Pesan Rahbar

Sekilas Doa Arafah Imam Husain as dan Doa Arafah Imam Husain as

Doa Arafah (Bahasa Arab: دعاء العرفة ) adalah diantara doa-doa Syiah yang menurut riwayat dibaca oleh Imam Husain as pada hari ke-9 Dzul...

Home » » Nazmi Luqa: Cendekiawan Kristen Hafiz Quran dan Pecinta Imam Ali

Nazmi Luqa: Cendekiawan Kristen Hafiz Quran dan Pecinta Imam Ali

Written By Unknown on Jumat, 15 Juni 2018 | Juni 15, 2018


Nazmi Luqa George (1920-1987), seorang cendekiawan terkemuka pengikut Kristen dan sarjana sastra Mesir, pada usia 9 tahun, berhasil menghafal seluruh Alquran dan sejumlah hadis Nabawi dan termasuk salah satu pecinta Imam Ali (as).


Menurut laporan IQNA, Nazmi Luqa adalah seorang ulama terkemuka pengikut Kristen, filsuf dan ulama Mesir yang lahir pada tahun 1920 di Damnaghur, provinsi Buhayrah, Mesir, dan meninggal pada tahun 1987 di Kairo.

Nazmi Luqa Georges, meskipun ia adalah seorang Kristen, namun dididik di bawah pengawasan para cendekiawan muslim, sehingga pada usia sembilan tahun, ia telah menghafal Alquran dan sejumlah hadis Nabawi, dan ini kemudian menyebabkan ia memiliki karya-karya berharga di bidang Nabi Muhammad (saw) dan agama Islam.

Pemikir Mesir ini memiliki atensi khusus kepada Imam Ali (as), dan buku-bukunya tentang sirah Nabi sangat dipercaya dan disetujui, karena meskipun ia seorang Kristen, namun ia menjaga keadilan dan kekristenannya tidak mencegahnya untuk tidak menuliskan tentang Islam dan Rasulullah (saw), sementara dalam tulisan-tulisannya terpancar rasa cinta dan hasrat khusus kepada Nabi saw.

Saat berusia 6 tahun, dia sering pergi ke sebuah masjid di kota Suez Mesir, sampai akhirnya dia merampungkan hafalan Alquran pada usia 9 tahun, dan dia menimba ilmu dalam bidang bahasa Arab dan balaghah dengan Syaikh Sayyid al-Bukhari. Sementara terkait belajar bahasa Arab, ayahnya percaya bahwa anaknya harus belajar bahasa Arab dengan para ustad yang fasih berbahasa dan retorika, oleh karena itu, imam jamaah masjid Suez, menurut pandangan Ayahnya memenuhi kriteria yang diperlukan.

Kehadiran kontinu Nazmi Luqa di masjid dan pembelajaran ajaran Islam menyebabkan kecintaan kepada Nabi (saw) dalam dirinya, yang menyebabkan 30 tahun hidupnya digunakan untuk menulis tentang sirah Nabawi dan ajaran-ajaran Islam.

Setelah lulus tahap awal di kampung halamannya, Nazmi Luqa merampungkan sekolah menengahnya di Alexandria, Mesir, dan kemudian memperoleh gelar sarjana dari Universitas Kairo, dan kemudian ia melanjutkan S2 dan menerima gelar sarjana di sekolah hukum Prancis di Kairo. Ia kemudian melanjutkan studi pasca sarjana dan mendapat gelar PhD dalam bidang filsafat. Dia menjadi guru di sekolah menengah di Suez dan Alexandria untuk beberapa waktu, dan kemudian terpilih sebagai profesor filsafat di Fakultas Pelatihan Guru dan Fakultas Sastra di Universitas Ain Shams Mesir. Anggota Asosiasi Internasional Al-Qalam Mesir, Persatuan Penulis Arab dan Persatuan Penulis Mesir adalah salah satu kehormatan lain dari cendekiawan Kristen Mesir ini.


Nazmi Luqa mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk melawan ketidaktahuan dan fanatisme, dan ia melakukan upaya besar untuk menghilangkan buta huruf pemikiran terhadap Islam dan Nabi Muhammad (saw), karena ia percaya bahwa bahaya fanatisme buta mengancam masyarakat, karenanya, ia telah menulis beberapa karya tentang sirah Nabawi, termasuk "Muhammad; Al-Risalah wa al-Rasul; "Muhammad fi Hayatihi al-Khasah: Muhammad, dan kehidupan pribadinya"; "Wa Muhammadah", dan " Allah, Insan dan Nilai".

Nazmi Luqa termasuk salah seorang murid Abbas al-Akkad (seorang sejarawan dan pemikir, yang dikenal sebagai tokoh utama pemikiran Arab), dan di samping studi Islam ia juga menulis di bidang filsafat dan sastra Arab.

Selama masa hidupnya, ia menemui banyak fanatisme, kesalahpahaman, dan was-was, namun ia menghadapi semuanya dengan kesabaran dan berpegang dengan pola pikirnya sendiri. Dia menganggap dirinya sebagai seorang agamis yang benar yang jauh dari penampilan dan berkata dalam biografinya: "Kadang-kadang saya melihat kondisi diri saya seperti seseorang yang memiliki arang yang meleleh di tangan."


Dia memperkenalkan Islam dengan menggunakan ayat-ayat Alquran, hadis dan sirah Nabawi sebagai "agama kemanusiaan" dan dalam karya-karyanya menjelaskan posisi agama ini tentang Tuhan, manusia, kenabian, Hawa, pernikahan, sistem pemerintahan dan hubungan masyarakat. Dia juga percaya bahwa Islam adalah pengumpul antara hati dan akal, dan tidak membedakan antar etnis.

Ia menggambarkan rahasia minatnya kepada agama Islam. “Saya menanyakan kepada seseorang yang menganggap tidak adil mencintai seorang dari agama lain, mengapa ia harus menzalimi dirinya sendiri dan memaksakan penyangkalan keutamaan pada dirinya sendiri? Maksudnya dari penjelasan ucapan ini adalah tidak mengindahkan keutamaan-keutamaan Nabi saw adalah sejenis kezaliman, sementara orang tersebut melakukan untuk dirinya sendiri,” ucapnya.

Menurutnya, Yahudi adalah agama satu bangsa tertentu, dan itu bukan agama yang membimbing semua orang.

Cendekiawan Mesir ini juga menulis tentang agama Kristen: "Ajaran kristen tidak hanya mengajak masyarakat untuk bertauhid, bahkan kecintaan yang luhur, yang memperkenalkan jiwa seluruh manusia menuju-Nya, jadi kita melihat bahwa agama Kristen adalah agama hati umat manusia. Karenanya, orang-orang membutuhkan agama baru yang menyatukan hati dan akal dan menciptakan persatuan antar bangsa dan mengatasi kebutuhan fisik dan mental mereka, dan itu adalah agama Islam."

Di penghujung, perlu disebutkan bahwa studi tentang budaya dan ajaran-ajaran Islam dari para sarjana muslim dan menghadiri masjid dan penggunaan ajaran-ajaran suci murni Alquran menyebabkan Nami Luqa Georges memiliki pandangan yang adil tentang Islam dan Nabi (saw), dan termasuk sederetan ilmuwan Kristen yang telah menulis sebuah buku dengan pandangan yang adil tentang Islam dan Nabi Muhammad (saw).

(IQNA/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Share this post :

Posting Komentar

ABNS Video You Tube

Terkait Berita: