muslim,” ucapnya.


Kegiatan Budaya

Zeinab Havir, seorang peneliti dan anggota Himpunan Persahabatan Perempuan Iran dan Filipina, dan markas "Perempuan Muslim untuk Perubahan", mengatakan: “Tujuan dari himpunan ini adalah untuk memperkuat ikatan budaya antara dua bangsa Filipina dan Iran; sejak tahun 1962 hubungan diplomatik telah dimulai di antara kedua negara, tetapi kami akan memperdalam hubungan ini dengan kedua himpunan ini melalui kerjasama budaya.”

Dia menambahkan, kedua lembaga tidak membatasi dirinya pada lingkup perempuan semata dan dalam aktifitas seperti simposium, seminar dan pameran, baik perempuan, serta laki-laki adalah audiennya dan mendapat sambutan dari kesemuanya.


Havir percaya bahwa baik masyarakat Iran dan Filipina percaya pada Allah dan ini adalah titik terbesar persamaan. Selain itu masyarakat Filipina, seperti orang Iran, peduli terhadap keluarga, menurutnya tujuan utama dari kedua lembaga ini adalah mengenalkan masyarakat kedua negara dengan kesamaan intelektual dan budaya satu sama lain.


Sejarah Islam di Filipina

Perempuan Filipina, dengan mengisyaratkan latar belakang sejarah Islam di negaranya, menekankan: secara historis, umat Islam telah hadir di Filipina sebelum orang-orang Spanyol datang ke Filipina pada abad ketujuh belas. Filipina dijajah oleh Spanyol dan Amerika Serikat dan dijajah sebentar oleh Jepang, tetapi Islam berakar di sini. Pada abad ke-15, ketika umat Islam tiba di negara itu, penduduk pribumi mengambil budaya mereka dan mampu menciptakan organisasi dan lembaga serta menjalin hubungan politik dengan negara lain, misalnya, dengan China dan Indonesia dalam hubungan politik dan bisnis, karenanya, saat orang-orang Spanyol datang ke negara ini, mereka kagum akan adanya organisasi-organisasi ini dan teringat dengan masa Islam di Spanyol. Dengan datangnya pendudukan Spanyol, orang memiliki dua pilihan, mereka dipaksa menganut Kristen dan atau terbunuh.

Dia menyatakan, Ada banyak kisah dimana mayoritas masyarakat bertaqiyah, tetapi masalahnya adalah generasi berikutnya tidaklah demikian.

Muslim yang tidak ingin berganti agama harus berjuang. Karenanya banyak yang terbunuh atau terpaksa pergi ke selatan untuk melanjutkan perlawanan. Ketika orang Amerika tiba di Filipina pada separuh pertama abad ke-20 dan orang-orang Spanyol menyerah kepada mereka, mereka takut akan perlawanan rakyat. Terjadi perang besar antara Muslim Selatan dan Amerika. Tetapi ketika kita melihat sejarah Filipina, pembahasan hanya ada di bagian utara negara dan tidak ada peristiwa-peristiwa tentang selatan. Dengan cara ini, para penjajah berusaha menjauhkan masyarakat satu sama lain.


Zeinab Havir mengatakan: “Padang Karbala" adalah sebuah wilayah di Marawi, di mana terjadi perang sengit antara muslim Moro dan Amerika, banyak pejuang muslim yang gugur dalam perang ini, tetapi tidak dalam tugu peringatan resmi, bahkan generasi baru tidak tahu banyak tentang hal ini. Mereka yang memegang kekuasaan menggunakan ketidaktahuan ini.”

Ironisnya, ada ungkapan yang marak di antara non-Muslim yang mengatakan bahwa Muslim yang baik adalah Muslim yang sudah mati; telah menyebarkan mentalitas ini di antara mereka. Orang-orang tidak tahu bahwa nenek moyang mereka adalah orang-orang yang beragama Islam.


Perjalanan Pertama ke Masyhad

Zeinab Havir memiliki kenangan yang mengesankan dari perjalanan pertamanya ke Masyhad. "Perjalanan pertama saya ke Masyhad adalah kebetulan, yaitu tanpa perencanaan sebelumnya," katanya. “Saya telah datang untuk berpartisipasi dalam konferensi Mahdisme. Konferensi itu di Teheran dan kami harus pergi ke Shiraz untuk menghadiri konferensi lain tentang Imam Mahdi (af). Ketika saya berada di bus, saya bertemu dengan keluarga Saudi yang berencana untuk melakukan perjalanan ke Masyhad, tetapi masih belum mendapatkan tiket untuk pergi ke Masyhad karena hari-hari sibuk pada bulan Syakban dan mereka sangat kesal. Sang ibu dari keluarga tersebut bertanya “Apakah kamu pernah pergi ke Masyhad?” Saya bilang belum. Ketika kami tiba di hotel, ia memberi salam kepada Imam Ridha (as) seusai salat Dhuhur. Saya berkata kepada diri sendiri bahwa ini adalah ketiga kalinya saya datang ke Iran dan saya tidak pergi menziarahi Imam (as).

Dia melanjutkan, "Setelah beberapa menit, ibu tersebut bergegas lari dan bergembira menemui saya dan berkata, " Kami akan ke Masyhad dan Anda harus datang." Saya bilang tidak, terima kasih saya tidak bisa datang. Mungkin saya akan pergi lain waktu. Dia bilang kamu harus datang! Sekarang putra saya menelepon dan mengatakan ada dua kursi kosong yang tersedia untuk Masyhad, dan jika Anda tidak berangkat, mungkin akan kehilangan tempat duduk. Dia mengatakan supaya tidak khawatir tentang pembayaran pesawat dan hotel. Di sisi lain, saya memberitahu dewan rombongan kalau kami juga ingin pergi ke Masyhad tetapi kami tidak menemukan hotel yang kosong. Saya menerima ini dan itu sangat menarik dan mirip sebuah keajaiban.


Kriteria Menarik Masyarakat Iran

Zeinab Havir di penghujung cerita menyebut cinta kepada Ahlulbait (as) merupakan kriteria paling menarik dari masyarakat Iran. “Kecintaan yang mendalam kepada Ahlulbait (as) adalah hadiah dari Allah kepada rakyat Iran; di Masyhad, saya melihat bahwa setiap orang dengan sukarela ingin mengabdi dan ini merupakan bukti cinta dan hasrat mereka kepada Ahlulbait (as). kalian memiliki Imam Khomeini (ra), kalian mencintai Alquran dan mencintai al-Qurba dan ini berdasarkan hadis Tsaqolain.”


(IQNA/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Share this post :

Posting Komentar

ABNS Video You Tube

Terkait Berita: