Pesan Rahbar

Sekilas Doa Arafah Imam Husain as dan Doa Arafah Imam Husain as

Doa Arafah (Bahasa Arab: دعاء العرفة ) adalah diantara doa-doa Syiah yang menurut riwayat dibaca oleh Imam Husain as pada hari ke-9 Dzul...

Home » , » Mengenal Jalaluddin Rumi: Gagasan dan Puisi Sufistiknya

Mengenal Jalaluddin Rumi: Gagasan dan Puisi Sufistiknya

Written By Unknown on Sabtu, 30 Desember 2017 | Desember 30, 2017


Rumi dan Puisi Sufistiknya

Beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Husain bin Ahmad al-Balkhi al-Qaunawi, ar-Rumi, Jalaluddin.

Beliau mengetahui fiqih al-Hanafi dan berbagai perselisihan pendapat serta bermacam-macam disiplin ilmu. Di samping itu, beliau juga seorang sufi sejati. Beliau dilahirkan di Balkh, Persia (Iran), kemudian beliau pindah bersama ayahnya ke Baghdad pada saat berusia empat tahun. Ayahnya sering menggembara dari satu negeri ke negeri yang lain, hingga kemudian beliau menetap di Quniyah pada tahun 623 Hijriyah.

Jalaluddin dikenal sebagai orang yang ahli fiqih dan menguasai berbagai ilmu keislaman lainnya. Sepeninggal ayahnya pada tahun 648 Hijriyah, beliau mengajar di Quniyah pada empat sekolah. Beliau adalah pengarang kitab “al-Mastnawi” dalam bahasa Persi yang cukup terkenal.

Cukup banyak pengikut tarekatnya. Dan akhirnya, beliau meninggal dunia di Quniyah dan pemakamannya sangat terkenal hingga hari ini.[1]

Pada abad ketujuh Hijriah, kaum Muslim mengalami kegoncangan pemikiran yang hebat yang dihembuskan oleh tersebarnya ilmu kalam (teologi) yang merupakan obor penggerak Muslimin. Badai kegoncangan itu sangat kuat sehingga memadamkan sendi-sendi hati.

Di tengah-tengah situasi yang tidak menyenangkan itu, bangkitlah Jalaluddin ar-Rumi dengan membawa pesan “cinta abadi”.


Pengaruh Dakwahnya

Akibat dari kebangkitan yang mengagumkan ini yang berasal dari sumber yang jernih, dunia Islam bangun dari tidur panjangnya dan kelalaiannya yang berbahaya, lalu timbullah kehidupan baru. Allah SWT berfirman : “Ia berkata: ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” (QS. Yasin: 78) “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang.” (QS. al-Ana`m: 122)

Syaikh ar-Rumi memperkenalkan mazhab cinta dan menyebutkan keajaiban-keajaibannya serta menjelaskan manfaat-manfaatnya, sehingga hati yang keras menjadi lunak dan jiwa yang gelisah menjadi tenang.


Manfaat-manfaat Cinta

Ar-Rumi menjelaskan manfaat-manfaat cinta dalam pernyataannya: “Sesungguhnya cinta abadi akan mengubah—dengan izin Allah SWT—yang pahit menjadi manis, tanah menjadi emas, kekeruhan menjadi kejernihan, sakit menjadi kesembuhan, penjara menjadi taman, penyakit menjadi kenikmatan, kekerasan menjadi kasih sayang, malam menjadi siang, kegelapan menjadi cahaya, dan kekerasan menjadi kelembutan. Cintalah yang melunakkan besi, mencairkan batu, dan membangkitkan orang yang mati serta meniupkan di dalamnya kehidupan yang baru.


Kekuatan Cinta

Sesungguhnya cinta inilah yang merupakan sayap yang dengannya manusia yang materialis mampu terbang di udara, dan dengannya ia sampai ke pangkuan Pencipta langit dan bumi. Cintalah yang mengantarkan seseorang dari tanah ke bintang Tsuraya dan dari alam yang keras ke alam yang lembut. Jika cinta ini melalui gunung yang kokoh maka gunung itu akan terhuyun, miring, dan bergoncang. Allah SWT berfirman: “Takkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.” (QS. al-A`raf: 143)


Keadaan Cinta

Cinta itu kaya dan tinggi. Ia tidak dapat dinilai dari sisi kedudukan, jabatan, dan kekayaan. Siapa yang merasakan cinta sekali saja maka ia tidak akan puas dengan kenikmatan lainnya.

Cinta menyebabkan seseorang tidak butuh kepada alam (segala sesuatu selain Allah—pen.) Jika terpikat dengan sang kekasih dan meniadakan yang lainnya dianggap suatu kegilaan maka aku adalah pemimpin orang-orang yang gila.


Penderita Cinta

Semua penderita penyakit pasti mengharapkan kesembuhan dari penyakitnya, kecuali penderita penyakit cinta yang justru berharap agar penyakitnya semakin “parah”. Mereka suka bila kepedihan dan penderitaan mereka meningkat. Oleh karena itu, aku tidak pernah melihat minuman yang lebih manis dari racun ini, dan aku tidak pernah menemukan kesehatan yang lebih baik dari penyakit ini.


Sesuatu Yang Hilang dan Fana Tidak Layak Dicintai

Pertanyaan penting yang harus segera dijawab ialah: kepada siapa gerangan cinta yang merupakan pelita kehidupan dan nilai manusia ini ditujukan? Sesungguhnya cinta abadi tidak layak ditujukan kepada sesuatu pun kecuali kepada sesuatu yang abadi, karena ia tidak tepat jika dinisbatkan kepada sesuatu yang hilang atau fana.

Cinta itu adalah hak Zat Yang Maha Hidup dan tidak mati, yang memberikan kehidupan atas semua wujud. Ar-Rumi berargumentasi atas hal tersebut melalui kisah Nabi Ibrahim as yang terekam dalam Al-Qur’an: “Aku tidak suka kepada sesuatu yang tenggelam (hilang).” (QS. al-An`am: 76)

Ya, madrasah Jalaluddin Rumi adalah madrasah cinta. Rumi lahir dari cinta,tumbuh dan berkembang karena cinta dan mengabdi serta berjuang untuk cinta dan tentu hidup untuk menebar cinta. Sehingga bisa dikatakan bahwa sekujur tubuh Rumi berisi dengan cinta. Rumi hidup karena cinta dan untuk cinta dan mati untuk mendapatkan cinta Ilahiah yang diidam-idamkannya.

Rumi menganggap bahwa saripati dari ajaran agama adalah cinta. Al-Quran adalah kitab cinta dan Nabi Muhammad saw adalah penebar cinta di tengah umat. Dan bagi Rumi, cinta dalah segala-galanya. Cinta adalah nyawa kehidupan dan tanpa cinta kehidupan tan bermakna. Dan pencinta akan melalui kehidupan dengan mudah dan mampu melewati pelbagai hambatan dengan penuh keyakinan dan kemantapan.


Berpegang Teguh Dengan Cinta

Wahai kekasihku, hendaklah engkau berpegang teguh dengan cinta ini yang abadi saat segala sesuatu akan musnah. Ia laksana matahari yang tidak akan hilang dan bunga yang mekar dan tidak pernah layu.

Wahai kekasihku, peganglah erat-erat cinta ini, yang berputar-putar di sisimu dan mampu memuaskan dahagamu.

Hendaklah engkau memperhatikan cinta ini yang telah dipraktekkan oleh para nabi dan orang-orang yang bertakwa. Maka, siapa saja yang mendapatkannya berarti ia mendapatkan semua kebaikan dan siapa saja yang tercegah darinya maka ia tercegah dari semua kebaikan.

Sesungguhnya cinta ini berjalan melalui tempat mengalirnya darah, bila ia diletakkan di tempatnya dan saat ia bertemu dengan keluarganya.


Pengaruh Cinta

Tampaknya cinta adalah suatu penyakit, namun ia justru menyelamatkan dari setiap penyakit. Jika seseorang menderita penyakit ini maka ia tidak akan pernah mengalami penyakit lain. Ia adalah kesehatan rohani, bahkan hakikat kesehatan, dimana para penggila kenikmatan akan membelinya meskipun dengan mengorbankan kesenangan dan kenyamanan mereka.

Sebagian mereka berkata: “Kita berada dalam kenikmatan yang sekiranya para penguasa mengetahuinya niscaya mereka akan menghunuskan pedangnya kepada kami.


Keunikan Cinta

Sesungguhnya cinta yang suci dan tinggi ini mampu mengantarkan manusia ke tempat yang tidak bisa dicapai oleh ketaatan dan mujahadah. Aku tidak melihat ketaatan yang lebih baik dari “dosa” ini bagi orang yang menamakannya dosa.

Tahun-tahun dan jam-jam yang berlalu tidak sebanding dengan jam-jam cinta; karena amal dengan yang lainnya biasanya menjadi akibat, sedangkan cinta tidak dapat dimasuki oleh sebab apa pun dan tidak menerima penipuan selamanya.


Syahid Cinta

Sesungguhnya darah yang mengalir di jalan-Nya tidak diragukan kesuciannya. Sebab, syahid cinta tidak perlu dimandikan. Yang demikian itu karena darah syuhada lebih baik daripada proses bersuci (thahur).

Menurut hemat saya, ini adalah ungkapan yang paling indah dan paling dalam. Maka, apakah ada kesyahidan—dengan berbagai bentuknya—yang menyamai dari sisi keutamaan dan besarnya pahala kesyahidan para pecinta? Orang-orang yang mati karena panah cinta, mereka mati sebagai “korban cinta” dalam rangka membela Kekasih yang menguasai hati mereka. Mereka siap meniadakan selain-Nya, sehingga mereka menggapai keinginan mereka setelah mereka mempersembahkan jiwa mereka.


Hukum-hukum Para Pecinta

Sesungguhnya para pecinta yang mengorbankan jiwa mereka, yang mata mereka bergadang, dan kaki mereka tampak kokoh—siang dan malam—di depan pintu Kekasih mereka, semata-mata mengharap ridha-Nya dan berpaling dari selain-Nya, tidak dapat diterapkan atas mereka hukum-hukum umum. Atau dengan kata lain, mereka tidak tunduk terhadap sistem tertentu.

Seorang penyair berkata:

Jika pecinta berbuat satu kesalahan, maka kebaikannya akan datang seribu kali lipat

Jalaluddin ar-Rumi mempunyai perumpamaan yang menarik dalam hal ini, dimana ia berkata:

“Sesungguhnya suatu desa yang rusak tidak akan dikenakan kepadanya pajak dan upeti. Begitu juga para pecinta, ketika hati mereka bersemi dengan adanya cinta kepada Kekasih mereka lalu rusak dengan adanya cinta kepada selain-Nya, maka terdapat hukum-hukum khusus yang sesuai dengan kedudukan mereka.”


Negara Para Pecinta

Sesungguhnya cinta adalah kerajaan para raja, dimana tunduk kepadanya tawanan para raja, dan ditetapkan untuknya mahkota mereka, bahkan para raja mengabdi kepadanya laksana budak.

Jiwa para raja—yang mereka menguasai jiwa—tunduk kepadanya. Ketika Jalaluddin menyebutkan kefakiran yang parah dan cinta yang penuh cemburu ini, maka ia mengalami kegoncangan lalu ia memanggil dengan suara yang sangat keras: Semoga Allah “memberkati” penyembah materi dan penyembah fisik dalam kerajaan mereka dan harta mereka, karena kami tidak bersaing sedikit pun dengan mereka. Yang demikian itu karena kami adalah tawanan negara cinta yang tidak akan musnah dan tidak akan berubah.

Menurut pendapatku, inilah kerajaan yang tak tertandingi dan negara yang dikuasai oleh ulama-ulama Ilahi, tanpa ada pesaing dan penentang. Dengan kecintaan mereka yang dalam, dan ketertarikan mereka yang sempurna, serta gelora asmara mereka yang mengebu-ngebu, mereka naik ke “tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuas.” (QS. al-Qamar: 55) Itu adalah negara yang tidak akan pernah hancur dan kerajaan yang tidak akan pernah hilang serta cinta abadi yang tidak akan sirna.


Tidak Ada Alasan Untuk Putus Asa

Namun pecinta yang ambisius tidak selayaknya mengadukan kelalaiannya dan menghina dirinya dengan beralasan pada ketingggian Sang Kekasih dan keagungan kedudukan-Nya serta ketidakbutuhan-Nya kepada makhluk. Tidak sepantasnya ia berkata: “Betapa jauh jarak antara tanah (manusia—pen.) dan Tuhan Pemelihara!”

Sesungguhnya Kekasih sejati suka untuk dicintai, dan Ia akan menarik kepada-Nya orang-orang yang tertarik. Allah SWT berfirman: “Allah menarik kepada-Nya orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali kepada-Nya.” (QS. asy-Syura’: 13)

Dengan penuh semangat, ia berani berkata: Jangan engkau mengira bahwa tidak ada jalan menuju Raja Yang Agung, dan aku adalah hamba yang hina, karena Raja Yang Mulia memanggil hamba-Nya dan memudahkan baginya bebagai jalan menuju-Nya.

Secara lahiriah tampak penderitaan dan keletihan namun secara batiniah terdapat obat dari segala penyakit.

Kemudian ia kembali menyayikan “lagu cinta” ini dan memujinya dalam kegembiraan dan berkata: Penyakit yang pengobatannya sulit dan penderitanya mengalami keletihan dan siksaan, namun bila ia mampu bersabar dan menanggung derita tersebut, maka ia akan mencapai makrifat yang hakiki dan abadi.

Sesungguhnya cinta bersumber dari hati yang luka dan hancur. Ia adalah penyakit yang tidak serupa dengan penyakit lainnya. Meskipun pada dasarnya ia penyakit, namun ia adalah obat dari segala penyakit psikis dan penyakit moral: seperti dengki, cinta kedudukan, cinta dunia, dan ketergantungan kepada hawa nafsu.


Catatan Kaki:

[1] Referensi-referensi biografinya:

1. al-A`lam, karya Zirikli (7/258)

2. al-Jawahir al-Mudhi`ah (2/123)

3. Miftah as-Sa`adah (2/145)

Juga silakan Anda merujuk kitab “Rijal al-Fikr wa ad-Da`wah, karya Allamah Abul Hasan an-Nadwi, juz pertama, halaman 359-370.

(Ikmal-Online/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Share this post :

Posting Komentar

ABNS Video You Tube

Terkait Berita: